KOLTIM, SULUTNEWS.COM – Api membakar sekitar 20 hektare lahan di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara, Rabu (26/8/2026) malam. Babinsa Koramil 1412-01/Tirawuta bersama polisi dan warga langsung mendatangi lokasi untuk mengendalikan kobaran.
Warga melihat api sekitar pukul 18.05 WITA di Desa Wesalo, Kecamatan Lalolae. Mereka kemudian melaporkan kebakaran tersebut kepada aparat.
Warga yang melintas di sekitar Desa Wesalo melihat kobaran api mulai membesar. Mereka segera menyampaikan informasi tersebut kepada aparat setempat.
Mendapat laporan itu, Babinsa Koramil 1412-01/Tirawuta langsung berkoordinasi dengan personel Polres Koltim, Polsek Lalolae, dan warga.
Tim kemudian bergerak menuju lokasi sambil membawa alat semprot manual.
Babinsa Desa Wesalo Serka Zet Charles ikut menangani kebakaran di lapangan. Ia bersama warga dan personel kepolisian menghadapi akses menuju lokasi yang cukup sulit.
“Meskipun akses menuju lokasi cukup sulit, kami bersama warga dan personel kepolisian terus berupaya memadamkan api. Kami tidak ingin api meluas ke area lain, sehingga pemadaman dan pemantauan terus dilakukan sampai kondisi benar-benar aman,” kata Zet Charles.
Menurutnya, tim harus bekerja ekstra karena kondisi medan menyulitkan pergerakan menuju beberapa titik api.
Petugas menggunakan alat semprot manual untuk menekan kobaran. Mereka bergerak dari satu titik ke titik lain sambil mengawasi arah pergerakan api.
Di sisi lain, warga membantu petugas mengamankan area sekitar. Mereka juga memberikan informasi ketika menemukan titik api yang kembali menyala.
Kerja sama tersebut membantu tim mempercepat penanganan di tengah keterbatasan akses.
Kebakaran menghanguskan lahan dengan perkiraan luas sekitar 20 hektare.
Api membakar sekitar 15 hektare lahan di Desa Wesalo, Kecamatan Lalolae. Kobaran juga menjangkau sekitar lima hektare lahan di Desa Weamo, Kecamatan Mowewe.
Meski membakar area cukup luas, kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Tim gabungan tidak hanya mengejar kobaran utama. Mereka juga mengawasi area yang berpotensi menjadi jalur penyebaran api.
Petugas memperhatikan arah angin dan kondisi vegetasi untuk menentukan titik penanganan. Mereka kemudian memusatkan tenaga pada area yang memiliki risiko penyebaran paling tinggi.
Dengan cara tersebut, tim berupaya membatasi pergerakan api menuju area lainnya.
Setelah menekan kobaran, Babinsa bersama personel kepolisian dan warga kembali menyisir area terdampak.
Mereka mencari bara dan titik panas yang masih tersisa. Ketika menemukan titik api, petugas segera melakukan penyemprotan.
Pemantauan tersebut terus berlangsung untuk mencegah munculnya kobaran baru.
Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki penyebab kebakaran.
Petugas belum menyimpulkan sumber api yang membakar lahan di dua desa tersebut. Sementara itu, personel gabungan tetap memantau kondisi lapangan.
Karena itu, warga diminta segera melaporkan setiap kemunculan api. Laporan cepat dapat membantu aparat mengambil tindakan sebelum kebakaran berkembang lebih luas.
Kebakaran lahan dengan luasan sekitar 20 hektare membutuhkan perhatian seluruh pihak. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Selain itu, warga perlu segera menghubungi aparat apabila menemukan asap atau kobaran api di sekitar lahan.
Sinergi Babinsa, kepolisian, dan masyarakat menjadi kunci dalam merespons kebakaran. Dengan koordinasi yang cepat, mereka dapat memperkecil risiko api menjalar ke wilayah lain.
Penulis : Muhammad Irwansyah (Wartawan Madya)





