Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 18 Feb 2026 00:32 WITA ·

Saat Brand Lain Bakar Budget, Her Assets Society Semarang Bangun Sistem Mini Konsorsium


Saat Brand Lain Bakar Budget, Her Assets Society Semarang Bangun Sistem Mini Konsorsium Perbesar

Dalam dunia bisnis, bahkan konglomerat membangun group dan holding untuk memperbesar skala, memperkuat sistem, dan mengamankan pertumbuhan jangka panjang. Bisnis besar tidak berjalan sendiri.

Di tengah tingginya biaya KOL, mahalnya exposure digital, serta kompetisi pasar yang semakin padat, womenpreneur pun membutuhkan ekosistem. Her Assets Society hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.

Her Assets Society Resmi Diluncurkan 14 Februari 2026: Ekosistem Profesional Womenpreneur yang Terstruktur dan Terkurasi

Semarang, 14 Februari 2026 –
Her Assets Society resmi diluncurkan dalam acara Business Lounge pada 14 Februari 2026, bertepatan dengan momentum Tahun Kuda yang melambangkan keberanian, kecepatan, dan akselerasi pertumbuhan.

Dipimpin oleh Sharon Dwidjoatmodjo, Director Community Her Assets Society yang juga mewakili PT Muvin Group Indonesia (jasa otomotif), komunitas ini hadir sebagai ekosistem profesional bagi perempuan pemilik bisnis yang serius membangun aset dan legacy jangka panjang.

Di usia 30 tahun, Sharon (paling ujung kanan) berhasil membawa Her Assets Society menjangkau lintas usia, lintas bidang industri, dan lintas kota mulai dari Semarang, Jakarta, Yogyakarta hingga Salatiga. Awalnya dirancang berbasis distrik di Semarang, namun permintaan dari luar kota menunjukkan bahwa kebutuhan akan ekosistem bisnis perempuan yang strategis bersifat lebih luas.

Berbeda dari Komunitas yang Sudah Ada

Her Assets Society tidak hadir untuk bersaing dengan komunitas yang sudah existing, melainkan untuk melengkapi.

Jika banyak komunitas berfokus pada networking dan sharing, Her Assets Society melakukan hilirisasi atas setiap aset yang dimiliki anggotanya baik brand, jaringan, keahlian, maupun reputasi agar dapat diolah menjadi legacy secara holistik.

Pendekatan yang diterapkan mencakup:

Penguatan positioning bisnis

– Sistem kolaborasi yang terstruktur

– Optimalisasi visibilitas brand

– Strategi marketing kolektif

– Pembangunan nilai jangka panjang

Awalnya, Her Assets Society dirancang berbasis distrik di Semarang sebagai ruang terkurasi bagi business owner perempuan. Namun dalam waktu singkat, permintaan keanggotaan datang dari Jakarta, Yogyakarta, hingga Salatiga. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ekosistem bisnis perempuan yang strategis bersifat nasional, bukan hanya lokal.

Profesional, Bukan Sekadar Dagang

Dengan positioning sebagai The Professional Womenpreneur Society, Her Assets Society menegaskan standar profesionalitas.

Yang dihadirkan bukan sekadar pelaku usaha yang ingin berjualan, tetapi perempuan yang serius membangun bisnis.

Profesional berarti:

– Memiliki visi dan arah bisnis

– Siap berdiskusi strategis

– Berpakaian rapi dan representatif sebagai business owner

– Menghargai etika dan standar komunitas

Karena citra dan sikap adalah bagian dari aset bisnis itu sendiri.

Terkurasi dan Berdampak

Her Assets Society tidak dirancang untuk menjadi komunitas dengan jumlah anggota besar.

Fokusnya adalah dampak.

Keanggotaan dilakukan secara terkurasi, dengan prinsip bahwa dalam setiap distrik (kecamatan), tidak diperkenankan adanya kompetitor langsung di dalam ekosistem yang sama.

Tujuannya adalah menciptakan kolaborasi, bukan kompetisi internal.

Dengan model ini, setiap anggota memiliki ruang tumbuh yang sehat, posisi yang jelas, serta dukungan ekosistem yang kuat di wilayahnya masing-masing.

Ekosistem untuk Mengurangi Beban Marketing

Menjawab tingginya biaya KOL dan promosi digital, Her Assets Society menghadirkan:

Membership Campaign
Sistem promosi terintegrasi berbasis anggota untuk meningkatkan visibilitas.

