Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News : Polnustar Kembali Mewisuda 136 Mahasiswa Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau

Manado · 27 Sep 2026 20:22 WITA ·

Antrean Pendek Mar Pendo: Ketika Solar Langka Akal Sehat Ikut Antre


Gambar Ilustrasi Perbesar

Gambar Ilustrasi

Oleh: Dr.Merson Simbolon, SE.,MBA, M.Si

Antrean kendaraan untuk mengisi BBM jenis solar masih terlihat mengular di sejumlah SPBU di Kota Manado. Mulai dari Kairagi, Paal Dua, Ring Road, Sario, Politeknik, hingga beberapa SPBU lain, antrean truk bahkan mencapai ratusan meter. Para sopir mengaku rata-rata harus menunggu empat sampai lima jam. Banyak dari mereka sudah datang sejak pukul empat pagi, bahkan ada yang rela menginap, meski SPBU baru buka pukul tujuh atau delapan pagi.

Fenomena ini bukan lagi sekadar persoalan antrean. Ia sudah menjadi semacam ritual harian yang melelahkan, membosankan, sekaligus menggelitik logika. Di sela-sela menunggu, para sopir truk maupun mobil pribadi saling bertukar cerita. Ada SPBU yang antreannya panjang tetapi cepat. Ada yang pendek tetapi lambat karena nozzle terbatas. Ada pula SPBU yang sudah mengatur parkiran dengan tarif sepuluh ribu hingga dua puluh ribu rupiah.

Para sopir kendaraan pribadi pun mengeluh. Mereka menilai antrean solar sudah di luar nalar. “Saya mengisi BBM hanya satu kali dalam dua minggu,” ujar seorang sopir mobil pribadi. Logikanya, kendaraan yang hanya beroperasi di dalam Kota Manado tidak mungkin menghabiskan satu tangki penuh setiap hari. “Coba cek saja, yang antre di SPBU itu pasti truk yang sama setiap hari. Bagaimana bisa satu kendaraan menghabiskan BBM satu tangki full dalam sehari, sementara posisinya hanya ada di dalam kota?” ujar sopir lainnya.

Keluhan itu bukan tanpa dasar. Ia menyiratkan adanya kejanggalan: antrean berulang, kendaraan yang sama, dan konsumsi solar yang tidak wajar. Jika benar demikian, maka persoalan solar di Manado bukan sekadar kelangkaan pasokan sebab untuk Sulawesi Utara Pertamina meningkatkan penyaluran harian Biosolar sebesar 8 persen dibandingkan Agustus serta menambah nozzle Biosolar.  Persoalan pengawasan dan penegakan aturan yang sudah dilakukan namun perlu dilanjutkan sehingga antrean kembali dapat landai seperti di Kendari dan Makassar dan daerah lain di Sulawesi.

“Pendek Mar Pendo”

Yang menarik diperbincangkan pagi ini, 27 September 2026, di salah satu SPBU di Daerah Dendengan Manado, adalah istilah “Pendek Mar Pendo”. Saat dihitung, antreannya hanya sekitar dua puluh kendaraan, baik truk maupun mobil pribadi. Namun, antrean itu bisa memakan waktu berjam-jam. Para sopir pun menyebutnya “Pendek Mar Pendo”.

Pendek, karena awalnya hanya sekitar dua puluh kendaraan. Tetapi pendo punya banyak arti. Dalam pergaulan di Manado, kata pendo sering dipakai sebagai umpatan atau makian. Kata ini ditujukan kepada seseorang yang dianggap bodoh, lemot, tidak nyambung, atau tidak paham situasi. Ia bisa menjadi ekspresi kekesalan, olok-olokan antarteman dengan nada bercanda, tetapi dalam situasi tertentu bisa bermakna kasar. Dalam bahasa Manado, pendo juga bisa merujuk pada jenis kelamin, bahkan dalam konteks yang lebih kasar, menunjuk pada anjing.

