Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 17 Okt 2025 11:50 WITA ·

Krisis Iklim Ancam Ketahanan Pangan, LindungiHutan Dorong “Hutan Lestari” Jadi Solusi Nyata


Krisis Iklim Ancam Ketahanan Pangan, LindungiHutan Dorong “Hutan Lestari” Jadi Solusi Nyata Perbesar

Semarang, 16 Oktober 2025 — Di tengah meningkatnya ancaman gagal panen dan krisis pangan akibat perubahan iklim, LindungiHutan menyerukan pentingnya menjaga hutan sebagai penyangga utama sistem pangan nasional. Momentum Hari Pangan Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak akan tercapai tanpa hutan yang lestari.

Data dari FAO (2024) mencatat bahwa perubahan iklim berpotensi menurunkan hasil panen padi Indonesia hingga 17% pada 2050 jika degradasi lahan dan deforestasi terus terjadi. Di sisi lain, KLHK (2023) melaporkan laju kehilangan hutan Indonesia masih mencapai 104 ribu hektare per tahun — sebagian besar di wilayah dengan aktivitas pertanian dan perkebunan intensif.

“Hutan yang rusak berarti sumber air berkurang, tanah kehilangan kesuburan, dan nelayan kehilangan mangrove tempat ikan berkembang biak. Itu artinya, krisis pangan tidak lagi soal sawah, tapi juga soal hutan,” ujar Miftachur “Ben” Robani, CEO LindungiHutan, Kamis (16/10).

LindungiHutan mengajak publik, komunitas, dan korporasi untuk ikut menanam pohon di wilayah-wilayah rawan seperti pesisir, DAS, dan lahan kritis. Program LindungiHutan telah menjangkau lebih dari 30+ lokasi di seluruh Indonesia, menanam lebih dari 1 juta pohon dan membantu menyerap 48,9 ribu ton CO₂.

Salah satu lokasi prioritas adalah Pesisir Wonorejo, Surabaya, yang sejak 2021 mengalami abrasi parah akibat eksploitasi lahan menjadi tambak. Melalui penanaman mangrove bersama masyarakat, wilayah ini kini mulai pulih.

“Dulu, tambak rusak dan air laut naik sampai ke rumah warga. Sekarang, dengan mangrove, ikan mulai kembali dan warga bisa olah buah mangrove jadi sirup untuk tambahan penghasilan,” kata Ahmad David, mitra petani mangrove LindungiHutan.

LindungiHutan menekankan bahwa pelestarian hutan bukan hanya soal menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga menjaga rantai pangan tetap utuh — dari petani, nelayan, hingga konsumen di kota. “Kita tidak bisa makan tanpa alam yang sehat. Menanam pohon hari ini adalah investasi untuk ketahanan pangan besok,” tambah Ben.

Melalui momentum Hari Pangan Sedunia, LindungiHutan mengajak masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam aksi “Hutan Lestari”, memastikan bumi tetap hijau dan meja makan tetap penuh. Ayo tanam pohon hari ini di lindungihutan.com — karena hutan lestari berarti pangan terjaga.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 958 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dukung Pertumbuhan Tim, RevComm Indonesia Umumkan Perpindahan Kantor

2 September 2026 - 14:23 WITA

BINUS HealthTech Festival 2026 Dorong Inovasi Teknologi untuk Layanan Kesehatan yang Lebih Merata

2 September 2026 - 13:55 WITA

Jasaviral Catat 4,8 Juta Order Sejak 2015, Perluas Layanan Social Media Marketing di 2026

2 September 2026 - 13:23 WITA

PT Pelindo Sinergi Lokaseva Bangun Kesadaran Bahaya Narkoba Pelajar Melalui Program TJSL Sobat Ananda Bersinar

2 September 2026 - 12:30 WITA

Posisi Long Bitcoin dan Ethereum Dominan di Pasar Global, Bittime Soroti Peluang Futures

2 September 2026 - 12:00 WITA

Penemuan Jenazah di Gardu PLN Sekitar Stasiun Pancoran Tidak Ganggu Operasional LRT Jabodebek

2 September 2026 - 11:24 WITA

Trending di Bisnis