Sitaro.sulutnews.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) terus berupaya memperbaiki kualitas layanan kesehatan di wilayah kepulauan. Salah satu langkah besarnya diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama dengan PT. Kimia Farma Apotek yang digelar di Ruang Rapat Kompeten lantai 2, Kantor Pusat Kimia Farma Apotek, Jalan Budi Utomo No.1, Jakarta Pusat, Kamis, 25/9/2025.
Bupati Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, hadir langsung dalam agenda tersebut dan menegaskan bahwa pembukaan akses bagi Kimia Farma merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak Masyarakat khususnya terkait ketersediaan obat-obatan.
Menurutnya, selama ini warga Sitaro harus bergantung pada perjalanan laut panjang hingga 3,5 jam ke Manado hanya untuk mendapatkan obat kronis yang ditanggung BPJS. “Sebagian besar masyarakat kami adalah peserta BPJS. Tetapi untuk obat-obatan tertentu, mereka harus ke Manado. Ini memakan waktu, tenaga, dan biaya. Karena itu, kehadiran Kimia Farma sangat penting,” kata Chyntia.
Bupati menambahkan, keterbatasan apotek dan fasilitas kesehatan masih menjadi tantangan utama. Banyak warga bahkan menunda pengobatan karena sulitnya akses obat.
“Kami bersyukur akhirnya ada langkah nyata melalui kerja sama ini. Harapannya, segera ada realisasi agar bisa saya bawa sebagai kabar baik bagi masyarakat,” tuturnya.
Dalam kerja sama tersebut, pemerintah daerah turut menawarkan dukungan fasilitas termasuk armada transportasi laut guna memudahkan distribusi obat menuju pulau-pulau di Sitaro.
Dari sisi perusahaan, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM PT Kimia Farma Apotek menegaskan komitmen untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat kepulauan. Ia menyebut, beberapa kendala teknis dapat dibahas bersama pemerintah daerah.
“Kita bisa mempercepat proses, baik di pihak kami maupun di pemerintah daerah. Kami akan berupaya agar kerja sama ini cepat terwujud,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Sitaro mencatat, saat ini hanya tersedia 10 apotek untuk melayani lebih dari 70 ribu jiwa masing-masing tiga apotek di Siau Barat, empat di Siau Timur, dan tiga di Tagulandang. Dengan kondisi geografis yang tersebar di banyak pulau, angka ini jauh dari cukup.
“Masih kurang jika dibandingkan jumlah penduduk. Apotek sering kewalahan, meski fasilitas kesehatan juga punya apotek sendiri,” jelas Kepala Dinas Kesehatan, Evita Janis.
Karena itu, keberadaan Kimia Farma diharapkan bukan sekadar formalitas kerja sama, tetapi benar-benar menjadi solusi untuk memperbaiki akses obat bagi masyarakat Sitaro. Jika terealisasi, warga tak lagi bergantung pada perjalanan laut panjang hanya untuk mendapatkan obat yang seharusnya tersedia dekat dengan mereka.