Collaborative Campaign
Kolaborasi lintas brand untuk memperluas market reach sekaligus menekan biaya marketing individual.

Struktur Keanggotaan Her Assets Society

Untuk menjaga sistem tetap terkurasi dan berdampak, Her Assets Society memiliki tiga lapisan keanggotaan:

🔹 The Contributor

Anggota yang tidak wajib memiliki bisnis, namun berperan sebagai pendukung ekosistem.
Mereka dapat berkontribusi melalui jaringan, keahlian, insight, atau dukungan kolaboratif dalam campaign komunitas.

🔹 Activate Member

Perempuan pemilik bisnis yang aktif membangun brand dan terlibat dalam Membership Campaign.
Mereka adalah pelaku usaha yang ingin meningkatkan positioning dan visibilitas secara strategis.

🔹 Lead Committee (Level Kecamatan/Distrik)

Perwakilan terkurasi di setiap kecamatan yang memegang peran koordinatif dan strategis.
Struktur ini memastikan tidak ada kompetitor langsung dalam satu distrik, sehingga kolaborasi lebih sehat dan terarah.

Dengan sistem ini, Her Assets Society tidak hanya membangun komunitas, tetapi membangun ekosistem yang saling menguatkan.

Karena di era saat ini, promosi bukan lagi soal siapa yang paling vocal berbicara tetapi siapa yang memiliki sistem dan jaringan yang tepat.

Member Lintas Kota & Lintas Industri

Sejak peluncurannya, Her Assets Society telah menghimpun member dari berbagai kota dan sektor, di antaranya:

1.  SKYEATS – PT. Kolaborasi Berkat Bangsa -Inike Rahmawati (Jakarta)

2. D’Parcelin – PT. Parcelin Creative Indonesia – Prahendita Putri Prasetyani (Semarang)

3. Aresty Bakes – PT. Aspirasi Karya Aresty – Aresty Amalia Andini (Yogyakarta)

4. PT. Akuratdata Cendekiatama Elspertia Solusindo – Fanny Magdalena (Jakarta)

5. Jenny Widjaja – Konsultan Pajak (Jakarta)

6. Ris Seafood – Mariska Triandaruni (Semarang)

7. Yayasan Meira Visi Persada – Meida Rachmawati (Salatiga)

8. Momotaro – CV. Makan Minum Mantab – Kristi Delasia (Semarang)

Keberagaman ini menunjukkan bahwa Her Assets Society bukan komunitas sektoral, melainkan ruang strategis bagi perempuan pemilik bisnis yang ingin membangun aset, pertumbuhan, dan legacy.

Menurut Sharon Dwidjoatmodjo:

“Jika bisnis besar membangun group untuk memperkuat posisi, maka womenpreneur juga perlu membangun ekosistem. Komunitas adalah strategi jangka panjang. Bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi sistem untuk bertumbuh.”

Dengan positioning sebagai komunitas profesional, Her Assets Society menargetkan ekspansi lintas kota secara terkurasi dan membangun jaringan womenpreneur yang tidak hanya bertumbuh secara omzet, tetapi juga positioning dan kredibilitas.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 933 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Merajut Ulang Keadilan Sosial: IHDC Lanjutkan Seri Diskusi Publik “Ideologi Kesehatan Indonesia” Bersama Prof. Nila Moeloek dan Pakar Lintas Sektor

15 Agustus 2026 - 22:15 WITA

Presiden Prabowo Dorong Kedaulatan Emas Nasional

15 Agustus 2026 - 19:04 WITA

Apakah AI yang Semakin Kuat Selalu Lebih Baik? Studi tentang Batas Human-AI Collaboration dalam Co-Creation Iklan Generative AI

15 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Iklan E-Commerce Indonesia Boros tapi Tidak Konversi? Tigo AI Menggerakkan Jutaan Kreator Biasa agar Setiap Rupiah Anggaran Terlihat Hasilnya

15 Agustus 2026 - 16:35 WITA

PURANA Mengobarkan Gerakan Kebanggaan Nasional Ekonomi Sirkular “Renjana Perca” di Grand Indonesia: Merayakan 17 Tahun Kolaborasi dan Kemerdekaan Berkarya Seniman Indonesia

15 Agustus 2026 - 16:16 WITA

Dari Udara ke Lapangan, Polda NTT Gerak Cepat Tangani Gempa Flores, Evakuasi, Buka Akses, hingga Pastikan Bantuan Tiba

15 Agustus 2026 - 15:22 WITA

Trending di Bisnis