Namun, dalam konteks antrean pagi ini, “Pendek Mar Pendo” bisa diartikan setidaknya dalam tiga hal:

  1. Antreannya pendek, tetapi lemot atau lambat.
    Kendaraan sedikit, tetapi waktu tunggu tetap berjam-jam.
  2. Antreannya pendek, tetapi padat karena antrean berulang.
    Para sopir truk yang sama kembali mengantre, bahkan berani menyalip antrean sebelumnya.
  3. Antreannya pendek, tetapi siapa yang kuat, dia yang dapat.
    Yang lemah harus bersabar, bahkan pulang tanpa mendapat BBM.

Menurut para sopir, biasanya penyebab antrean lambat adalah nozzle terbatas, gangguan sistem EDC pembaca kartu, atau jaringan internet untuk verifikasi subsidi. Namun, pada pagi ini, setelah ditelusuri, bukan nozzle atau sistem EDC yang bermasalah. Dengan mata kepala sendiri, para sopir truk terlihat melakukan antrean berulang-ulang. Mereka bahkan dengan berani menyalip antrean sebelumnya. Maka, pendo di sini bisa juga berarti padat, dan bisa pula berarti kuat.

Mafia Solar dan Krisis Akal Sehat

Jika dibiarkan, fenomena “Pendek Mar Pendo” bukan hanya merugikan sopir dan masyarakat, tetapi juga merusak tata kelola distribusi BBM bersubsidi. Antrean yang berulang, kendaraan yang sama, dan konsumsi solar yang tidak masuk akal adalah tanda-tanda adanya penyalahgunaan. Di sinilah peran pemerintah, Pertamina, dan aparat penegak hukum diuji.

Pemerintah dan Pertamina perlu segera membenahi sistem distribusi solar bersubsidi. Pengawasan harus diperketat, terutama terhadap SPBU dan pengguna QR Code. Jangan sampai QR Code yang seharusnya menjadi alat kendali justru menjadi celah baru bagi penyalahgunaan. Aparat penegak hukum juga harus berani memberantas mafia solar, siapa pun yang terlibat. Sanksi tegas harus diberikan kepada SPBU yang terbukti bermain-main, maupun kepada pihak yang menyalahgunakan QR Code.

Para sopir yang setiap hari mengantre bukan hanya kehilangan waktu dan tenaga. Mereka kehilangan penghasilan, kehilangan kesabaran, dan perlahan-lahan kehilangan kepercayaan pada sistem. Mereka menyampaikan harapan sederhana: agar pemerintah dan Pertamina bersama aparat penegak hukum segera mengatasi antrean, mengawasi, memberantas mafia solar, dan memberikan sanksi tegas kepada SPBU serta penyalahgunaan QR Code. Harapan itu bukan harapan yang berlebihan. Itu adalah hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik yang adil, aman, tertib, dan lancar.

“Pendek Mar Pendo” mungkin awalnya hanya lelucon di antara para sopir. Tetapi di balik lelucon itu, ada kenyataan pahit: antrean solar telah menjadi cermin buruknya tata kelola energi dan lemahnya penegakan aturan. Jika tidak segera dibenahi, bukan hanya solar yang langka, tetapi juga akal sehat.

(*) Penulis adalah Pemred Sulutnews.com, Dekan FEB Unipar Manado, IKAL PPRA LX.

 

Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya

Menyulap Bijih Emas Menjadi Rupiah: Potensi dan Realitas Pertambangan di Mitra dan Boltim

27 September 2026 - 11:19 WITA

Ibadah Sabat Kesehatan GMAHK Ranotana, Rawung : Himbau Bijak Gunakan Bahan Kimia dan Terapkan Gaya Hidup Sehat

26 September 2026 - 22:30 WITA

Pemprov Sulut Bentuk Tim Khusus Seleksi Kepala Sekolah, 66 Kepsek PLT Menjadi Fokus Utama

26 September 2026 - 21:12 WITA

Irene Golda Pinontoan Dipercaya Menjadi Bendahara BPB PDIP Sulut

26 September 2026 - 10:42 WITA

Capt. Remly Kandoli di Lantik Ketua Badan Penanggulangan Bencana PDI Perjuangan Sulut

26 September 2026 - 10:35 WITA

Tiga Banteng Muda Indonesia Siap Mekarkan Sayap Perjuangan

26 September 2026 - 10:28 WITA

Trending di Manado