Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 24 Nov 2025 11:01 WITA ·

COP30: MIND ID Tekankan Transformasi Nikel Hijau untuk Perkuat Posisi Indonesia dalam Mineral Kritis Dunia ‎


COP30: MIND ID Tekankan Transformasi Nikel Hijau untuk Perkuat Posisi Indonesia dalam Mineral Kritis Dunia ‎ Perbesar

BELEM – Dalam perhelatan Konferensi Perubahan Iklim Dunia COP30, MIND ID Group menegaskan bahwa masa depan industri nikel Indonesia hanya dapat berkelanjutan apabila dibangun di atas fondasi hijau dan teknologi rendah karbon. PT Vale Indonesia Tbk, sebagai bagian dari MIND ID, menyampaikan bahwa transformasi menuju nikel hijau menjadi kunci bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemain global mineral kritis di era transisi energi.

‎‎Dalam diskusi panel COP30, Director and Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budi Awansyah, menekankan bahwa kontribusi Indonesia terhadap agenda iklim dunia tidak cukup diukur dari besarnya cadangan mineral kritis yang dimiliki negara ini. Yang lebih menentukan adalah bagaimana industri nikel dikelola dengan standar lingkungan dan keberlanjutan yang mampu menjawab tuntutan global.

‎‎Budi mengingatkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia, menjadikannya pusat strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik dan baterai. Namun, ia menilai persepsi publik terhadap sektor pertambangan masih diwarnai kekhawatiran atas perubahan bentang alam dan tekanan terhadap hutan. Untuk itu, transformasi menjadi industri hijau harus menjadi prioritas yang berjalan konsisten dan terukur.

‎‎Di hadapan peserta COP30, Budi menegaskan bahwa smelter merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar dalam industri ekstraktif. Karena itu, bila Indonesia ingin memimpin ekosistem mineral kritis global, maka industri nikel nasional harus lebih dahulu menunjukkan kepemimpinan melalui operasi rendah karbon, efisiensi energi, dan tata kelola yang lebih ketat.

‎‎PT Vale Indonesia Tbk, menurut Budi, telah menjalankan berbagai langkah dekarbonisasi, mulai dari penggunaan energi bersih seperti hydropower, peningkatan efisiensi smelter, optimalisasi panas buangan, hingga pemanfaatan gas CO dan hidrogen dalam proses produksi. Selain itu, Vale juga mencatat capaian nyata dalam kinerja lingkungan: penggunaan air sebesar 8.498,94 megaliter dengan intensitas 0,12 megaliter per ton nikel, serta pemanfaatan 510 m³ air daur ulang di fasilitas Lamella Gravity Settler sebagai bahan baku larutan ferrousulfat.

‎‎Dari sisi pengelolaan limbah, perusahaan berhasil memanfaatkan kembali 1.453 ton limbah B3 dan 377.964 ton slag nikel non-B3 menjadi material konstruksi dan lapisan jalan tambang. Atas konsistensi ini, Vale meraih PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjadikannya satu-satunya perusahaan tambang nikel terintegrasi dengan penghargaan tertinggi tersebut pada 2024.

‎‎“Capaian seperti pemanfaatan air daur ulang, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, dan penghargaan PROPER Emas adalah bukti bahwa transformasi rendah karbon bukan sekadar retorika, tetapi sudah menjadi praktik nyata di lapangan.” ujar Budi.

‎‎Dalam pemaparannya, Budi juga menyoroti skor keberlanjutan Vale yang turun menjadi 23,7, skor terendah dalam sejarah operasional smelter global. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa transformasi rendah karbon bukan sekadar retorika, tetapi telah diterapkan secara nyata dalam operasi perusahaan. Capaian tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi MIND ID untuk menjadikan Indonesia pemimpin kawasan dalam industri nikel hijau yang berdaya saing global.

‎‎Melalui forum COP30, MIND ID Group kembali menekankan bahwa kekuatan Indonesia dalam mineral kritis tidak hanya terletak pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada kemampuannya membangun rantai pasok yang memenuhi standar internasional, selaras dengan target Net Zero Emission dan Nationally Determined Contribution (NDC).

‎‎Dengan momentum COP30, MIND ID menegaskan bahwa Indonesia siap melangkah lebih jauh sebagai negara yang tidak hanya kaya mineral strategis, tetapi juga berkomitmen memimpin pasar mineral kritis dunia melalui teknologi rendah karbon, operasi berkelanjutan, dan integrasi ekosistem nikel hijau yang semakin kuat.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 912 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dukung Pendidikan Anak Tenaga Kerja Operasional, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Salurkan Bantuan Peralatan Sekolah Sambut HUT ke-38

24 Agustus 2026 - 23:47 WITA

Dukung Pendidikan dan Semangat Belajar Anak, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Salurkan Bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Sambut HUT ke-38 di Tiga Sekolah Dasar Negeri Wanakerta

24 Agustus 2026 - 22:48 WITA

Melayani Sepenuh Hati, IPCC Dukung Pengiriman Bantuan Kemanusiaan PMI ke Nusa Tenggara Timur

24 Agustus 2026 - 17:11 WITA

Saham Alibaba Anjlok 10%, Investor Soroti Aksi Penggalangan Dana US$10,2 Miliar untuk AI

24 Agustus 2026 - 16:23 WITA

Grand Indonesia – PURANA 17 “Renjana Perca” Ditutup Anggun dengan Peluncuran PURANA KIDS SS27: Hadirkan Perpaduan Motif Purana x Afganial dan Regal Bloom

24 Agustus 2026 - 14:13 WITA

OSL Indonesia Rayakan Grand Launch di Bali, Hadirkan Semangat Baru untuk Ekosistem Keuangan Digital Indonesia

24 Agustus 2026 - 13:21 WITA

Trending di Bisnis