Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 30 Mar 2026 13:19 WITA ·

Kejutan di Tengah Perang: Bitcoin Kalahkan Emas, Ini Penyebabnya!


Kejutan di Tengah Perang: Bitcoin Kalahkan Emas, Ini Penyebabnya! Perbesar

Jakarta, 30 Maret 2026 — Dinamika pasar global kembali menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi aset lindung nilai (safe haven), di mana Bitcoin (BTC) mulai mengungguli emas di tengah ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Data terbaru mencatat Bitcoin mengalami kenaikan sekitar 7% hingga 10% sejak akhir Februari, sementara emas justru terkoreksi hingga 19% dari level tertingginya.

Perubahan ini turut tercermin dari arus dana institusional. Produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencatat outflow hingga US$7,9 miliar, sedangkan Bitcoin menarik inflow lebih dari US$1,1 miliar hanya dalam dua pekan awal konflik. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan yield obligasi global dan lonjakan harga minyak, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai bahwa pergeseran ini menandai evolusi peran Bitcoin dalam lanskap keuangan global.

“Bitcoin kini semakin dilihat sebagai alternatif safe haven modern. Di tengah ketidakpastian global, investor membutuhkan aset yang tidak hanya aman, tetapi juga likuid dan dapat diakses kapan saja. Karakteristik ini yang membuat Bitcoin semakin relevan dibandingkan instrumen tradisional seperti emas,” ujar Calvin.

Faktor Institusi dan Dinamika Permintaan Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi tarik-menarik antara dorongan institusional dan ketidakpastian permintaan korporasi. Sejumlah institusi besar seperti BlackRock terus memperkuat ekspansi di sektor aset digital, mencerminkan meningkatnya komitmen terhadap kripto.

Namun, sinyal pasar menjadi lebih kompleks setelah Strategy, salah satu pembeli Bitcoin terbesar, diduga menghentikan sementara akumulasi rutinnya setelah 13 minggu berturut-turut membeli BTC. Hal ini berpotensi mengurangi salah satu sumber permintaan besar yang selama ini menopang harga.

“Masuknya institusi besar tetap menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang Bitcoin. Namun, pasar juga sensitif terhadap perubahan perilaku pemain besar. Ketika salah satu pembeli utama melambat, volatilitas jangka pendek bisa meningkat,” jelas Calvin.

Kelangkaan Pasokan Jadi Katalis Jangka Menengah-Panjang

Dari sisi fundamental, Bitcoin tetap didukung oleh mekanisme pasokan yang terbatas. Halving berikutnya yang dijadwalkan pada April 2028 akan kembali mengurangi laju suplai Bitcoin baru ke pasar.

Di saat yang sama, Tim Riset Tokocrypto melihat akumulasi oleh ETF dan perusahaan publik terus meningkat, yang secara struktural memperketat ketersediaan Bitcoin di pasar.

“Secara historis, siklus halving selalu menjadi katalis bullish dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan permintaan yang tetap atau meningkat, kelangkaan pasokan akan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga Bitcoin ke depan,” tambah Calvin.

Prospek Harga Bitcoin ke Depan

Meski demikian, sentimen pasar saat ini masih berada dalam tekanan. Indeks Crypto Fear & Greed menunjukkan level “Extreme Fear” di angka 8/100, yang secara historis sering menjadi sinyal pembalikan arah (contrarian signal).

Dengan kombinasi faktor tersebut, prospek Bitcoin ke depan diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek, namun konstruktif dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam skenario optimistis, jika arus masuk institusional berlanjut dan kondisi makro stabil, Bitcoin berpotensi kembali menguji level US$75.000 hingga US$80.000 dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, dalam skenario konservatif, tekanan dari suku bunga tinggi dan volatilitas pasar dapat menahan Bitcoin di kisaran US$60.000–US$65.000.

Calvin menegaskan bahwa investor perlu memahami karakteristik Bitcoin yang unik dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.

“Bitcoin sedang berada di fase transisi, dari aset spekulatif menjadi bagian penting dari sistem keuangan global. Volatilitas akan tetap ada, tetapi arah jangka panjangnya menunjukkan penguatan fundamental yang signifikan,” tutupnya.

Dengan demikian, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, serta arus dana institusional dalam menentukan strategi investasi di aset kripto.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Keselamatan di Jalan Tol, Jasa Marga Integrasikan Perangkat WIM, RFID Reader dan ANPR ke Sistem BLUe Kemenhub untuk Dukung Zero ODOL 2027

11 Agustus 2026 - 19:49 WITA

Masih Ada Waktu! Dupoin Blog Competition Resmi Diperpanjang

11 Agustus 2026 - 17:49 WITA

Mugen 2026: Hadirkan Model Context Protocol (MCP), RevComm Ciptakan Inovasi Voice Analytics untuk Bisnis

11 Agustus 2026 - 17:24 WITA

ESR dan INA Perluas Kemitraan untuk Pengembangan Logistik Baru di Indonesia

11 Agustus 2026 - 17:22 WITA

Rian D’Masiv hingga Didik Nini Thowok Puji Talenta AICE Got You! Solo

11 Agustus 2026 - 17:00 WITA

K Mall Semarakan Indonesia Shopping Festival 2026 Lewat Kemayoran Reimagined

11 Agustus 2026 - 16:59 WITA

Trending di Bisnis