Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 25 Mei 2026 15:26 WITA ·

Pasar Konstruksi Tembus Rp 5.200 Triliun, Sistem Pintu Jadi Kunci Efisiensi Proyek


Pasar Konstruksi Tembus Rp 5.200 Triliun, Sistem Pintu Jadi Kunci Efisiensi Proyek Perbesar

Efisiensi konstruksi kini tidak lagi hanya soal menekan biaya material di awal proyek. Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan bangunan berkelanjutan, industri konstruksi Indonesia mulai berfokus pada efisiensi operasional jangka panjang serta kecepatan instalasi di lapangan.

Riset Mordor Intelligence memproyeksikan pasar konstruksi Indonesia tumbuh 5,4 persen secara riil pada 2026, dengan nilai pasar mencapai 329,40 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.200 triliun.

Di tengah pertumbuhan tersebut, komponen bangunan yang sebelumnya kerap dianggap pelengkap, seperti sistem pintu, mulai diposisikan sebagai bagian penting dalam perencanaan proyek modern. Bangunan saat ini tidak lagi dirancang per komponen, melainkan sebagai sistem terintegrasi yang harus mendukung efisiensi ruang, efisiensi energi, hingga kelancaran mobilitas dan distribusi logistik.

Kebutuhan ini semakin relevan seiring berkembangnya proyek-proyek komersial modern di Indonesia, termasuk pusat data (data center) dan kawasan logistik berskala besar. Tren global juga menunjukkan meningkatnya penggunaan sistem pintu geser berukuran besar (sliding systems) dan teknologi smart lock yang membutuhkan presisi sejak tahap desain agar tidak menghambat proses konstruksi maupun operasional bangunan.

Menanggapi tren tersebut, Bernardus Rizky, COO PT Roda Bangun Mandiri (RBM), menilai pendekatan konvensional dalam pemilihan material bangunan sudah mulai ditinggalkan. Menurutnya, integrasi sistem bangunan sejak tahap perencanaan menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi proyek secara menyeluruh.

“Bangunan modern nggak lagi dibangun komponen demi komponen, melainkan sebagai sistem yang terintegrasi. Pendekatan ini menjadi penting untuk mengatasi berbagai tantangan konstruksi, mulai dari pemborosan ruang, proses instalasi yang lambat di lapangan, hingga membengkaknya biaya perawatan di masa depan,” ujar Bernardus dalam keterangan tertulis yang diterima media, Senin (25/5/2026).

Ia menambahkan, pelaku industri kini mulai melihat investasi pada sistem bangunan yang tepat sejak awal sebagai langkah untuk menekan total biaya operasional properti dalam jangka panjang.

Karena itu, RBM mendorong kolaborasi yang lebih erat antara penyedia teknologi bangunan, arsitek, dan kontraktor sejak tahap awal perencanaan guna menjawab kebutuhan efisiensi, keamanan, dan estetika pada proyek konstruksi modern di Indonesia.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 931 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

BINUS Hadirkan PADI Padel Kemanggisan, Perkuat Ekosistem Gaya Hidup Aktif dan Kebersamaan

5 Agustus 2026 - 14:00 WITA

Persaingan Kedai Kopi Meningkat, Sistem POS Bantu Tingkatkan Efisiensi Operasional

5 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Wujudkan Generasi Sehat dan Produktif, SUCOFINDO Banjarmasin Gelar Sosialisasi HIV/AIDS

5 Agustus 2026 - 10:49 WITA

Safe Haven Kembali Diburu, Dupoin Futures Prediksi Harga Emas (XAUUSD) Menguat

5 Agustus 2026 - 10:32 WITA

Pelindo Multi Terminal Tanjung Intan Perkuat Kinerja Operasional Pelabuhan

5 Agustus 2026 - 09:19 WITA

Cara Top Up Game Tercepat & Teraman 2026

5 Agustus 2026 - 09:00 WITA

Trending di Bisnis