Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 12 Jan 2026 11:13 WITA ·

Tekanan Risiko Global Perkuat Minat pada Logam Mulia


Tekanan Risiko Global Perkuat Minat pada Logam Mulia Perbesar

Harga emas (XAU/USD) dunia masih mempertahankan tren penguatan yang solid pada awal pekan ini, mencerminkan kombinasi antara sentimen safe-haven yang kuat dan meningkatnya keyakinan pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat. 

Emas bergerak stabil di kisaran $4.500 per troy ounce setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru di area $4.555. Kenaikan ini terjadi seiring investor mencerna data ketenagakerjaan AS yang beragam serta memburuknya situasi geopolitik global, yang kembali mendorong aliran dana menuju aset lindung nilai.

Menurut Analis Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, struktur teknikal emas saat ini masih berada dalam fase bullish yang sehat, ditopang oleh sinyal positif dari pergerakan candlestick dan posisi indikator Moving Average.

Andy Nugraha menjelaskan bahwa pasar emas saat ini masih berada dalam kanal tren naik yang kuat. Pergerakan harga yang konsisten bertahan di atas rata-rata pergerakan jangka menengah menunjukkan bahwa minat beli masih dominan, meskipun harga telah berada di area tertinggi sepanjang sejarah. Dari sisi teknikal, tekanan bullish yang berlanjut membuka peluang bagi emas untuk menguji area $4.600 dalam waktu dekat. Level tersebut dipandang sebagai target lanjutan dari reli yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Namun demikian, Andy juga mengingatkan bahwa dalam kondisi pasar yang telah mengalami lonjakan tajam, risiko koreksi teknis tetap ada. Jika terjadi pelemahan dan harga gagal mempertahankan area kunci, maka penurunan menuju zona $4.536 dapat terjadi sebagai fase konsolidasi sebelum menentukan arah berikutnya.

Faktor fundamental global tetap menjadi penggerak utama di balik kuatnya harga emas. Ketegangan geopolitik meningkat setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran di tengah gelombang protes dan kekerasan yang terjadi di negara tersebut.

Pada saat yang sama, dinamika keamanan di kawasan Arktik juga memanas setelah Inggris dan Jerman mengkaji peningkatan kehadiran militer mereka di Greenland, sebagai bagian dari respon terhadap perubahan lanskap geopolitik global. Ditambah dengan dampak lanjutan dari penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS, kondisi ini menciptakan tingkat ketidakpastian yang tinggi di pasar internasional, sehingga mendorong investor untuk memperbesar alokasi pada emas sebagai aset aman.

Dari sisi ekonomi, laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis akhir pekan lalu semakin memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga tahun ini. Data Nonfarm Payrolls menunjukkan penambahan sekitar 50.000 pekerjaan pada Desember, lebih rendah dari perkiraan pasar, meskipun tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen. Kombinasi ini memberi sinyal bahwa meski pasar tenaga kerja belum melemah tajam, momentum pertumbuhan mulai melambat. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi The Fed untuk bersikap lebih akomodatif, terutama jika tekanan inflasi tetap terkendali. Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi daya tarik dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga emas yang tidak memberikan bunga menjadi lebih kompetitif di mata investor.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bergerak relatif datar di sekitar 4,17 persen turut mendukung stabilitas harga emas di level tinggi. Dengan latar belakang ini, Andy Nugraha menilai bahwa bias pasar terhadap emas masih cenderung positif. Selama ketidakpastian geopolitik dan spekulasi pemangkasan suku bunga terus membayangi pasar, emas berpotensi tetap berada dalam fase bullish, meskipun volatilitas jangka pendek dapat meningkat seiring pelaku pasar menantikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi kunci arah pergerakan berikutnya.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 996 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Cara Mengatur Jadwal Pembayaran Tagihan Rumah Tangga

19 Agustus 2026 - 17:44 WITA

Godrej dan Childcare di Tempat Kerja: Ketika Dukungan bagi Perempuan Menjadi Strategi Bisnis

19 Agustus 2026 - 16:44 WITA

FLOQ Hadirkan Program Community Bus, Bawa Komunitas Kripto ke Coinfest Asia 2026 di Bali

19 Agustus 2026 - 15:06 WITA

Dari ONDC ke ION: Tokoh dan Gagasan di Balik Perjalanan India Menuju Kemandirian

19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Motor dengan Bagasi Besar, Kenapa Semakin Banyak Dicari?

19 Agustus 2026 - 14:25 WITA

NOVOTEL SINGAPORE ROBERTSON QUAY RESMI BUKA

19 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Trending di Bisnis