Jakarta,Sulutnews.com – Pernyataan sejumlah tokoh nasional terkait Kapolri di medsos dinilai kurang santun, beredarnya opini negatif yang menyerang kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo dengan narasi dan bahasa yang kurang santun dan beradab justru menuai keprihatinan dari masyarakat. Saat ini narasi ujaran kebencian dan hujatan di media sosial kepada Kapolri dan institusi polri dianggap sudah mengancam kesehatan mental dan persatuan bangsa. Tokoh publik diminta untuk menjadi contoh yang baik dalam menyampaikan kritikan bukan sekadar caci maki yang terus dipertontonkan diruang publik dan media sosial.
Kordinator LAKSI Azmi Hidzaqi dalam siaran persnya mengajak semua komponen masyarakat agar tidak saling menghujat hanya karena berbeda sikap dan pandangan publik terkait posisi polri di bawah kementrian atau di bawah Presiden langsung, sebab “perbedaan pendapat dan dukungan publik adalah hal lumrah, yang tidak perlu lagi dipertentangkan, dan dipermasalahkan, apalagi sampai saling menghujat.” Oleh karena itu kami meminta agar para tokoh nasional harus dapat memberikan contoh yang baik dalam menyampaikan masukan dan kritik terhadap kapolri, stop melakukan penggiring opini yang menyesatkan publik.
Azmi berpandangan, selama ini para tokoh elit yang memberikan pandangannya di media sosial terkait polri kurang berkualitas serta tidak memberikan pendidikan politik yang sehat bagi masyarakat. Sebab kalau hanya saling menghujat, masyarakat bukannya simpati, malah semakin jengkel,” ucapnya. Seharusnya dalam menyampaikan pendapatnya setiap tokoh elit nasional harus menunjukkan tata krama dan kesantunan.
Azmi mengingatkan kepada semua elite publik untuk memberikan pendapat yang santun dihadapan publik. Statmen para tokoh elit yang santun’ akan melahirkan ide gagasan yang sejuk dan konstruktif, sebab narasi-narasi positif seperti inilah yang kemudian melahirkan perbaikan. Sudah saatnya kita berupaya untuk menghindari adanya provokasi, saling hujat, ujaran kebencian. Saatnya tokoh elit nasional menyampaikan narasi yang bijak, sejuk, kooperatif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Atas dasar itulah maka kami mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan narasi saling menghujat terkait perbedaan pandangan untuk menjaga kondusifitas dan kedamaian di ruang publik maupun di media sosial. Sebab Polri saat ini sedamg fokus pada perbaikan pelayanan dan kinerjanya terbukti Polri terus berupaya meningkatkan profesionalisme, dan melakukan pendekatan humanis, serta merespons cepat setiap keluhan warga.
Berdasarkan rilis akhir tahun 2025, tingkat kepercayaan publik terhadap Polri terus menunjukkan tren positif, di mana Polri masuk dalam tiga besar lembaga negara yang paling dipercaya dengan persentase kepuasan mencapai 78,2% menurut survei Litbang Kompas. Selain itu juga komitmen perbaikan internal polri untuk menindak tegas anggota yang melanggar aturan, termasuk praktik pungli, untuk mengembalikan dan meningkatkan kepercayaan publik. Kritik yang membangun terhadap polri dari masyarakat sangat penting untuk terus mendorong transparansi dan perbaikan kinerja Polri, terutama dalam kasus-kasus yang menonjol.(*/Merson)





