Manado,Sulutnews.com – Pelantikan Drs. Yahya Paulus Rondonuwu, M.Si., sebagai Kepala Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Sulut pada Rabu (5/8/26) mendapat sambutan antusias, namun juga disertai sorotan tajam dari pegiat pendidikan di Sulawesi Utara.
Meski Gubernur Yulius Selvanus menyebut mutasi ini sebagai hal biasa dalam rangka penyegaran organisasi, perhatian publik justru tertuju pada lompatan karier Yahya Rondonuwu. Sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bagian Persidangan (eselon III) di Sekretariat DPRD, Yahya kini menduduki kursi eselon II yang notabene memiliki tanggung jawab strategis di bidang pendidikan.
“Belajar Cepat, Karena Dunia Pendidikan Luas”
Ketua LSM Pilar Bangsa Sulut, Robby Wangko, yang dikenal konsen pada isu pendidikan, meminta agar Kadis Dikda yang baru segera beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dalam keterangannya kepada wartawan Sulutnews.com, Kamis (6/8/26), Robby menyoroti kompleksitas tugas yang kini diemban Yahya.
“Dari eselon III langsung menjadi Eselon II dan menjadi Kadis Pendidikan itu luar biasa. Luas bidangnya dan banyak tantangan. Meski baru menjadi eselon II, Kadis harus banyak belajar dan minta masukan dari staf serta kepala-kepala bidang,” ujar Robby Wangko.

Foto – Ketus LSM Pilar Bangsa Robby Wangko
Robby menekankan bahwa Kadis Pendidikan tidak hanya berhadapan dengan birokrasi, tetapi juga mengelola 462 sekolah (SMA, SMK, SLB Negeri dan Swasta), berkoordinasi dengan perwakilan Kemendikdasmen (BPMP, BGTK, Balai Bahasa), serta bersinergi dengan Dinas Pendidikan di 15 Kabupaten/Kota.
Catatan Kritis: Sertifikasi, BOS, dan Nilai TKA
LSM Pilar Bangsa juga mengingatkan beberapa masalah klasik yang harus segera menjadi perhatian Kadis baru, antara lain:
- Keterlambatan pencairan sertifikasi guru yang sering dikeluhkan tenaga pendidik.
- Pengelolaan dana BOS yang harus lebih transparan dan tepat sasaran.
- Target kenaikan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun ini sebagai bagian dari standarisasi mutu.
Selain itu, Robby mengingatkan agar Kadis turut menyukseskan program Revitalisasi Sekolah dari Presiden Prabowo melalui Kemendikdasmen.
“Kadis harus banyak turun lapangan dan cekatan. Lingkungan pendidikan luas sekali. Koordinasi dengan BPMP, BGTK, dan Balai Bahasa harus berjalan baik,” tegasnya.
Optimisme di Tengah Tantangan
Meski menyampaikan kritik, Robby Wangko mengaku optimis. Menurutnya, jika Kadis Dikda baru mampu melakukan kolaborasi yang solid dan kerja keras, maka pendidikan di Sulut bisa terus melaju menuju visi besar “Sulut Maju Sejahtera dan Berkelanjutan” menuju Indonesia Emas 2045.
“Saya optimis, bila Kadis Dikda baru lakukan kolaborasi dan kerja keras, pendidikan kita bisa maju,” pungkas Robby.(Fanny)





