Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 5 Feb 2026 18:00 WITA ·

Proyek EV Baterai Grup MIND ID Ciptakan Nilai Tambah Hingga 100 Kali Lipat


Proyek EV Baterai Grup MIND ID Ciptakan Nilai Tambah Hingga 100 Kali Lipat Perbesar

JAKARTA – Pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi yang digarap Grup MIND ID dinilai mampu menciptakan nilai tambah hingga 100 kali lipat bagi perekonomian nasional

Indonesia akan mampu masuk ke tahap industri midstream dan downstream baterai yang akan mampu memberi dampak positif bagi berbagai sektor manufaktur energi hijau dan kendaraan hijau.

Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini mengatakan, nilai tambah terbesar tidak berada pada tahap pengolahan awal mineral, melainkan pada sektor manufaktur di mana Indonesia mampu memproduksi prekursor, material katoda, hingga baterai.

“Kalau kita berhenti di tahap MHP, nilai tambahnya hanya sekitar 5 sampai 10 kali. Tapi kalau sudah masuk ke produksi katoda, nilainya bisa naik sampai 50 kali. Dan ketika menjadi baterai, nilai tambahnya bisa lebih dari 100 kali,” ujar Evvy.

Evvy melanjutkan proyek ekosistem baterai terintegrasi yang dikembangkan Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama mitra strategis global, menjadi momentum penting transformasi ekonomi Indonesia.

Indonesia memiliki keunggulan rantai pasok pengolahan mineral yang lengkap dari hulu sampai hilir, dan mampu dioptimalkan untuk membangun ekosistem industri baterai.

Nikel bisa mengolah jadi material katoda, memproduksi baterai, bahkan sampai mengembangkan daur ulang, sehingga mampu memberi dampak yang optimal bagi perekonomian Indonesia.

“Nilai ekonomi terbesar itu ada di midstream dan downstream. Di situlah industri, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi bisa tumbuh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Evvy menilai baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) perlu menjadi fokus utama pengembangan industri nasional, mengingat bahan bakunya berasal dari dalam negeri dan memiliki kepadatan energi lebih tinggi.

Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan insentif kendaraan listrik dari pemerintah yang sejalan dengan agenda hilirisasi.

“Pasar itu harus diciptakan lewat kebijakan. Kalau kendaraan berbasis NMC diberi insentif, industrinya akan tumbuh. Ini penting untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan berkelanjutan,” jelasnya.

Evvy optimistis, dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan eksekusi proyek yang terintegrasi, pengembangan ekosistem baterai nasional untuk meningkatkan daya saing industri

“Ini momentum emas bagi Indonesia. Tinggal bagaimana kita memastikan seluruh rantai nilainya benar-benar dibangun di dalam negeri,” pungkasnya.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 924 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menuju Top 20 TIC Global, SUCOFINDO Perluas Kolaborasi Internasional dengan China Quality Certification Centre

18 Agustus 2026 - 00:06 WITA

MEDIA ALERT: RECAP OF YESTERDAY’S HIGHLIGHTS — PURANA 17: RENJANA PERCA

17 Agustus 2026 - 23:16 WITA

Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar

17 Agustus 2026 - 21:48 WITA

Hadapi Volatilitas, Valbury Soroti Strategi Kombinasi Komoditas dan Saham Global untuk Investor Domestik

17 Agustus 2026 - 21:41 WITA

Valbury Bagikan Panduan Menyusun Watchlist Saham Global secara Terstruktur

17 Agustus 2026 - 21:29 WITA

Valbury Bagikan Panduan Menyusun Watchlist Saham Global secara Terstruktur

17 Agustus 2026 - 21:29 WITA

Trending di Bisnis