Tomohon,Sulutnews.com — Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) berkomitmen mempererat hubungan persaudaraan dan kerja sama dengan Gereja mitra Uniting Church in Australia (UCA). Hal ini ditegaskan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, Pdt. Dr. Adolf Katuuk Wenas, M.Th., dalam pertemuan dengan jajaran pimpinan UCA Neutral Bay, Sydney, yang berlangsung di Kantor Sinode GMIM, Tomohon, Kamis (15/10/2026).
Turut hadir Pdt. Alexander Pittaway dari UCA Neutral Bay serta Maudie Rindorindo-Gusti, Ketua Majelis Gereja Kristen Indonesia (GKI) UCA Neutral Bay. Pendamping pertemuan meliputi sejumlah Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Bendahara BPMS GMIM, serta Pengurus Yayasan Bridge of Hope Ir. Miki Juanita Wenur, MAP., Ria Siagian, dan Pdt. Dr.Feybe Lumanauw, MPc.
Mengaktifkan Kembali Komunitas GMIM di Melbourne
Pdt. Wenas menjelaskan bahwa hubungan persaudaraan antara GMIM dan UCA telah terjalin lama dan akan terus diperkuat melalui berbagai program bersama. Langkah nyata yang sedang dipersiapkan adalah pengaktifan kembali komunitas GMIM di Melbourne, Australia.
“Kami sedang mempersiapkan pendeta dan vikaris yang akan ditugaskan di sana. Mari kita doakan agar pelayanan ini dapat berjalan lancar dan baik,” ujarnya.
Kerja sama dengan UCA Neutral Bay akan ditindaklanjuti melalui diskusi dan berbagi pengalaman pelayanan secara daring, seminar, serta kunjungan timbal balik antar-gereja.

Pelayanan Bersama untuk Jemaat di Luar Negeri
Pdt. Alexander Pittaway menyambut baik langkah ini dan menyampaikan apresiasi yang tinggi.
“Hubungan oikumene dengan GMIM adalah bukti keterbukaan gereja untuk saling menopang dalam pelayanan maupun kegiatan kemanusiaan. Jemaat yang kami layani di sini banyak berasal dari GMIM — itulah mengapa ikatan ini harus terus dipererat agar mereka dapat terlayani secara maksimal,” tuturnya.
Menjaga Ikatan dengan Tanah Leluhur
Maudie Rindorindo-Gusti menambahkan bahwa dalam pelayanan GKI UCA Neutral Bay, budaya dan kearifan lokal dari berbagai daerah di Indonesia — termasuk Minahasa — kerap ditampilkan dalam ibadah untuk menjaga ikatan emosional jemaat dengan tanah air.
“Tata ibadah bernuansa kedaerahan menciptakan suasana yang penuh persaudaraan. Torang samua basudara — kita semua bersaudara,” ungkapnya.(Merson)






