Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 13 Feb 2026 14:35 WITA ·

Siloam Hospitals TB Simatupang Hadirkan Layanan Komprehensif untuk Kanker Lambung dan Kanker Kolorektal dengan Pendekatan Deteksi Dini dan Bedah Digestif


Siloam Hospitals TB Simatupang Hadirkan Layanan Komprehensif untuk Kanker Lambung dan Kanker Kolorektal dengan Pendekatan Deteksi Dini dan Bedah Digestif Perbesar

Deteksi dini gangguan lambung dan saluran pencernaan dengan Urea Breath Test dan Endoskopi

Jakarta, 13 Februari 2026. Siloam Hospitals TB Simatupang sebagai fasilitas kesehatan swasta pilihan yang menyediakan layanan kesehatan di semua bidang medis dengan fokus khusus pada kardiologi, neuroscience, dan ortopedi, meningkatkan pelayanan di area deteksi dini dan bedah, kali ini pada area kanker.

World Cancer Day yang jatuh pada 4 Februari mengangkat tema United by Unique, yang artinya memahami perjalanan kanker dan melihat kebutuhan spesifik dari tiap pasien. Dengan pemahaman tersebut, Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien mulai dari pendekatan deteksi dini gangguan lambung dan saluran pencernaan dengan Urea Breath Test dan Endoskopi, serta kesiapan layanan spesialis gastroenterohepatologi dan bedah digestif bagi kondisi khusus yang membutuhkan prosedur lebih lanjut.

Lebih dari setengah populasi dunia terinfeksi Helicobacter pylori (H.pylor) dengan prevalensi yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Bakteri H.pylori berkoloni di mukosa lambung dan memproduksi enzim urease yang mengakibatkan berbagai keluhan seperti dispepsia, gastritis, ulkus lambung, hingga komplikasi tahap lanjutan seperti Mucosa-Associated Lymphoid Tissue lymphoma (limfoma MALT), hingga kanker lambung. Maka dari itu, H.pylori telah diklasifikasikan sebagai bakteri karsinogenik kelas I oleh International Agency for Research on Cancer.

Kanker lambung terdiagnosis pada satu juta individu setiap tahunnya, dengan angka kematian 700.000 di seluruh dunia. Gejala yang tidak spesifik pada awal perjalanan penyakit menyebabkan diagnosis kanker lambung sering terlambat dengan angka kesintasan 5 tahun sebesar 15% di Amerika Serikat. Pasien dengan infeksi H.pylori menunjukkan 3% angka kejadian kanker lambung yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak terinfeksi. Maka dari itu, penting sekali melakukan deteksi dini infeksi H.pylori, terlebih pada pasien yang sudah sering mengalami gangguan lambung atau pencernaan lainnya.

dr. David Reinhard Sumantri Samosir, SpPD-KGEH, Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Gastroenterohepatologi mengatakan “Diagnosis infeksi H.pylori dapat dilakukan dengan pemeriksaan non-invasif yaitu Urea Breath Test (UBT), atau pemeriksaan invasif yaitu prosedur endoskopi dan biopsi lambung. Urea breath test (UBT) menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H.pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Selain berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya infeksi H.pylori pada pasien dengan keluhan lambung, UBT juga berperan dalam mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi atau terjadinya kekambuhan infeksi H.pylori.”

Lebih lanjut dr David menjelaskan, “Penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi bakteri H. pylori dapat meningkatkan risiko terbentuknya polip di usus besar, termasuk jenis polip tertentu yang bisa menjadi awal kanker lambung. Deteksi dan pengobatan dini sangat penting karena bisa membantu mencegah polip usus besar pada orang dewasa.”

“Pemeriksaan endoskopi di Siloam Hospitals TB Simatupang tersedia dengan lengkap, seperti untuk saluran cerna atas (gastroskopi) dan bawah (kolonoskopi), serta prosedur khusus seperti kapsul endoskopi (tanpa bius/selang) dan nasal endoskopi”, tambah dr David.

Pada pasien dengan kondisi khusus, seperti pada pasien kanker kolorektal, diperlukan tindakan operasi yang ditangani oleh subspesialis bedah digestif.

dr. Mudatsir, M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BD(K), FINACS, Spesialis Bedah Subspesialis Digestif/Saluran Cerna menjelaskan, “Penanganan kanker saluran cerna bersifat sangat individual. Pada kasus tertentu, dokter akan menentukan strategi terapi berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, serta luas penyebarannya — apakah hanya ada tumor primer atau sudah terjadi penyebaran ke organ lain (metastasis). Selama penyebaran belum mengenai organ lain secara luas, operasi dapat dilakukan secara kuratif termasuk pengangkatan jaringan tumor beserta usus yang terlibat dan cabang pangkal dari pembuluh darahnya sehingga dapat menurunkan risiko kekambuhan.”

