Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 6 Feb 2026 16:11 WITA ·

Harga Emas Berpeluang Kembali Naik, Investor Cermati Arah Kebijakan The Fed


Harga Emas Berpeluang Kembali Naik, Investor Cermati Arah Kebijakan The Fed Perbesar

Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan hari ini masih berlangsung dinamis dengan kecenderungan bergerak tidak stabil. Setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di atas area US$5.500 per ounce, harga emas mengalami tekanan koreksi yang cukup dalam. Penurunan tersebut dipicu oleh kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat serta melemahnya minat terhadap aset safe haven, seiring dengan rilis sejumlah data ekonomi AS dan perkembangan terbaru terkait kebijakan moneter Federal Reserve. Meski sempat tertekan, emas mulai menunjukkan upaya pemulihan terbatas yang mengindikasikan adanya ketertarikan beli dari pelaku pasar di level harga yang lebih rendah.

Berdasarkan analisis yang disampaikan oleh Andy Nugraha dari Dupoin Futures, koreksi harga emas yang terjadi saat ini masih dapat dikategorikan sebagai fase penyesuaian yang wajar. Dalam perspektif tren jangka menengah hingga panjang, arah pergerakan emas dinilai masih berada dalam struktur bullish. Tekanan jual yang muncul lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, setelah pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang berpotensi lebih ketat dalam waktu dekat. Selain itu, mencuatnya nama figur beraliran hawkish seperti Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed turut menambah tekanan sementara terhadap emas, karena memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.

Meski sentimen tersebut memberi dampak negatif dalam jangka pendek, Andy Nugraha menegaskan bahwa tekanan yang ada belum cukup kuat untuk membalikkan tren utama emas secara keseluruhan. Apabila kondisi pasar kembali kondusif dan minat risiko mulai membaik, harga emas berpeluang melanjutkan pergerakan naik. Dalam skenario positif, XAU/USD diproyeksikan dapat mengarah ke area 5.282 pada pekan depan. Level tersebut dipandang sebagai target teknikal penting, khususnya jika harga mampu bertahan di atas area support dinamis dan dorongan beli kembali menguat.

Namun demikian, Dupoin Futures juga mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mengantisipasi kemungkinan skenario negatif. Jika harga emas mengalami pembalikan arah yang lebih dalam dan menembus level kunci di sekitar 4.368, maka tekanan jual lanjutan berpotensi membawa harga turun menuju area 4.033 pada pekan mendatang. Skenario ini bisa terjadi apabila dolar AS melanjutkan penguatannya, didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis lebih solid dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sehingga menekan pergerakan harga emas.

Dari sisi fundamental, prospek emas untuk jangka menengah hingga panjang masih dinilai cukup menjanjikan. Salah satu faktor utama yang menopang outlook positif ini adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun 2026. Penurunan suku bunga umumnya akan menekan imbal hasil riil dan mengurangi opportunity cost dalam memegang emas, sehingga membuat logam mulia ini kembali menarik bagi investor. Selain itu, permintaan emas sebagai aset lindung nilai masih relatif kuat, terutama dari investor institusional dan bank sentral global yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa mereka.

Sejumlah bank besar dunia juga masih mempertahankan proyeksi positif terhadap harga emas dalam jangka tahunan, meskipun volatilitas jangka pendek cukup tinggi akibat dinamika kebijakan moneter. Hal ini menunjukkan bahwa secara fundamental, permintaan terhadap emas masih dianggap solid dan tidak mudah tergerus oleh sentimen sesaat.

Ke depan, arah pergerakan harga emas diperkirakan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi utama Amerika Serikat, seperti laporan ketenagakerjaan, inflasi, serta perkembangan CPI dan real yield. Data-data tersebut berpotensi menjadi pemicu pergerakan signifikan, terutama jika hasilnya menyimpang jauh dari ekspektasi pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan fundamental dan teknikal secara berimbang sebagai dasar dalam menentukan strategi transaksi emas di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 933 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gedung Baru Kedutaan Besar India di Jakarta Akan Mulai Beroperasi September, Tandai Babak Baru Hubungan Bilateral

16 Agustus 2026 - 20:35 WITA

Kedutaan Besar India Rayakan Hari Kemerdekaan India ke-80 di Jakarta dengan Pengibaran Bendera, Pertunjukan Budaya, dan Momentum Baru Hubungan Bilateral

16 Agustus 2026 - 20:16 WITA

Dukung Kawasan Hijau, Pelindo Tanam 600 Pohon di Coastal Area Karimun

16 Agustus 2026 - 19:41 WITA

Perkuat Sektor E-KYC, Api.co.id Rilis API Dukcapil Check dan NPWP Check

16 Agustus 2026 - 15:32 WITA

Dukung Pertamina Patra Niaga, Elnusa Petrofin Percepat Distribusi Energi Pascabencana Gempa Nusa Tenggara Timur

16 Agustus 2026 - 15:25 WITA

AI Ubah Lanskap Pemasaran Digital Indonesia, Tigo AI Tawarkan Model Terintegrasi untuk Brand hingga UMKM

16 Agustus 2026 - 14:16 WITA

Trending di Bisnis