PENGALAMAN akan kasih adalah kondisi batiniah. Ketika kasih hadir aku bahagia, hidup dan bebas. Aku merasa senang tentang diri sendiri dan senang tentang kehidupan. Sementara aku membawakan pengalaman Kasih ke dalam kehidupanku, ”oh, indahnya, kehidupan bekerja tanpa upaya dan hal-hal besar terjadi.
Lawan dari Kasih adalah ketakutan dan kegelisahan, ketika ketakutan dan kegelisahan hadir dalam hidupku.
Aku kehilangan kreativitas dan kemampuanku untuk melihat dengan jelas. Aku mengalami visi terowongan sampai aku berinteraksi dengan cara yang hampir menjadikan situasi ku memburuk!
Sejenak ku terdiam dan berpikir, “entah aku hidup dalam kondisi kasih atau kondisi kegelisahan, ternyata itu bukan tergantung pada keadaanku, melainkan pada bagaimana aku menafsirkan keadaanku.
“Ya, cara yang baik untuk melihat ini adalah dengan mempelajari kegelisahan.
Ketika aku teringat arti kegelisahan, yang memberi arti bahwa “kegelisahan disebabkan oleh sikap Anda yang menolak dan melawan apa yang terjadi.” Untuk melihat hal ini dalam kehidupan Anda, pilihlah kegelisahan yang baru terjadi, sekarang perhatikanlah apa yang terjadi, selandainya Anda berdiam dengan apa yang terjadi tersebut apakah tidak akan ada kegelisahan ?
Kini kusadari tidak akan ada kegelisahan, sebab kegelisahan bukan disebabkan oleh apa yang terjadi, melainkan kegelisahan disebabkan oleh sikap aku yang melawan dan menolak apa yang terjadi. Ya, begitu aku tidak lagi melawan dan menolak, kegelisahan pun menghilang.
Karena itu, untuk mengalami kasih dan menciptakan kehidupan yang efektif , aku perlu berhenti melawan dan menolak. Aku coba melakukannya melalui proses yang disebut merelakan.
“Pertama memang agak sulit sih, tapi kulakukan itu dengan keikhlasan dan dengan seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya proses merelakan itu membawa aku mengalami kebahagiaan.
Proses merelakan membawa arti dalam hidupku, yang memiliki makna bahwa, “merelakan adalah tindakan batiniah yang melepaskan ketakutan dan kegelisahan”.
Begitu aku merelakan, segalanya tampak berubah. Dengan lenyapnya ketakutan dan kegelisahan, aku memandang situasi aku dengan sangat berbeda.
Aku menjadi kreatif dan menemukan solusi-solusi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku tidak berhenti sampai di sini saja, untuk merelakan, aku perlu melakukan kebaikan dari melawan dan menolak.
“Ya, aku perlu merelakan tuntutan dan harapan aku tentang bagaimana seharusnya kehidupan berjalan dan berdamai dengan kehidupan.
“Kini kucoba belajar dengan menemukan apa yang aku tolak, lalu memberikan izin yang penuh bagi keberadaannya.
Kalau aku takut kehilangan suatu hubungan aku bersedia menerimanya, dan kalaupun aku menolak cara hidup seseorang, aku pun mengizinkan orang tersebut untuk hidup seperti itu.
Semua itu kulakukan dengan sikap yang rela terhadap apa pun.’’ Ya, dengan belajar membebaskan diri sendiri, lalu mengambil setiap tindakan apa pun yang perlu di ambil untuk menjadikan kehidupanku menjadi yang lebih baik dan hebat.
Oh, ternyata tidak semuda itu ? saya kutip tulisan dari buku “Life” yang diterbitkan Classic Press mengatakan,’’ ingatlah bahwa merelakan adalah suatu kondisi pikiran dan tidak ada hubungannya dengan tindakan Anda.
“Kata-kata ini mengingatkanku kembali, merelakan adalah proses menghilangkan ketakutan dan kegelisahan sehingga aku dapat melihat tindakan apa yang perlu di ambil.
Hal ini mengajakku melihat sisi yang lain, bahwa dalam hati, aku bisa rela kehilangan seseorang. Tapi dalam tindakan kulakukan segalanya semampu aku untuk memastikan orang tersebut merasa begitu dikasihi sehingga ia tidak pernah mau pergi meninggalkan aku.
Dengan mudah ku melakukan proses merelakan ini, yaitu lewat langkah-langkah sebagai berikut.
“Pertama Percaya, bahwa apa pun yang terjadi Tuhan bersama-sama dengan kita.
Artinya percaya bahwa aku akan baik-baik saja.
Ketika aku tahu aku akan baik-baik saja, merelakan menjadi relatif mudah.
“Ya, percaya juga berarti mengatakan yang sebenarnya. “aku akan baik-baik saja apapun yang akan terjadi.
Kehidupan hanya mengancam ketika aku menolak. Jadi aku berhenti menolak dan aku percaya, Percaya bahwa apa pun yang terjadi, “aku akan baik-baik saja.
Kedua, dalam proses merelakan aku bersedia merasakan kepedihan.
“Ya, bersedia merasakan kepedihan dan perasaan tidak nyaman yang di picu oleh keadaan.
Jangan menghindar dari kepedihan. Karena itulah yang membuat aku menolak.
Begitu aku bersedia merasakan kepedihan itu, kebutuhan untuk menolak pun lenyap. Maka aku bisa merelakan.
Misalnya, ketika aku ketakutan kehilangan orang yang aku sayangi. Aku melakukan segala cara untuk memastikan bahwa dia tidak akan pergi meninggalkan aku.
Aku menolak kenyataan ini, dengan terus berpegang erat padanya sehingga memicu segala kepedihanku dan merasa tidak layak dikasihi.
Untuk menghindari kepedihanku aku terus berpegang erat padanya, ternyata aku salah!
“Begitu aku bersedia merasakan kepedihan tersebut, kehilangan orang yang aku sayangi tidak lagi menjadi ancaman buatku.
Aku tidak perlu berpegang erat lagi padanya, bukan berarti aku melupakan. Tapi semua kenangan dan kebersamaan yang pernah tercipta akan selalu aku kenang dan menjadikan ini sebagai motivasi hidupku.
Begitu hal ini terjadi dalam hidupku, aku mengubah cara hidupku dengan sebuah “harapan” dan “mensyukuri” segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku.
“Inilah yang terjadi dalam kehidupan, semakin aku mampu merelakan dan mengalir bersama kehidupan. Kehidupan itu akan semakin lancar.
Aku belum tentu mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi aku selalu bebas dalam hati. Aku bisa memulihkan kedamaian pikiran dan keefektifan aku. Serta aku bisa menciptakan kehidupan yang efektif, karena aku belajar untuk Merelakan. (**)
[Penulis adalah Dosen di salah satu Kampus ternama di Sulawesi Utara]