Lebih lanjut dr Mudatsir mengatakan, “Di sisi lain, deteksi dini berperan besar dalam meningkatkan keberhasilan terapi. Seperti contoh pada Pada kanker lambung, pemeriksaan Urea Breath Test (UBT) membantu mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori dimana menjadi salah satu faktor risiko terbentuknya lesi pre kanker. Pada kasus lain seperti kanker kolon, skrining dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah samar pada feses (fecal occult blood test), dan penanda tumor CEA. Bila ditemukan kecurigaan keganasan dapat dilanjutkan dengan salah satu prosedur endoskopi yaitu kolonoskopi agar kondisi saluran cerna dapat terlihat jelas sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat. “

Dr Dewi Wiguna, M.Sc – Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang menyampaikan, “Ketersediaan layanan diagnostik dan kesiapan doter dari multi disiplin, mendukung Siloam Hospitals TB Simatupang sebagai one-stop solution untuk penanganan penyakit terkait digestif/pencernaan. Mulai dari pemilihan deteksi dini yang cocok hingga prosedur lanjutan dengan dukungan multi disiplin, memastikan layanan bersifat individualized dan berfokus pada patient safety. Khusus untuk pemeriksaan Kanker Lambung & Kanker Kolorektal Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan layanan komprehensif yang mengkombinasikan pemeriksaan UBT, endoskopi, dan tumor marker saluran cerna seperti CEA dan CA 72-4. Layanan UBT dan endoskopi di Siloam Hospitals TB Simatupang juga menerima rujukan bagi rumah sakit non Siloam. Harapan kami, semakin banyak orang yang menjadi lebih sehat dengan layanan medis yang ada di Siloam Hospitals TB Simatupang,” tutup Dr Dewi.

Cara pemeriksaan UBT

Pemeriksaan UBT relatif mudah dilakukan dan nyaman bagi pasien.

Adapun persiapan pasien sebelum pemeriksaan UBT yaitu berpuasa dengan tidak makan apapun selama minimal 4 jam sebelum prosedur, dan boleh minum air putih. Dianjurkan untuk menghentikan penggunaan obat-obatan Proton Pump Inhibitor (PPI) (Co. Omeprazole, Lanzoprazole, Pantoprazole) minimal 14 hari sebelum prosedur, menghentikan penggunaan antibiotik anti-H.pylori (Co. Amoxicilin, Klaritromisin, dan Tetrasiklin) minimal 30 hari sebelum prosedur, dan menghentikan terapi bismuth minimal 30 hari sebelum prosedur. Pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terkait hal ini.

Prosedur UBT diawali dengan pasien meniup kantung sampel baseline dalam 1 kali hembusan, kemudian pasien akan diberikan tablet urea yang diminum dengan segelas air. Pasien kemudian berbaring ke sebelah kiri selama 5 menit, yang diikuti dengan posisi duduk tegak selama 15 menit. Pasien kemudian akan diberikan kantung sampel ke-2 yang ditiup dalam 1 kali hembusan. Kedua kantung sampel UBT kemudian akan diperiksa di laboratorium.

Pemeriksaan UBT di Siloam Hospitals TB Simatupang dilakukan setiap hari pukul 07.00-20.00 dengan lama hasil ±4 jam.

Cara pemeriksaan Endoskopi

Endoskopi adalah prosedur medis untuk memeriksa dan mengevaluasi kondisi saluran pencernaan pasien. Agar tindakannya dapat dilakukan secara efektif, terdapat beberapa persiapan endoskopi yang perlu diperhatikan oleh pasien. Adapun langkah-langkah persiapan endoskopi tersebut, di antaranya sebagai berikut:

1. Berdiskusi dengan dokter mengenai kondisi medis yang dialami

2. Menginformasikan riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi

3. Memahami risiko dan efek samping prosedur

4. Berpuasa pada malam hari sekitar 8 jam sebelum prosedur

5. Mengenakan pakaian yang nyaman

6. Memiliki pengantar untuk pulang ke rumah setelah prosedur

7. Mempersiapkan waktu pemulihan

Kunjungi ig dan youtube @siloamtbsimatupangofficial untuk informasi edukatif mengenai kesehatan lainnya

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 934 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bitcoin Tertekan di US$63.000, FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026

16 Agustus 2026 - 10:18 WITA

Dupoin Futures Gandeng WeWork Dorong Pekerja Swasta Kenali Peluang Side Income Melalui Futures Trading

16 Agustus 2026 - 09:00 WITA

Merajut Ulang Keadilan Sosial: IHDC Lanjutkan Seri Diskusi Publik “Ideologi Kesehatan Indonesia” Bersama Prof. Nila Moeloek dan Pakar Lintas Sektor

15 Agustus 2026 - 22:15 WITA

Presiden Prabowo Dorong Kedaulatan Emas Nasional

15 Agustus 2026 - 19:04 WITA

Apakah AI yang Semakin Kuat Selalu Lebih Baik? Studi tentang Batas Human-AI Collaboration dalam Co-Creation Iklan Generative AI

15 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Iklan E-Commerce Indonesia Boros tapi Tidak Konversi? Tigo AI Menggerakkan Jutaan Kreator Biasa agar Setiap Rupiah Anggaran Terlihat Hasilnya

15 Agustus 2026 - 16:35 WITA

Trending di Bisnis