Menu

Mode Gelap
BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe

Bisnis · 21 Mei 2026 16:40 WITA ·

Saat Konsumen Bertanya ke AI, Apakah Brand Anda Disebut?


Saat Konsumen Bertanya ke AI, Apakah Brand Anda Disebut? Perbesar

Ketika konsumen mulai bertanya langsung ke Artificial Intelligence (AI) untuk mencari rekomendasi produk, jasa, hingga perusahaan terbaik, tantangan baru mulai muncul bagi banyak brand: Apakah bisnis mereka ikut disebut dalam jawaban AI?

Perubahan perilaku digital tersebut mulai menggeser cara konsumen menemukan informasi. Jika sebelumnya perusahaan berlomba-lomba muncul di halaman pertama mesin pencari, brand kini mulai menghadapi persaingan baru di ekosistem AI-generated answers, seperti ChatGPT, Google AI Overviews, dan Perplexity.

Dalam banyak kasus, pengguna tidak lagi membuka banyak situs web untuk membandingkan pilihan secara manual. AI kini semakin sering menjadi lapisan pertama yang merangkum rekomendasi, menyusun jawaban, hingga menentukan brand mana yang dianggap paling relevan untuk ditampilkan kepada pengguna.

Perubahan ini mulai menjadi perhatian industri teknologi global. Riset Gartner memprediksi volume pencarian tradisional akan turun hingga 25% pada 2026 akibat meningkatnya penggunaan chatbot AI dan agen virtual.

Di saat yang sama, Google terus memperluas fitur AI Overviews yang menampilkan jawaban sintesis langsung di halaman pencarian tanpa mengharuskan pengguna membuka banyak website.

Fenomena tersebut dinilai mulai menciptakan tantangan baru bagi brand, terutama dalam memahami bagaimana mereka direpresentasikan di platform AI generatif.

“Dulu, brand fokus gimana caranya muncul di halaman pertama mesin pencari. Sekarang, tantangannya berubah jadi apakah AI cukup mengenali dan mempercayai brand Anda untuk ikut merekomendasikannya kepada pengguna,” ujar Alexandro, Co-Founder & Managing Partner dari Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI.

Menurut Alexandro, visibilitas di era AI tidak lagi hanya ditentukan oleh website perusahaan, melainkan juga berbagai sinyal digital lainnya, seperti pemberitaan media, konsistensi narasi brand, pembahasan publik, hingga otoritas informasi yang tersebar di berbagai kanal digital.

“AI nggak bekerja seperti mesin pencari tradisional yang hanya menampilkan daftar link. Sistem AI membangun jawaban berdasarkan pemahaman terhadap berbagai sumber dan konteks digital yang tersedia. Jika AI nggak mengenali brand Anda, ada kemungkinan brand Anda nggak masuk pertimbangan pengguna sejak awal,” lanjutnya.

Ia menambahkan, perubahan tersebut mulai menghadirkan tantangan baru khususnya bagi tim marketing dan public relations (PR). Sebab, perusahaan kini tidak hanya bersaing untuk mendapatkan posisi teratas di hasil pencarian, tetapi juga bersaing agar brand mereka dianggap relevan dan layak direkomendasikan oleh AI.

Melihat perubahan perilaku digital tersebut, Avonetiq menggagas pendekatan baru, yakni AVO. Pendekatan ini berfokus untuk membantu brand membangun jejak digital yang terstruktur dan konsisten sehingga visibilitas mereka di mata AI semakin meningkat.

Namun, seiring pengembangannya, Avonetiq menyadari bahwa visibilitas AI tidak akan bertahan tanpa fondasi otoritas digital yang kuat.

Karena itu, AVO yang sebelumnya dikenal sebagai AI Visibility Optimization kini bertransformasi menjadi “Authority & Visibility Optimization”, kian menegaskan fokusnya bahwa AVO tidak hanya membantu brand lebih mudah ditemukan AI, tetapi juga membangun kredibilitas mereka agar lebih dipercaya dan dipilih di industrinya.

Dari kebutuhan akan visibilitas dan otoritas digital itulah Avonetiq menghadirkan AVO AI, sebuah platform SaaS yang bertindak sebagai konsultan AI bagi brand.

AVO AI dirancang untuk membantu perusahaan memahami bagaimana brand mereka muncul dalam jawaban AI, bagaimana reputasi mereka dibingkai oleh sistem AI generatif, hingga bagaimana posisi mereka dibandingkan kompetitor dalam ekosistem pencarian berbasis kecerdasan buatan.

Menggunakan tiga instrumen utama, yaitu Authority Score, Visibility Score, dan Content Engine, tool ini dapat membantu brand memantau serta meningkatkan visibilitas mereka di platform AI generatif.

Nantinya, AVO AI akan tampil di gelaran Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) pada 4–5 Juni 2026, setelah sebelumnya diperkenalkan secara terbatas melalui undangan eksklusif. Konsultan berbasis kecerdasan buatan ini akan menyapa insan SEO dan marketing yang hadir serta siap menjadi solusi visibilitas brand di era pencarian AI.

Lebih lanjut, di hari kedua acara tersebut, Alexandro juga akan membawakan sesi bertajuk “Winning the Digital War: How to Make AI Pick Your Brand” yang membahas perubahan perilaku pencarian digital dan strategi agar brand lebih mudah dikenali oleh sistem AI generatif.

“Ke depan, visibility bukan lagi hanya soal ranking pencarian, tetapi soal apakah sebuah brand cukup relevan untuk direkomendasikan oleh AI. Ketika konsumen mulai bertanya kepada AI, apakah brand Anda ikut disebut?” tutup Alexandro.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 973 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

KA Lokal Siliwangi Jadi Primadona Transportasi Masyarakat Cianjur Saat Libur Akhir Pekan dan Tahun Baru Islam 1448 H

17 Juni 2026 - 05:20 WITA

Dupoin Futures Jadi Pialang Berjangka Pertama yang Hadir di Pekan Raya Jakarta 2026

16 Juni 2026 - 23:50 WITA

Lulus dalam 3,5 Tahun dengan Jejak di 5 Negara — Kisah Binusian yang Memulai Perjalanan Global Sejak Tahun Pertama Kuliah

16 Juni 2026 - 22:00 WITA

Holding Perkebunan Nusantara Gelar Pra Workshop Percepatan Penyelesaian Tindak Lanjut Audit di KPBN

16 Juni 2026 - 18:05 WITA

KazanForum 2026 Jadi Momentum UDM Perluas Kolaborasi Pendidikan Cybersecurity Global

16 Juni 2026 - 15:50 WITA

Libur Tahun Baru Islam 1448 H, KAI Daop 2 Bandung Layani Lebih dari 13 Ribu Pelanggan

16 Juni 2026 - 15:25 WITA

Trending di Bisnis