Menu

Mode Gelap
BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe

Bisnis · 18 Apr 2026 08:00 WITA ·

Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan


Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan Perbesar

Di tengah situasi ekonomi yang penuh dinamika, satu hal menjadi semakin jelas: masyarakat tidak lagi hanya mencari dana, tetapi juga cara yang lebih cerdas untuk mengelola aset mereka.

Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa, mulai dari pelemahan rupiah hingga kenaikan harga kebutuhan pokok, masyarakat Indonesia perlahan mengubah cara mereka mengelola keuangan. Jika sebelumnya pinjaman bank menjadi pilihan utama, kini semakin banyak yang mencari alternatif yang lebih cepat, fleksibel, dan tidak mengorbankan aset.

Data pencarian digital menunjukkan lonjakan minat terhadap topik seperti “harga emas hari ini”, “rupiah ke dolar”, hingga “cara mendapatkan dana cepat”. Fenomena ini mencerminkan satu hal yang sama: meningkatnya kebutuhan likuiditas di tengah ketidakpastian.

Namun menariknya, tidak semua orang memilih menjual aset mereka.

Sebagian justru mengambil langkah yang lebih strategis, yakni memanfaatkan aset yang dimiliki sebagai jaminan tanpa harus kehilangan kepemilikannya. Skema ini dikenal luas sebagai gadai, dan kini mulai kembali dilirik, terutama oleh kalangan yang memiliki aset bernilai tinggi.

Di pasar, aset seperti emas, jam tangan mewah, tas branded, hingga kendaraan premium dinilai memiliki karakteristik yang ideal sebagai sumber likuiditas. Selain nilainya relatif stabil, aset-aset ini juga memiliki pasar sekunder yang aktif, sehingga mudah untuk dinilai dan dicairkan.

Fenomena ini juga diamati oleh pelaku industri. Business Development deGadai, David Tatangsurja, menyebut bahwa dalam beberapa waktu terakhir terjadi pergeseran cara pandang masyarakat terhadap aset.

“Dulu aset seperti jam tangan atau tas mewah lebih banyak diposisikan sebagai koleksi atau simbol gaya hidup. Sekarang, kami melihat semakin banyak yang mulai menyadari bahwa aset tersebut juga bisa menjadi alat untuk menjaga cashflow, tanpa harus dijual, jadi bisa melakukan gadai tas misalnya” ujar David.

Menurutnya, kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial. Menjual aset di saat pasar tidak optimal sering kali dianggap kurang menguntungkan, sehingga opsi gadai menjadi alternatif yang lebih rasional.

“Dalam situasi seperti sekarang, banyak nasabah yang memilih untuk tetap mempertahankan asetnya. Gadai memberikan fleksibilitas karena mereka bisa mendapatkan dana cepat, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk mengambil kembali aset tersebut,” lanjutnya.

Selain faktor fleksibilitas, kecepatan proses juga menjadi pertimbangan utama. Dibandingkan dengan pinjaman konvensional yang membutuhkan waktu dan persyaratan lebih kompleks, gadai dinilai lebih praktis, terutama untuk kebutuhan mendesak atau menjaga arus kas jangka pendek.

Tren ini juga sejalan dengan perkembangan global, di mana aset luxury mulai dipandang sebagai bagian dari strategi keuangan, bukan sekadar konsumsi. Di berbagai negara, pasar resale untuk barang-barang seperti jam tangan premium dan tas branded terus menunjukkan pertumbuhan, memperkuat posisi aset tersebut sebagai instrumen bernilai.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa setiap keputusan finansial tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pemahaman terhadap risiko, tenor pinjaman, serta kemampuan pelunasan menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.

Di tengah situasi ekonomi yang penuh dinamika, satu hal menjadi semakin jelas: masyarakat tidak lagi hanya mencari dana, tetapi juga cara yang lebih cerdas untuk mengelola aset mereka.

Dan bagi sebagian orang, jawabannya bukan menjual, melainkan memanfaatkan apa yang sudah mereka miliki.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 922 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Fisik Rampung 100%, Pelindo Sinergi Lokaseva Group Kawal Persiapan Pra-Operasi Fly Over Teluk Lamong untuk Kelancaran Logistik Jawa Timur

29 Juni 2026 - 19:38 WITA

KAI Sesuaikan Jadwal LRT Jabodebek di Pagi Hari, Distribusi Pengguna di Jam Sibuk Lebih Merata

29 Juni 2026 - 19:37 WITA

Financial Burnout: Saat Capek Cari Uang Tapi Saldo Tabungan Tidak Bertambah

29 Juni 2026 - 17:49 WITA

KAI Bandara Dukung Mobilitas Masyarakat Wates melalui Layanan KA Bandara YIA Berbasis PSO Yogyakarta, 29 Juni 2026 – KAI Bandara terus berkomitmen menghadirkan layanan tr

29 Juni 2026 - 17:40 WITA

Wifi Terbaik Depok untuk Rumah, Kos, dan Usaha yang Selalu Online

29 Juni 2026 - 16:31 WITA

Setelah 14 Tahun Menikah, Ini Pelajaran Terbesar Regi Datau dan Ayu Dewi Tentang “Happy Wife, Happy Life”

29 Juni 2026 - 16:22 WITA

Trending di Bisnis