Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 24 Apr 2026 14:25 WITA ·

Harga Emas Sulit Bangkit, Tren Turun Masih Mendominasi


Harga Emas Sulit Bangkit, Tren Turun Masih Mendominasi Perbesar

Harga emas dunia pada perdagangan hari Jumat (24/4) diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan, seiring sinyal pelemahan yang cukup kuat dari sisi teknikal serta dukungan faktor fundamental yang belum berpihak pada penguatan. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai bahwa pergerakan XAU/USD dalam jangka pendek masih berada dalam tren turun, dengan potensi penurunan lanjutan yang perlu diwaspadai pelaku pasar.

Secara teknikal, harga emas saat ini masih tertahan di bawah indikator Moving Average 21 dan 34. Kedua indikator tersebut berfungsi sebagai resistance dinamis yang belum berhasil ditembus oleh harga. Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan jual di pasar masih cukup dominan, sehingga peluang untuk kembali melemah masih terbuka.

Selain itu, pola pergerakan harga juga menunjukkan terbentuknya formasi bearish pennant, yang umumnya menjadi sinyal kelanjutan tren turun. Pola ini biasanya muncul setelah fase penurunan yang cukup tajam dan menandakan bahwa pasar sedang bersiap untuk melanjutkan pelemahan. Dengan adanya sinyal ini, arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif.

Dalam proyeksi pergerakannya, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support terdekat di kisaran 4.668. Level ini menjadi titik penting yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpotensi melanjutkan pelemahan ke level berikutnya di sekitar 4.644.

Meski demikian, area support tersebut juga berpotensi menjadi titik penahan sementara yang dapat memicu pergerakan konsolidasi atau bahkan rebound jangka pendek. Oleh karena itu, respons harga di area tersebut akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Ketika nilai dolar meningkat, harga emas cenderung mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor global. Hal ini membuat permintaan terhadap emas cenderung menurun dalam jangka pendek.

Selain itu, kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi faktor utama yang membebani harga emas. Suku bunga yang tinggi membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga memperkuat tekanan tersebut. Dalam kondisi yield yang meningkat, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih tinggi, sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih besar.

Di sisi lain, kondisi pasar global yang relatif stabil turut mengurangi minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketika sentimen pasar berada dalam kondisi positif atau risk-on, investor biasanya lebih memilih aset berisiko yang memberikan potensi keuntungan lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap emas menurun.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung lemah. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting, tekanan penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi arah harga. Perubahan sentimen secara tiba-tiba, baik dari data ekonomi maupun faktor geopolitik, dapat memicu volatilitas yang cukup tinggi.

Dengan kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan fokus pada level-level penting yang menjadi acuan pergerakan harga. Pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis dinilai penting untuk menghadapi pasar yang masih bergerak dinamis.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 941 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Perkuat Transformasi Mikro, BRI Region 6 Jakarta 1 Gelar Pembekalan Motivasi dan Sharing Session Bersama Direktur Mikro

8 Agustus 2026 - 23:34 WITA

BRI BO Sudirman Semanggi Gelar Simulasi BCM, Perkuat Kesiapan Hadapi Kondisi Darurat

8 Agustus 2026 - 23:28 WITA

BRI BO Sudirman Semanggi Hadiri Perayaan HUT ke-7 DWP DPD RI, Pererat Silaturahmi dan Sinergi

8 Agustus 2026 - 23:24 WITA

BRI BO Sudirman Semanggi Hadiri Peresmian Pembukaan Koperasi DPD RI, Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

8 Agustus 2026 - 23:22 WITA

Pemerintah Perkuat Koordinasi Pelaksanaan Ekspor Mineral

8 Agustus 2026 - 22:00 WITA

Persiapan Sabbatical Leave: Cara Mengelola Dana Sebelum Rehat dari Dunia Kerja

8 Agustus 2026 - 17:53 WITA

Trending di Bisnis