Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 4 Mar 2026 23:14 WITA ·

AI Kini Jadi Penentu Awal Pilihan Konsumen, Brand Berisiko Tersaring dari Persaingan


AI Kini Jadi Penentu Awal Pilihan Konsumen, Brand Berisiko Tersaring dari Persaingan Perbesar

AI kini berfungsi sebagai gerbang awal persaingan brand dengan menyaring dan merekomendasikan hanya beberapa nama yang dianggap paling kredibel. Dengan meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global, brand yang tidak membangun otoritas digital berisiko tersaring dari consideration set sejak tahap awal pengambilan keputusan konsumen.

Peran kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengambilan keputusan konsumen kini berkembang jauh melampaui fungsi pencarian informasi. AI mulai berperan sebagai “penjaga gerbang” yang menentukan brand mana yang masuk dalam daftar pertimbangan awal sebelum konsumen melakukan evaluasi lebih lanjut.

Saat pengguna bertanya kepada sistem, seperti AI Overviews atau ChatGPT, mengenai rekomendasi produk, layanan, atau solusi tertentu, AI tidak menampilkan seluruh pemain di pasar. Sistem tersebut menyaring sejumlah brand yang dinilai paling relevan dan kredibel, lalu merangkumnya menjadi jawaban instan.

Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global. Survei internasional yang melibatkan lebih dari 48.000 responden di 47 negara menunjukkan bahwa sekitar dua per tiga responden kini menggunakan AI secara rutin, dan 83% percaya bahwa AI akan memberikan manfaat dalam kehidupan mereka, termasuk dalam membantu pengambilan keputusan.

Di sisi korporasi, laporan global menunjukkan lebih dari 70% organisasi telah mengintegrasikan AI dalam berbagai fungsi bisnis, seperti pemasaran, analitik, dan pengambilan keputusan strategis. Artinya, AI tidak lagi menjadi eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi infrastruktur kompetitif di berbagai industri.

Dalam konteks ini, AI tidak hanya memfasilitasi pencarian, tetapi membentuk persepsi awal konsumen terhadap brand. Jika sebuah brand tidak disebut dalam jawaban AI, maka ia berpotensi tidak dipertimbangkan sejak awal.

“Masalahnya bukan lagi soal ditemukan atau tidak. Masalahnya sekarang siapa yang masuk ke daftar pilihan awal yang disaring oleh AI. Kalau tidak masuk, brand praktis tidak ikut dipertimbangkan,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI.

Menurut Alexandro, sistem AI bekerja dengan logika seleksi yang berbeda dari mesin pencari tradisional. AI mengumpulkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, reputasi digital, serta validasi eksternal, lalu merangkum brand yang dianggap paling layak direkomendasikan.

Penelitian McKinsey & Company tentang bagaimana kecerdasan buatan mampu mendorong produktivitas dan inovasi juga menunjukkan bahwa meskipun mayoritas perusahaan mulai merangkul penggunaan AI, hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu mengekstraksi nilai strategis secara menyeluruh. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan kompetitif antara brand yang sekadar menggunakan kecerdasan buatan dengan brand yang memahami cara membangun posisi dalam ekosistem AI.

Fenomena ini berpotensi menciptakan efek konsentrasi di berbagai industri. Akibatnya, hanya segelintir brand yang terus disebut dan diperkuat oleh sistem AI, sementara lainnya semakin jarang terlihat.

“AI sekarang berperan seperti asisten pribadi konsumen. Dan asisten ini tidak menampilkan semua opsi, hanya yang dianggap paling kredibel dan relevan. Kalau brand tidak membangun fondasi otoritas digitalnya, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,” jelas Alexandro.

Perusahaan yang tidak menyesuaikan strategi visibilitasnya berisiko mengalami erosi daya saing secara perlahan. Bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena tidak masuk dalam radar sistem yang kini menjadi perantara utama antara brand dan konsumen.

Di era AI, persaingan tidak lagi dimulai ketika konsumen membuka website atau marketplace. Persaingan sudah dimulai pada tahap yang lebih awal, di algoritma yang menentukan siapa yang layak direkomendasikan.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 943 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

IDX, BRIDS, dan IIX Perkuat Ekosistem Obligasi Tematik untuk Mengembangkan Potensi Pasar Senilai Rp7.800 Triliun

13 Agustus 2026 - 16:33 WITA

Rayakan Kemerdekaan di Menara Jakarta dengan Promo 17•8•45

13 Agustus 2026 - 16:18 WITA

BPR KS Carnival 2026: Menumbuhkan Semangat Kemerdekaan di Tengah Masyarakat

13 Agustus 2026 - 16:04 WITA

Nikmati Perjalanan Merdeka Dengan Diskon Istimewa dari Daop 2 Bandung

13 Agustus 2026 - 16:01 WITA

Perayaan 18 Tahun Mall of Indonesia: Bigger Energy and Unforgettable Moments

13 Agustus 2026 - 14:46 WITA

Membangun Bersama Indonesia: Apa yang Diungkap Komitmen Jangka Panjang Google tentang Kemitraan Teknologi yang Dibutuhkan Negara

13 Agustus 2026 - 14:11 WITA

Trending di Bisnis