Reporter : Dance Henukh
Sulutnews.com . ROTE NDAO, 30 Juli 2026 – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Namun, di balik potensi tersebut, Indonesia selama bertahun-tahun masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Pemerintah kini bertekad mengakhiri ketergantungan itu melalui pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat meninjau pembangunan KSIGN bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Kamis (30/7).
Menurut Zulkifli Hasan, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada garam impor ketika memiliki potensi pesisir yang sangat besar. Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan industri garam modern agar nilai tambah komoditas tersebut dinikmati masyarakat Indonesia.
“Ini kita jaga bersama. Pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat harus saling mendukung. Memang ini aset negara, tetapi sejatinya aset rakyat. Kalau garam kita produksi sendiri, manfaat ekonominya tinggal di Indonesia dan dinikmati masyarakat,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menegaskan, pembangunan kawasan industri garam di Rote Ndao merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis.
“Kalau terus impor, nilai ekonominya mengalir ke negara lain. Padahal kita memiliki potensi luar biasa. Sudah saatnya masyarakat pesisir menjadi pelaku utama yang menikmati kekayaan alam Indonesia,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau tambak garam modern serta Gudang Garam Nasional berkapasitas 10.000 ton. Pemerintah memastikan pembangunan berjalan sesuai target sehingga produksi garam dapat dimulai pada September 2026.
Saat ini, pembangunan KSIGN telah memasuki Tahap II dengan pengembangan lahan seluas 751,32 hektare. Bersama Tahap I, total kawasan yang telah dibangun mencapai 1.368,25 hektare. Ke depan, kawasan ini masih memiliki potensi pengembangan hingga 10.764 hektare melalui kolaborasi pemerintah dan sektor swasta.
KSIGN dirancang sebagai kawasan industri garam modern yang terintegrasi dengan target produktivitas mencapai 200 ton per hektare per tahun serta kualitas garam berkadar NaCl hingga 97 persen, sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi dalam negeri.
Selain meningkatkan produksi nasional, proyek strategis ini juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Rote Ndao. Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menyiapkan pelatihan dan sertifikasi bagi tenaga kerja lokal agar mampu mengelola industri garam modern secara profesional.
Harapan besar juga datang dari masyarakat setempat. Nixon, salah seorang warga Rote Ndao, mengaku optimistis pembangunan KSIGN akan membawa perubahan bagi daerahnya.
“Kami bersyukur karena Rote dipilih menjadi kawasan industri garam nasional. Anak-anak muda nanti tidak perlu jauh mencari pekerjaan. Kami ingin garam dari Rote bisa memenuhi kebutuhan Indonesia dan menjadi kebanggaan daerah kami,” katanya.
Menutup kunjungannya, Zulkifli Hasan mengajak seluruh pemangku kepentingan menjaga kawasan industri garam tersebut sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa.
“Kalau kawasan ini berhasil, bukan hanya Rote yang maju. Indonesia akan semakin mandiri memenuhi kebutuhan garamnya, impor bisa terus ditekan, ekonomi daerah tumbuh, dan masyarakat pesisir memperoleh manfaat yang nyata,” pungkasnya.
Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Direktur Utama PT Nindya Karya Firmansyah, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Pangan Dandy Satria Iswara, serta para pekerja tambak garam KSIGN.
Pembangunan KSIGN di Rote Ndao diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan swasembada garam nasional, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui industri garam yang modern, produktif, dan berdaya saing.





