Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 14 Jan 2026 15:40 WITA ·

Riset Mikirduit: Sektor Perkapalan Jadi “Kuda Hitam” Investasi 2026-2027, Ini Saham Pilihannya


Riset Mikirduit: Sektor Perkapalan Jadi “Kuda Hitam” Investasi 2026-2027, Ini Saham Pilihannya Perbesar

Sektor perkapalan diprediksi jadi ‘kuda hitam’ investasi 2026! Mengapa saat kinerjanya tertekan justru jadi momen terbaik untuk masuk? Simak ulasan lengkap Mikirduit tentang saham kapal pilihan dengan fundamental kuat dan valuasi murah yang siap bangkit bersama pemulihan harga komoditas.

JAKARTA – Di tengah fluktuasi pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global, platform edukasi dan analisis investasi, Mikirduit, merilis riset terbaru mengenai proyeksi sektor yang berpotensi menjadi primadona pada periode 2026-2027. Hasil analisis mendalam Mikirduit menyoroti sektor perkapalan (shipping) sebagai instrumen investasi yang menarik untuk dicermati saat ini, terutama bagi investor bervisi jangka menengah.

Founder dan CEO Mikirduit, Surya Rianto, mengungkapkan bahwa daya tarik sektor perkapalan tidak bisa dilepaskan dari siklus komoditas. Meskipun kinerja mayoritas emiten perkapalan hingga Kuartal III/2025 masih terlihat tertekan dari sisi pendapatan, justru di sinilah letak peluang emas bagi investor yang jeli.

Momentum “Buy on Weakness” di Dasar Siklus

Surya menjelaskan bahwa kondisi harga komoditas yang saat ini relatif rendah menandakan siklus sedang berada di bawah (bottom). Secara historis, pemulihan siklus ini memakan waktu 1 hingga 3 tahun.

“Skema investasi di saham kapal ini menggunakan asumsi adanya potensi kenaikan permintaan komoditas saat produksi mulai melandai. Ketika harga komoditas bangkit, aktivitas produksi meningkat, dan permintaan kapal pun melonjak. Biasanya ada periode lagging (jeda waktu), sehingga saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mengakumulasi sebelum momentum puncak terjadi di 2026-2027,” ujar Surya Rianto dalam keterangannya.

Mikirduit membagi analisisnya ke dalam beberapa kategori kapal: Tongkang (batu bara/nikel), Bulk Carrier (curah/pertanian), Tanker (minyak/LNG), hingga Kontainer.

Saham-Saham Pilihan dengan Valuasi “Diskon”

Berdasarkan analisis fundamental yang ketat—dengan menyaring emiten yang memiliki neraca keuangan sehat dan client base yang kuat—Mikirduit mengerucutkan pilihan pada beberapa nama besar yang dinilai memiliki valuasi murah namun prospek cerah.

Surya menyoroti pentingnya diversifikasi klien untuk meminimalisir risiko. “Kami menyarankan investor melirik saham-saham yang tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas, tetapi memiliki diversifikasi klien yang kuat, mulai dari sektor energi, kertas, hingga nikel,” tambahnya.

Beberapa highlight dari riset Mikirduit meliputi:

SMDR (Samudera Indonesia): Dinilai menarik karena memiliki armada yang sangat terdiversifikasi (peti kemas, tanker, hingga curah). Katalis positif datang dari potensi beroperasinya Pelabuhan Patimban pada 2026 yang dapat mendongkrak volume angkut.

NELY (Pelayaran Nelly Dwi Putri): Masuk dalam radar karena fundamental yang solid dengan rasio utang yang sangat rendah dan rencana ekspansi yang selektif. NELY juga memiliki basis klien beragam, mulai dari industri pulp & paper hingga pertambangan nikel.

TPMA (Trans Power Marine): Sebagai salah satu pemain tongkang terbesar dengan 120 armada, TPMA memiliki valuasi yang murah. Rencana ekspansi belanja modal sebesar USD 118 juta menjadi sinyal optimisme manajemen terhadap pertumbuhan masa depan.

SOCI (Soechi Lines): Menarik dari sisi ekspansi internasional. Langkah SOCI mendirikan anak usaha di luar negeri dan akuisisi kapal LNG baru membuka peluang pendapatan dari pasar global yang lebih luas, menyeimbangkan fluktuasi pasar domestik.

Pentingnya Strategi Masuk Bertahap

Meskipun prospeknya cerah, Surya Rianto mengingatkan investor untuk tetap bijak dalam mengatur strategi masuk. Mengingat beberapa harga saham sudah mengalami volatilitas kenaikan, strategi buy on retracement (membeli saat koreksi wajar) sangat disarankan.

“Kunci dari investasi di sektor siklikal seperti perkapalan adalah kesabaran dan timing. Kita membeli argumen masa depan di harga masa kini yang masih terdiskon,” tutup Surya.

Analisis lengkap mengenai bedah laporan keuangan, rasio profitabilitas, hingga detail profil klien raksasa seperti Pertamina dan Freeport yang menjadi pelanggan emiten-emiten tersebut, dapat diakses dalam laporan lengkap Mikirduit dengan klik di sini.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 999 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

SUCOFINDO – HCETS PERKUAT SINERGI BILATERAL DORONG SOLUSI WASTE TO ENERGY YANG BERKELANJUTAN

18 Agustus 2026 - 16:00 WITA

BINUS @Malang Perkuat Kolaborasi dengan Orang Tua melalui Parents Day BINUSIAN B2030

18 Agustus 2026 - 15:44 WITA

Dari Ruang Kelas ke Pelabuhan, Pelindo Multi Terminal Inspirasi Generasi Muda

18 Agustus 2026 - 14:50 WITA

Cara Top Up Token HoK Tercepat di GAMEZI

18 Agustus 2026 - 14:38 WITA

KAI Bandara Hadirkan Promo “Bayar Tiket Cuma 81%” Sambut HUT ke-81 RI

18 Agustus 2026 - 13:45 WITA

Rekomendasi Motor Matic untuk Harian, Pilihan Stylish dengan Fitur Modern Mulai Rp20 Jutaan

18 Agustus 2026 - 13:09 WITA

Trending di Bisnis