Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 4 Nov 2025 10:33 WITA ·

Emas Lesu di Awal Pekan, Kombinasi Tekanan The Fed dan Dolar Kuat Jadi Peran Utama


Emas Lesu di Awal Pekan, Kombinasi Tekanan The Fed dan Dolar Kuat Jadi Peran Utama Perbesar

Harga emas (XAU/USD) memulai perdagangan Selasa (4/11) dengan langkah hati-hati. Logam mulia ini sempat bergerak fluktuatif di kisaran $3.962 hingga $4.050 per troy ounce sebelum akhirnya stabil di sekitar level psikologis $4.010. Para pelaku pasar tampak menahan diri menjelang serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) serta pernyataan dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

Menurut Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, tren jangka pendek emas masih cenderung melemah. Berdasarkan sinyal teknikal dari pola candlestick dan indikator Moving Average, tekanan bearish terlihat semakin kuat. “Selama harga belum mampu menembus area $4.026, peluang koreksi ke bawah masih terbuka. Jika tekanan jual berlanjut, target berikutnya berada di area $3.959,” jelas Andy.

Meskipun demikian, ia menambahkan bahwa peluang koreksi naik tetap ada apabila harga gagal menembus support tersebut. “Apabila emas mampu bertahan di atas $3.980 dan menembus kembali level $4.026, ada peluang bagi rebound teknikal menuju $4.060 dalam jangka pendek,” ujarnya.

Dari sisi fundamental, harga emas mendapat tekanan tambahan dari ekspektasi kebijakan The Fed yang masih condong hawkish. Setelah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan lanjutan belum tentu terjadi pada pertemuan Desember mendatang. Pernyataan ini mendorong penguatan Dolar AS (USD) dan menekan harga logam mulia yang berdenominasi dolar.

Selain itu, komentar dari pejabat The Fed, Michelle Bowman, yang dijadwalkan berbicara hari ini, menjadi fokus pasar. Setiap isyarat mengenai kebijakan moneter akan dicermati ketat, mengingat pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed mungkin kembali menurunkan suku bunga pada akhir tahun.

Namun, di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan tanda-tanda pendinginan di sektor manufaktur AS. Laporan dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa PMI Manufaktur turun menjadi 48,7 pada Oktober, lebih rendah dari perkiraan 49,5 dan tetap berada di zona kontraksi. Data ini bisa menjadi penyeimbang bagi The Fed, karena perlambatan aktivitas industri dapat menekan Dolar AS dan memberi ruang bagi harga emas untuk menguat kembali.

Sentimen global pun ikut memengaruhi arah emas. Kabar positif dari hubungan perdagangan AS–Tiongkok, setelah kedua negara sepakat menunda penerapan tarif tambahan dan membuka kembali kerja sama ekspor logam tanah jarang, sempat memangkas permintaan aset safe haven seperti emas. Namun, pelaku pasar masih berhati-hati menilai sejauh mana kesepakatan ini dapat bertahan di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi.

Secara keseluruhan, emas masih bergerak dalam fase konsolidasi di sekitar level $4.000 dengan bias negatif yang tipis. Para investor kini menunggu rilis data ketenagakerjaan ADP pada Rabu dan laporan Nonfarm Payroll (NFP) pada akhir pekan sebagai petunjuk arah yang lebih jelas terhadap kebijakan moneter AS ke depan.

Dalam kondisi seperti ini, emas akan cenderung sideways dalam jangka pendek, dengan area $3.959 sebagai batas bawah dan $4.026–$4.060 sebagai batas atas. Arah selanjutnya sangat bergantung pada apakah data ekonomi AS mampu memperkuat atau justru melemahkan ekspektasi penurunan suku bunga,” tutup Andy Nugraha.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 913 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Berapa Tahun Idealnya untuk Menabung Emas? Ini Cara Menentukannya

27 Agustus 2026 - 22:41 WITA

Zuo Hao Shi Tambah Kanal Resmi di Situs Web, Perkuat Jaringan Distribusi Obat Pegal Linu Berizin BPOM

27 Agustus 2026 - 21:06 WITA

Rayakan HUT ke-38, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Berbagi Kebahagiaan dengan 50 Anak Yatim Piatu

27 Agustus 2026 - 20:29 WITA

FUGUKU MEMPERKENALKAN KOLEKSI “GROUND ZERO” DI ORCHARD ROAD FASHION WEEK, MENGHUBUNGKAN AKTIVASI GLOBAL DENGAN SENI MENGUMPULKAN KARYA FASHION BERKESADARAN

27 Agustus 2026 - 20:25 WITA

Pengguna LRT Jabodebek Meningkat Seiring Kebutuhan untuk Mobilitas Masyarakat

27 Agustus 2026 - 19:21 WITA

Memperkuat Komunikasi Isu Dekarbonisasi, VRITIMES Hadir di IICCS Forum 2026

27 Agustus 2026 - 19:08 WITA

Trending di Bisnis