Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 8 Feb 2026 14:13 WITA ·

IEF 2026: Logistik Jadi Tulang Punggung Perdagangan Digital


IEF 2026: Logistik Jadi Tulang Punggung Perdagangan Digital Perbesar

JAKARTA — Sesi IEF Talks Panel 2 bertema “Delivering Digital Commerce: The Logistics Layer” berlangsung di ARTOTEL Suites Mangkuluhur, Jakarta, membahas bagaimana logistik harus bertransformasi untuk mendukung ekosistem digital berbasis ION.

Tanpa logistik kuat, e-commerce tak efektif

Keynote disampaikan oleh Ratnesh Verma (Founder & CEO, PIDGE). “Digital commerce hanya akan sekuat rantai logistiknya. Jika pengiriman mahal dan lambat, manfaat e-commerce tidak akan dirasakan UMKM,” tegas Ratnesh.

Ia juga menyoroti pentingnya sistem logistik terbuka. “ION memberi peluang bagi pemain logistik kecil untuk masuk ke rantai nilai digital yang sebelumnya didominasi perusahaan besar,” katanya.

Menyatukan pemain besar dan kecil

Panel dipandu oleh Shoeb Kagda (Co-Founder IEF) dengan panelis Guruprasad Deshpande (ZAAPKO), T. Koshy (ONDC), Alfons Tefa (Automa), dan Ratnesh Verma (PIDGE). Guruprasad menekankan standar interoperabilitas. “Kita butuh bahasa data yang sama agar semua pemain logistik bisa terhubung tanpa gesekan,” ujarnya. 

“Tanpa standar terbuka, integrasi akan mahal dan lambat,” tambahnya.

T. Koshy menjelaskan pelajaran dari India melalui ONDC. “ONDC menunjukkan bahwa open network bisa menurunkan biaya logistik sekaligus meningkatkan persaingan sehat,” katanya.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadaptasi model ini sesuai konteks lokal,” jelas Koshy.

Alfons Tefa menyoroti tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan. “Last-mile delivery di daerah terpencil adalah tantangan terbesar. Kita butuh solusi berbasis komunitas, bukan hanya perusahaan besar,” ujar Alfons. 

“ION harus mendorong model kolaboratif yang melibatkan kurir lokal,” tambahnya.

Kesimpulan panel

Panel menegaskan bahwa logistik bukan sekadar layanan pendukung, melainkan infrastruktur inti ekonomi digital Indonesia.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 897 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gedung Baru Kedutaan Besar India di Jakarta Akan Mulai Beroperasi September, Tandai Babak Baru Hubungan Bilateral

16 Agustus 2026 - 20:35 WITA

Kedutaan Besar India Rayakan Hari Kemerdekaan India ke-80 di Jakarta dengan Pengibaran Bendera, Pertunjukan Budaya, dan Momentum Baru Hubungan Bilateral

16 Agustus 2026 - 20:16 WITA

Dukung Kawasan Hijau, Pelindo Tanam 600 Pohon di Coastal Area Karimun

16 Agustus 2026 - 19:41 WITA

Perkuat Sektor E-KYC, Api.co.id Rilis API Dukcapil Check dan NPWP Check

16 Agustus 2026 - 15:32 WITA

Dukung Pertamina Patra Niaga, Elnusa Petrofin Percepat Distribusi Energi Pascabencana Gempa Nusa Tenggara Timur

16 Agustus 2026 - 15:25 WITA

AI Ubah Lanskap Pemasaran Digital Indonesia, Tigo AI Tawarkan Model Terintegrasi untuk Brand hingga UMKM

16 Agustus 2026 - 14:16 WITA

Trending di Bisnis