Warga mengantre untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina Metina, Kelurahan Metina, Kabupaten Rote Ndao, Rabu (21/10/2026). Antrean ini menggambarkan situasi pelayanan BBM di tengah persoalan kelangkaan yang dikeluhkan masyarakat. Foto: Dance Henukh
Rote Ndao.Sulutnews.com –Matahari belum terlalu tinggi ketika deretan kendaraan mulai memenuhi area pelayanan bahan bakar minyak (BBM). Sepeda motor dan mobil berjajar, sementara para pengendara menunggu giliran dengan satu harapan sederhana: mendapatkan BBM agar bisa melanjutkan aktivitas hari itu.
Bagi sebagian orang, antrean mungkin hanya persoalan menunggu beberapa saat. Namun, bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas harian, setiap menit yang berlalu memiliki arti.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja, mengantar keluarga, berdagang, atau menjalankan usaha justru tersita di tengah ketidakpastian.
Di Kabupaten Rote Ndao, persoalan kelangkaan BBM pun bukan sekadar urusan kendaraan yang belum terisi. Di balik antrean, ada aktivitas ekonomi yang berpotensi terganggu, tenaga yang terkuras, dan masyarakat yang membutuhkan kepastian pelayanan.
Ketika Antrean Mengalahkan Waktu untuk Mencari Nafkah
Bayangkan seorang pengemudi yang harus mengisi BBM sebelum mulai bekerja. Ia berangkat dengan harapan bisa segera melayani penumpang atau mengangkut barang. Namun, ketika tiba di SPBU, antrean panjang membuat rencananya berubah.
Waktu terus berjalan. Pekerjaan belum dimulai, sedangkan kebutuhan rumah tangga tetap menunggu.
Situasi serupa dapat menjadi beban bagi pedagang kecil yang harus bergerak untuk membeli barang dagangan, petani yang membutuhkan kendaraan untuk menunjang pekerjaan, maupun warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan BBM.
Bagi nelayan, ketersediaan bahan bakar juga dapat memengaruhi persiapan melaut. Ketika BBM tidak mudah diperoleh, kegiatan ekonomi yang bergantung pada transportasi dan mesin berisiko ikut terhambat.
Kisah-kisah tersebut menggambarkan bagaimana persoalan distribusi BBM dapat meluas menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Meski dampaknya berbeda pada setiap keluarga, masyarakat membutuhkan hal yang sama: akses BBM yang dapat diandalkan.
Bukan Hanya Antrean, tetapi Juga Biaya dan Ketidakpastian
Antrean panjang berpotensi menambah beban masyarakat. Waktu perjalanan bertambah, aktivitas menjadi tertunda, dan biaya operasional dapat meningkat, terutama bagi mereka yang harus kembali mencari BBM ketika persediaan tidak mencukupi.
Persoalan menjadi semakin rumit apabila masyarakat tidak memperoleh informasi yang jelas mengenai ketersediaan stok maupun jadwal pasokan berikutnya.
Warga akhirnya menghadapi dua ketidakpastian sekaligus: apakah BBM tersedia dan berapa lama mereka harus menunggu.
Dalam kondisi seperti ini, keterbukaan informasi menjadi penting. Masyarakat perlu mengetahui kondisi pasokan, jadwal distribusi, serta mekanisme pelayanan yang berlaku agar dapat merencanakan aktivitas dengan lebih baik.
Antrean tidak boleh dianggap sebagai pemandangan biasa yang harus diterima masyarakat setiap kali pasokan terganggu. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebab dan langkah penanganan yang tepat.
## Bupati Bicara Perubahan Sistem
Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam audiensi Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, bersama wartawan di ruang kerjanya, Rabu (21/10/2026).
Dalam pembahasan mengenai kelangkaan BBM, arah penyelesaian tidak hanya bertumpu pada penambahan pasokan, tetapi juga pembenahan tata kelola distribusi.
Sepuluh langkah perubahan menjadi sorotan, antara lain evaluasi kontrak SPBU, penguatan pengawasan, pelibatan pemerintah kecamatan dan desa, pengaturan pelayanan, serta pembenahan rantai pasok dari kapal menuju agen.
Langkah tersebut penting karena persoalan BBM perlu dilihat secara menyeluruh. Ketersediaan stok, ketepatan pengiriman, kebutuhan masyarakat, dan efektivitas pengawasan harus berjalan beriringan.
Namun, masyarakat tentu menantikan lebih dari sekadar rencana.
Mereka ingin mengetahui apakah perubahan tersebut akan membuat antrean lebih terkendali, apakah pasokan semakin terjamin, dan apakah pelayanan menjadi lebih mudah dijangkau oleh warga di wilayah pelosok.
## Rakyat Tidak Seharusnya Terus Menunggu
Pada akhirnya, antrean BBM bukan hanya soal kendaraan yang bergerak perlahan menuju dispenser pengisian. Di sana ada waktu masyarakat yang harus dihargai, pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada penghasilan harian.
Karena itu, pemerintah daerah, Pertamina, pengelola SPBU, dan pihak terkait perlu memastikan bahwa setiap langkah perbaikan memiliki target yang jelas serta dapat dievaluasi secara terbuka.
Penambahan pasokan harus disertai distribusi yang tertib. Pengawasan harus berjalan konsisten. Informasi ketersediaan BBM perlu disampaikan secara transparan.
Sebab, rakyat tidak hanya membutuhkan BBM untuk menggerakkan kendaraan. Mereka membutuhkan kepastian agar roda kehidupan dan ekonomi keluarga tetap berjalan.
Jangan sampai waktu yang seharusnya digunakan masyarakat untuk mencari nafkah terus habis di antrean yang sama.
Kini, yang ditunggu masyarakat Rote Ndao bukan sekadar janji perubahan, melainkan bukti bahwa sistem distribusi BBM benar-benar dibenahi.






