Rote Ndao, Sulutnews.com – Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, hari ini melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Rote Ndao untuk menandai dimulainya pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN). Program ini merupakan bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada garam nasional.
Kunjungan Menteri Trenggono disambut hangat oleh Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, yang dipuji atas komitmen dan semangatnya dalam mendukung proyek ini. Peninjauan lokasi pembangunan difokuskan di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, yang dinilai memiliki potensi yang sangat baik untuk pengembangan industri garam.
Turut hadir dalam kunjungan ini Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Lakalena, serta jajaran pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan, termasuk Dirjen Pengelolaan Kelautan, Ir. A. Koswara, M.P. Dirjen Koswara menjelaskan tahapan pembangunan K-SIGN Rote Ndao yang terbagi dalam tiga tahap dan mencakup 10 zona, dengan total lahan seluas 14.870 Ha yang akan dikembangkan hingga tahun 2027. Proyek ini diproyeksikan akan menyerap lebih dari 26.000 tenaga kerja dan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat Rote Ndao.
Menteri Trenggono menyatakan optimismenya terhadap proyek ini, menekankan kualitas lahan dan salinitas air laut yang sesuai untuk produksi garam industri. Beliau juga menyampaikan rencana kolaborasi pemerintah daerah dan swasta untuk mempercepat pembangunan dan mencapai target produksi garam industri yang setara dengan kualitas garam impor. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan garam industri pangan, farmasi, dan Chlor Alkali Plant (CAP) dalam negeri.
Bupati Paulus Henuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada garam nasional. Sebagai bentuk penghormatan, Menteri Trenggono dianugerahi gelar adat “Manek Mana Nale Tasi” (Pangeran Laut yang membawa berkah dari laut) oleh Pemerintah dan masyarakat Rote Ndao.
Pembangunan K-SIGN Rote Ndao akan menelan anggaran sebesar Rp. 749 miliar pada tahun 2025 dan Rp. 853 miliar pada tahun 2026. Proyek ini merupakan investasi terbesar dalam pembangunan industri garam di Indonesia, dengan target produksi 2,6 juta ton garam per tahun.
Reporter:Dance Henukh





