Reporter : Dance Henukh
NTT.sulutnews.com – Wah, ini nih kabar yang bikin bangga banget! Prof. YLH udah dipercaya nih sama dua klien buat ngurusin dua kasus tanah ulayat yang jadi perhatian besar di NTT. Bantuan juga ada lho dari 11 pengacara ternama dari Kantor Pengacara ATKI & PARTNERS yang berbasis di Jakarta Barat. Seru banget kan!
Setelah surat kuasanya diterima, Prof. YLH bareng tim dari Jakarta bakal ngirim surat ke semua pihak terkait lho – mulai dari Pemerintah Pusat, PemProv NTT, sampe Pemkab Kupang – tepatnya tanggal 18 Februari 2026. Setelah itu, dalam waktu sekitar sebulan sampe batas 1 April 2026, bakal dilakukan upaya eksekusi dengan pemasangan papan kepemilikan buat kedua tanahnya. Tentu aja, suratnya juga bakal dikasih tahu ke pihak kepolisian mulai dari Kapolri, Kapolda NTT, sampe Kapolres Kupang di Babau.
Kasus Pertama: Keluarga SONBAIT dari Bakunase
Keluarga ini lagi berjuang buat ambil balik tanah ulayatnya yang lebih dari 9 hektare nih. Saat ini tanahnya dikuasai sama beberapa instansi, antara lain dari Kementerian Kehutanan (Balai P2SDM Wilayah VII, Balai Perhutanan Sosial Kupang, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Dinas Lingkungan Hidup & Kehutanan, UPTD Laboratorium Lingkungan Prov. NTT) dan juga Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. NTT – UPTD Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Lokasinya ada sekitar Jalan Alfonsus Nisnoni, Kelurahan Air Nona.
Yang seru nih – keluarga Sonbait udah menang nih berdasarkan Putusan PK dari Mahkamah Agung dengan Nomor Reg. No. 193PK/Pdt/1981 yang diputus tanggal 1 Agustus 1989. Ada juga Surat Keterangan dari Dewan Pemerintah Swapraja Kupang Nomor 12/SWR-KPG/1960 tanggal 29 Maret 1960 yang jelas nyatakan kalau tanah yang dipake buat pembibitan itu adalah hak ulayat yang diberikan cuma berdasarkan persetujuan aja, tanpa ada sirih-pinang (okomama) kayak yang biasa ada di Hukum Adat Timor. Nah, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si (putra Fetor Foenay yang ikut menyaksikan waktu itu) juga bakal diminta ikut dalam pembahasan keadilan restoratif yang mau diprakarsain sama Gubernur NTT buat ngelestarikan budaya lokal kita.
Kasus Kedua: Keluarga BENYAMIN dari Babau
Prof. YLH juga dapet amanah buat tangani kasus keluarga Benyamin, dengan ahli warisnya Drs. Jan Chr. Benyamin, M.Si. Tujuannya buat ambil balik tanah ulayat seluas 170,55 hektare yang sekarang dikuasai sama PT Sasando di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Tanah ini punya Buku Tanah Nomor 7 dengan Sertifikat HGU Nomor 24.02.14.06.Z.OOO7 tanggal 6 September 1993 yang masa berlakunya udah habis tanggal 31 Desember 2023.
Yang penting nih – Direktorat Jenderal Kekayaan Negara udah ngakui kalau tanah ini bukan tanah negara yang tidak tercatat. Bahkan Menteri Agraria/Kepala BPN juga udah diminta buat membatalkan HGU nya dan kembalikan ke Drs. Jan Christofel Benyamin, M.Si sebagai ahli waris Sonaf Oninama. Bahkan Direktorat Jenderal Penanganan Masalah Agraria juga udah ngirim surat tanggal 30 Januari 2020 buat minta pembatalan, tapi belum ada tindak lanjut. Makanya sekarang bakal hubungi Bupati Kupang saat ini, Bapak Yoseph Lede, SH buat jadi fasilitator buat mewujudkan surat Bupati yang udah ada sejak tahun 2014.
Awal Baik Bagi Profesi Baru dan Kembali Mengabdi di Kampus
Kedua tugas berat ini jadi awal yang sangat baik buat Prof. YLH dalam profesi barunya sebagai Paralegal & Mediator Tingkat Nasional lho! Sebagai Alumni Terbaik Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara yang udah dapet Akreditasi A dari Mahkamah Agung Nomor 148/KMA/SK.HK.1.2.5/VI/2024, sekarang dia juga tercatat sebagai “Mediator Non-Hakim” di beberapa pengadilan di daerah ini – mulai dari Pengadilan Negeri Rote Ndao, Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang, sampe Pengadilan Negeri Oelamasi. Semoga dia bisa nggabungin keahlian hukum sama kemampuan mediasi buat nemuin solusi yang adil buat semua pihak ya!
Selain ngurusin praktik hukum dan mediasi, Prof. YLH juga udah kembali mengabdi lho sebagai Dosen PNS di Prodi S1 Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nusa Lontar (UNSTAR) Rote. Jadi bisa nyambungin pengalaman praktisnya di lapangan sama ilmu yang diajarkan ke anak-anak muda kita. Semangat terus ya Prof. YLH!





