Fondasi Paling Sejati Institusi Perbankan Bukan Deretan Angka Laporan Laba Rugi, Melainkan Sebuah Nilai Tak Berwujud Bernama ” Kepercayaan”
Manado, Sulutnews.com – Prof Joy Elly Tulung SE.,M.Sc.,Ph.D dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis oleh Rektor Unsrat Prof Dr Ir Oktovian Berty Sompie M.Eng .IPU.ASEAN.Eng di Aula Unsrat Manado pada Kamis (7/5).
Pengukuhan juga dilakukan terhadap sembilan Guru Besar (Profesor) dari lima Fakultas di Unsrat.
Prof Joy Tulung Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat itu dalam orasi ilmiah ini membedah kompleksitas industri perbankan modern yang saat ini tidak sekadar berhadapan dengan risiko bisnis biasa, melainkan dihadapkan pada ketidakpastian absolut (Knightian Uncertainty).
Dalam merespons kondisi tersebut, perbankan secara masif mengadopsi teknologi digital.
“Namun menurut Prof Joy Tulung kecanggihan teknologi tersebut sering kali memunculkan “ilusi presisi data” yang akan menjadi sangat rapuh jika tidak ditopang oleh transparansi dan tata kelola yang nyata, “kata Joy Tulung yang juga menjabat Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ( ISEI) Sulut.
Prof Joy Tulung yang membawakan orasi ilmiah dengan judul “Tata Kelolah Perbankan Ditengah Ketidakpastian Strategi Mengatasi Asimetri Informasi untuk Mendorong Kinerja dan Ketahanan Industri Keuangan
Mengatakan melalui tinjauan empiris yang mendalam, riset ini secara spesifik mendekonstruksi bahaya asimetri informasi di sektor keuangan.
Terdapat hukum pasar yang tak terbantahkan bahwa ketidaktransparanan selalu memiliki harga. Ketika sebuah institusi perbankan gagal menjaga transparansinya atau menyembunyikan kelemahannya, pasar tidak akan tinggal diam.
Dan Investor secara rasional akan merespons dengan membebankan “biaya keraguan”, yakni menuntut kompensasi atau premi risiko yang jauh lebih tinggi.” Hal ini harus menjadi perhatian” ujar Tulung yang meraih Sarjana Ekonomi ( S1) di Fakultas Ekonomi Unsrat 1997-2003 jurusan Manajemen
Menurut Prof Tulung kelahiran Manado 13 Agustus 1979 itu, solusi atas gejolak dan ketidakpastian tersebut, *Good Corporate Governance* (GCG) ditempatkan sebagai mekanisme pengaman institusional (*institutional safeguard*).

Foto – Prof Joy Elly Tulung SE.M Sc.Ph.D dan Keluarga Saat Pengukuhan Guru Besar di Unsrat
Tata kelola menurut Prof Tulung tidak boleh hanya dilihat sebagai kepatuhan administratif, melainkan sebagai jangkar stabilitas yang memastikan bahwa deretan angka pada laporan keuangan benar-benar otentik dan mencerminkan fundamental yang sehat, bukan sekadar riasan angka belaka (*window dressing*).
Kepercayaan
Dalam orasinya Prof Tulung memberikan sebuah refleksi fundamental bahwa perbankan pada hakikatnya bukanlah sekadar perhitungan matematis dalam laporan laba rugi.
Tetapi menurut Tulung Institusi keuangan sejatinya berdiri kokoh di atas fondasi tak berwujud bernama kepercayaan. Sebuah nilai esensial yang tidak diciptakan oleh deretan angka, melainkan hanya bisa dirawat melalui konsistensi perilaku, mitigasi informasi yang transparan, dan integritas yang utuh dalam mengemban amanah publik.” Ini hal hal yang harus diperhatikan institusi keuangan” ujar Prof Tulung yang meraih Master ( M.Sc) Fakultas Ekonomi dan Bisnis University of Groningen Belanda jurusan Internasional Business and Management ( Finance) 2007-2008 dan Doktor ( Ph.D) dari SKEMA Business School Eille Prancis jurusan Strategie ( Finance) 2011-2016.
Dikatakan, Tulung yang menarik diri sejenak dari kerumitan rasio ekonomi dan ekonometri, orasi ilmiah ini ditutup dengan sebuah refleksi fundamental: bahwa fondasi paling sejati dari institusi perbankan bukanlah deretan angka dalam laporan laba rugi, melainkan sebuah nilai tak berwujud bernama **kepercayaan**. Filosofi esensial yang sama pulalah yang ternyata menjadi penopang utama dalam perjalanan hidup sang Guru Besar. Pencapaian tertinggi di mimbar akademik ini tidak berdiri di atas rumus matematis, melainkan terbangun sangat kokoh di atas fondasi kepercayaan, cinta, dan doa tanpa syarat dari keluarga tercinta.
Prof Tulung yang juga juga pernah sekolah di SD dan SMP Eben Haesar Manado dan juga SMA Negeri 2 Manado merupakan anak dari Prof Dr Ir Bernat Tulung Guru Besar Unsrat M.Sc.
Dukungan Keluarga
Dalam narasinya yang menyentuh hati, gelar kehormatan ini dideskripsikan sebagai bentuk bakti kepada sang ayah, Prof. Dr. Ir. Bernat Tulung, dan Tante Herni. Bayang-bayang kebesaran nama sang ayah dimaknainya bukan sebagai beban, melainkan laksana pohon rindang yang meneduhkan dan memberinya ruang untuk bertumbuh hingga mampu memancarkan cahayanya sendiri.
Di samping itu,kata Prof Joy kehadiran istri tercinta, Shintya Y.M.S. Lonteng, dimaknai sebagai wujud nyata dari “stabilitas”—sebuah faktor penentu hidup yang tak bisa dihitung oleh rumus ekonometri mana pun, jawaban atas doa orang tua, dan rumah tempatnya selalu berpulang.
Pesan kemerdekaan dan cinta kasih yang mendalam juga disematkan secara khusus untuk kelima buah hati dan cucu tersayang: Ezra, Gamaliel yang tengah merajut langkah karier profesionalnya, Jireh yang rela menunda momen ujian skripsinya demi hadir di hari bersejarah ini, Seraphine, Ezechiel, serta cucu tercinta Cassie. Layaknya seorang ayah yang bijaksana, ia berpesan agar anak-anaknya tidak pernah merasa terbebani oleh bayang-bayang gelar akademiknya, melainkan melangkah maju dan menjadi cahaya di rute mereka sendiri.
Dalam bagian orasinya Untaian terima kasih juga mengalir hangat untuk mertua, Mami dan almarhum Papi, keluarga sang kakak Dr. Lingkan Tulung dan suaminya Dr. Daud M. Liando yang juga adalah Dekan FISIP hingga kakak-kakak ipar yang tersebar jauh hingga ke Aceh dan Jerman, membuktikan bahwa jarak sama sekali tidak memutus ikatan doa dan persaudaraan. (Diane Lonteng & Frank Tesch- Jerman) (Pdt. Donald Lonteng dan dr. Vally Ratulangi – Tompaso) (Denny Lonteng dan Hanna W – Aceh) (Suzan dan Yen) – (Fanny)







