Rote Ndao,Sulutnews.com – Mimpi meraih pendidikan tinggi melalui beasiswa bagi masyarakat miskin di Kabupaten Rote Ndao, termasuk bagi mahasiswa Universitas Nusa Timor (UNSTAR) Rote Ndao, tampaknya masih jauh dari kenyataan. Harapan yang sempat membumbung tinggi kini meredup, terbungkam oleh realitas yang pahit.
Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, dalam berbagai kesempatan telah menegaskan bahwa program beasiswa di Kabupaten Rote Ndao diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu dan berprestasi, bukan untuk anak pejabat. Bahkan, dalam pidato sambutannya sebagai Bupati Rote Ndao periode 2025-2030, Paulus Henuk menekankan pentingnya pendidikan sebagai pilar utama pembangunan daerah dan berkomitmen untuk menyediakan beasiswa bagi mereka yang membutuhkan.
Program Beasiswa “Mbule Sio” yang digadang-gadang sebagai solusi pemerataan akses pendidikan, memiliki tujuan mulia, yaitu memberikan akses pendidikan yang lebih merata bagi keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dan mendorong siswa-siswi berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sasaran program ini jelas, yaitu anak-anak kurang mampu dan berprestasi di Kabupaten Rote Ndao. Prioritas diberikan kepada masyarakat yang anaknya mampu secara akademis namun tidak mampu secara ekonomi, dengan larangan bagi anak pejabat untuk menerima beasiswa.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Keluhan demi keluhan bermunculan, mengindikasikan bahwa dana beasiswa lebih banyak dinikmati oleh anak-anak pejabat. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas implementasi program beasiswa “Mbule Sio”. Apakah program ini benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan, atau justru menjadi lahan basah bagi kalangan tertentu?
Mahasiswa UNSTAR Rote Ndao yang berasal dari keluarga kurang mampu, menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak dari ketidaktepatan sasaran program beasiswa ini. Mereka yang seharusnya menjadi prioritas, justru terpinggirkan. Harapan untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui beasiswa, kini terasa semakin jauh, terhalang oleh tembok birokrasi dan kepentingan pribadi.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat lebih serius dalam mengawasi dan mengevaluasi implementasi program beasiswa ini,” ujar salah seorang mahasiswa UNSTAR Rote Ndao yang enggan disebutkan namanya. “Jangan sampai program yang seharusnya menjadi harapan bagi kami, justru menjadi sumber kekecewaan dan ketidakadilan.”
Kisah pilu mahasiswa UNSTAR Rote Ndao ini menjadi potret buram dunia pendidikan di daerah ini. Janji-janji manis tentang pemerataan akses pendidikan, terasa hambar di tengah realitas yang penuh dengan ketidakadilan. Sampai kapan harapan ini akan terus pupus?
Reporter: Dance Henukh







