Menu

Mode Gelap
BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe

Bisnis · 23 Apr 2026 10:34 WITA ·

Kenaikan Harga BBM Tekan Biaya Operasional Mobil Mewah, Pemilik Mulai Cari Alternatif Likuiditas


Kenaikan Harga BBM Tekan Biaya Operasional Mobil Mewah, Pemilik Mulai Cari Alternatif Likuiditas Perbesar

Dalam situasi ekonomi yang dinamis, kemampuan untuk mengelola aset secara adaptif menjadi kunci. Kenaikan BBM bukan hanya soal biaya tambahan, tetapi juga menjadi pemicu perubahan strategi finansial di kalangan pemilik aset bernilai tinggi.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan tekanan signifikan terhadap biaya operasional kendaraan pribadi, khususnya pada segmen mobil mewah yang dikenal memiliki konsumsi bahan bakar relatif tinggi.

Berbeda dengan kendaraan pada umumnya, mobil mewah seperti SUV berkapasitas mesin besar maupun mobil sport memiliki rasio konsumsi BBM yang berada di kisaran 1:4 hingga 1:8. Artinya, setiap kenaikan harga BBM sebesar Rp1.000 hingga Rp2.000 per liter dapat berdampak langsung pada peningkatan pengeluaran bulanan hingga jutaan rupiah, terutama bagi pengguna aktif di wilayah perkotaan. Apalagi di saat sekarang yang kenaikan harga BBM mencapai hampir 70% dan secara rupiah sudah mencapai kenaikan di atas Rp.5000 per liter.

Sejumlah pemilik kendaraan premium mengaku mulai merasakan perubahan signifikan dalam struktur pengeluaran mereka. Jika sebelumnya biaya BBM tidak menjadi perhatian utama, kini komponen tersebut mulai mendominasi pengeluaran rutin.

Fenomena ini mendorong perubahan pendekatan dalam pengelolaan aset. Mobil mewah yang selama ini diposisikan sebagai simbol status dan kenyamanan, kini mulai dipertimbangkan sebagai aset yang harus dioptimalkan secara finansial.

Dalam kondisi tersebut, industri pembiayaan berbasis jaminan mencatat adanya peningkatan minat. Salah satu layanan yang mulai dilirik adalah gadai kendaraan premium, yang memungkinkan pemilik memperoleh dana tunai tanpa harus menjual asetnya.

Platform seperti deGadai melihat adanya pergeseran perilaku ini. Melalui layanan gadai mobil mewah, pemilik kendaraan dapat memanfaatkan nilai aset mereka untuk mendapatkan likuiditas dalam waktu singkat.

Menurut pelaku industri, opsi ini memberikan fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh skema penjualan langsung. Pemilik kendaraan tetap memiliki kesempatan untuk menebus kembali asetnya setelah kondisi keuangan membaik.

Dalam situasi ekonomi yang dinamis, kemampuan untuk mengelola aset secara adaptif menjadi kunci. Kenaikan BBM bukan hanya soal biaya tambahan, tetapi juga menjadi pemicu perubahan strategi finansial di kalangan pemilik aset bernilai tinggi.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Indonesia Buka Akses Lebih Luas bagi Investor Eurasia Lewat INNOPROM 2026

29 Juni 2026 - 03:54 WITA

Jasa Marga Siaga Operasional, Siap Hadapi Periode Libur Sekolah Juni-Juli 2026

28 Juni 2026 - 18:02 WITA

Pelanggan Daop 2 Bandung Naik 7,4 Persen pada 1 Minggu Awal Masa Liburan Sekolah

28 Juni 2026 - 17:00 WITA

Dari Nol hingga 1,8 Juta Pengguna: The Genesis Menandai Babak Baru Pertumbuhan dan Kolaborasi Ekosistem FLOQ

28 Juni 2026 - 16:59 WITA

Bitcoin Masih Berisiko Turun ke US$50.000, Meski Peluang Rebound Belum Tertutup

28 Juni 2026 - 16:12 WITA

HUT Jakarta ke-499, PAM JAYA Anugerahkan Jakarta Water Hero 2026 dan Rekor MURI Sambungan Rumah

28 Juni 2026 - 15:04 WITA

Trending di Bisnis