Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 16 Agu 2026 12:26 WITA ·

Participatory AI Advertising Dorong Model Baru Ekonomi Periklanan: Dari Membeli Traffic Menuju Memberikan Reward atas Kreasi


Participatory AI Advertising Dorong Model Baru Ekonomi Periklanan: Dari Membeli Traffic Menuju Memberikan Reward atas Kreasi Perbesar

Participatory AI Advertising adalah model periklanan baru yang muncul seiring berkembangnya generative AI, di mana brand, pengguna, platform, dan konsumen terhubung dalam ekosistem digital seperti media sosial dan marketplace tugas iklan; berbeda dari model tradisional yang banyak mengandalkan biaya produksi dan pembelian traffic, pendekatan ini memungkinkan brand mempublikasikan tugas, AI membantu proses produksi, pengguna membuat serta menyebarkan konten, lalu platform mengukur performa seperti views, clicks, pelanggan baru, dan penjualan sebelum memberikan reward sesuai hasil, sehingga pengguna tidak lagi hanya menjadi penonton iklan tetapi ikut menciptakan nilai, membangun kepercayaan, dan mendorong transaksi, dengan artikel mencatat potensi peningkatan brand favorability sekitar 50% dan purchase conversion sekitar 30%.

JAKARTA, Indonesia:
Perkembangan generative AI mulai membuka kemungkinan perubahan besar dalam
model ekonomi industri periklanan. Konsep Participatory AI Advertising
menawarkan pendekatan baru yang memungkinkan konsumen tidak hanya menerima
pesan promosi, tetapi juga ikut menciptakan, mendistribusikan, dan menghasilkan
nilai dari konten iklan. Dalam model ini, sebagian anggaran pemasaran yang
sebelumnya difokuskan pada produksi konten dan pembelian traffic dapat
dialokasikan kepada pengguna yang memberikan kontribusi nyata terhadap
pertumbuhan sebuah brand.

Dalam model periklanan
tradisional, perusahaan biasanya mengeluarkan biaya untuk dua komponen utama,
yaitu content production dan traffic acquisition. Sebuah brand harus membayar
proses perencanaan kreatif, copywriting, desain, video production, editing,
animasi, voice production, serta kebutuhan produksi lainnya. Setelah konten
selesai dibuat, perusahaan masih harus membeli exposure melalui media sosial,
search platform, video platform, advertising network, influencer, atau media
lainnya agar pesan tersebut dapat menjangkau calon konsumen.

Participatory AI Advertising
memperkenalkan mekanisme tambahan dalam aliran advertising budget. Dengan
bantuan AI, pengguna dapat menerima tugas dari brand, membuat materi iklan,
mempublikasikannya melalui akun media sosial pribadi, lalu memperoleh reward
berdasarkan kontribusi dan performa yang dihasilkan. Aliran anggaran yang
sebelumnya terutama bergerak dari Brand menuju Media Platform dapat berkembang
menjadi model tambahan, yaitu Brand menuju User Creator.

Dokumen penelitian mengenai model
ini menyebutkan bahwa participatory AI advertising berkaitan dengan peningkatan
brand favorability sekitar 50 persen dan purchase conversion sekitar 30 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa partisipasi konsumen berpotensi menciptakan
nilai yang lebih luas dibandingkan engagement semata. Selain membantu membangun
hubungan antara konsumen dan brand, konten yang dibuat pengguna juga dapat
memberikan kontribusi terhadap transaksi yang terukur.

Reward kepada pengguna dapat
dirancang berdasarkan indikator performa seperti Cost per Acquisition atau CPA,
Cost per Sale atau CPS, order value, new customers, dan valid views. Dengan
pendekatan tersebut, perusahaan dapat menghubungkan sebagian advertising budget
dengan hasil bisnis yang lebih konkret. Pengguna tidak memperoleh insentif
secara acak, melainkan berdasarkan nilai yang benar-benar mereka bantu ciptakan
bagi brand.

Model ini juga membuka peluang
terbentuknya Advertising Task Marketplace. Dalam sistem tersebut, brand dapat
mempublikasikan tugas, misalnya membuat video pendek berdurasi 15 detik untuk
sebuah produk. AI menyediakan production capability, pengguna membuat konten,
sistem memeriksa kesesuaian dengan brand guidelines, lalu pengguna mempublikasikan
hasilnya. Platform kemudian dapat melacak views, clicks, traffic, orders, dan
indikator lainnya sebelum reward diberikan berdasarkan actual performance.

Pendekatan tersebut berpotensi
mengubah posisi konsumen dalam advertising value chain. Konsumen yang
sebelumnya terutama menjadi penerima iklan dapat berkembang menjadi peserta
aktif yang berkontribusi melalui creation, distribution, social trust, dan
conversion. Sebagian nilai ekonomi yang tercipta dari proses tersebut kemudian
dapat kembali kepada pengguna melalui cash, commission, coupons, points,
performance bonuses, maupun bentuk insentif lainnya.

Bagi brand, model ini tidak
berarti menggantikan media platform. Platform tetap memiliki peran penting
dalam menyediakan distribution infrastructure, recommendation systems,
measurement, payments, traffic, dan fungsi pendukung lainnya. Perubahan
utamanya adalah munculnya pilihan baru dalam alokasi anggaran pemasaran,
sehingga perusahaan dapat menggabungkan centralized media traffic dengan
participation investment yang berorientasi pada kontribusi pengguna.

Dalam skala yang lebih luas,
pendekatan ini dapat mendorong munculnya User Incentive Economy, yaitu model di
mana pengguna tidak hanya memberikan attention, tetapi juga creation,
distribution, trust, dan transactions. Advertising platform juga berpotensi
berkembang dari sekadar traffic marketplace menjadi ekosistem yang
mengoordinasikan advertising tasks, AI creation tools, content review,
performance tracking, attribution, rewards, serta payments.

Participatory AI Advertising pada akhirnya
menunjukkan bahwa transformasi AI dalam industri periklanan tidak hanya
berkaitan dengan cara konten diproduksi. Perubahan yang lebih mendalam
menyangkut siapa yang menciptakan advertising value, bagaimana nilai tersebut diukur,
dan siapa yang berhak memperoleh bagian dari nilai ekonomi yang dihasilkan.
Pertanyaan bagi brand di masa depan dapat bergeser dari sekadar mencari traffic
termurah menjadi menemukan cara terbaik untuk mendorong pengguna berpartisipasi
aktif dalam proses pertumbuhan brand

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bitcoin Tertekan di US$63.000, FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026

16 Agustus 2026 - 10:18 WITA

Dupoin Futures Gandeng WeWork Dorong Pekerja Swasta Kenali Peluang Side Income Melalui Futures Trading

16 Agustus 2026 - 09:00 WITA

Merajut Ulang Keadilan Sosial: IHDC Lanjutkan Seri Diskusi Publik “Ideologi Kesehatan Indonesia” Bersama Prof. Nila Moeloek dan Pakar Lintas Sektor

15 Agustus 2026 - 22:15 WITA

Presiden Prabowo Dorong Kedaulatan Emas Nasional

15 Agustus 2026 - 19:04 WITA

Apakah AI yang Semakin Kuat Selalu Lebih Baik? Studi tentang Batas Human-AI Collaboration dalam Co-Creation Iklan Generative AI

15 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Iklan E-Commerce Indonesia Boros tapi Tidak Konversi? Tigo AI Menggerakkan Jutaan Kreator Biasa agar Setiap Rupiah Anggaran Terlihat Hasilnya

15 Agustus 2026 - 16:35 WITA

Trending di Bisnis