Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Sangihe · 4 Mar 2026 23:44 WITA ·

Tarian Ampa Wayer Dalam Dinamika Modern, Namun Sarat Makna Identitas


Tarian Ampa Wayer Dalam Dinamika Modern, Namun Sarat Makna Identitas Perbesar

Tahuna, Sulutnews.com – Di tengah arus modernisasi, Tari Empat Wayer atau Ampa Wayer terus menunjukkan daya lentingnya sebagai warisan budaya suku Sangir di Kepulauan Sangihe. Jika dahulu identik dengan iringan orkestra dan musik keroncong yang mengalun lembut, kini Empat Wayer mengalami transformasi signifikan, baik dari sisi musikalitas, tata panggung, hingga ruang pertunjukan.

Sejumlah referensi ilmiah, termasuk penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal KOMPETENSI (2022), menegaskan bahwa musik merupakan roh dari tari Ampa Wayer. Pada masa awal perkembangannya, iringan didominasi alat musik petik, gitar, dan pola keroncong yang membangun suasana pergaulan khas masyarakat Sangir. Struktur musikalnya sederhana, namun sarat nuansa emosional dan kebersamaan.

Namun seiring waktu, perubahan sosial dan teknologi memengaruhi wajah pertunjukan Ampa Wayer. Musik tradisional orkes dan keroncong perlahan mulai ditinggalkan di sejumlah hajatan. Perannya digantikan oleh iringan bernuansa modern melalui sound system, bahkan tak jarang menggunakan keyboard elektronik untuk memperkaya harmoni.

Transformasi ini membuat Ampa Wayer lebih fleksibel dan mudah diterima generasi muda. Dinamika tempo yang lebih cepat, tata suara yang lebih kuat, serta aransemen modern memberi warna baru pada tarian yang dulunya identik dengan nuansa klasik.

Menariknya, di sisi lain berkembang pula Ampa Wayer dalam format kompetisi atau festival budaya. Dalam format ini, nilai klasik justru dipertahankan. Musik keroncong tetap digunakan, dipadukan dengan koreografi yang lebih terstruktur, kostum penari yang dirancang artistik, serta kolaborasi kompleks antara penari dan penyanyi. Perpaduan ini menghadirkan pertunjukan yang bukan hanya atraktif, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi.

Di setiap pertunjukan, peran pangataseng tetap tak tergantikan. Ia menjadi komando gerakan, pengatur ritme, sekaligus penjaga suasana. Dalam praktiknya, pangataseng kerap berimprovisasi dengan arahan spontan yang dibarengi pantun jenaka. Sentuhan humor dan gerakan kreatif inilah yang membuat Ampa Wayer terasa hidup dan komunikatif.

Tak heran jika tarian ini kerap menjadi pengisi hajatan, baik hajatan adat seperti Tulude maupun pesta keluarga. Dari perayaan sederhana hingga hajatan berskala besar tingkat regional dan nasional, Ampa Wayer selalu mampu mencairkan suasana dan mempererat kebersamaan.

Perkembangan Ampa Wayer tak berhenti di tanah kelahirannya. Melalui diaspora Sangir, tarian ini turut hidup di wilayah Filipina selatan. Komunitas keturunan Sangir di sana tetap mempertahankan tradisi ini, terutama dalam perayaan adat Tulude dan kegiatan budaya lainnya.

Di negeri seberang, Ampa Wayer tampil dengan sentuhan lebih modern, namun tetap membawa identitas asalnya. Bahkan, di era digital, tarian ini kerap menghiasi beranda media sosial komunitas diaspora di berbagai belahan dunia, menjadi simbol kebanggaan identitas kultural lintas batas negara.

Menurut akademisi Sulawesi Utara, Prof.Frans G. Ijong, yang pada masanya selang tahun 1970-an menjadi pelaku tari ampat wayer yang pada waktu itu setiap memperingati perayaan tujuh belas Agustusan dilombahkan antara sekolah mulai tingkat Dasar, SMP, SMA dan umum, hari ini telah mengalami banyak transformasi secara kontemporer. Sehingga tarian ampat wayer menjadi lebih cepat diterima dan disukai berbagai lapisan masyarakat. Ampa Wayer adalah proses alamiah dari kebudayaan yang hidup.

“Budaya yang tidak bertransformasi akan kehilangan relevansinya. Ampa Wayer menunjukkan bahwa identitas tidak harus kaku. Ia bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar kebersamaan, harmoni, dan solidaritas sosial masyarakat Sangir,” bahkan tari ampat wayer memiliki kekuatan yang dapat mempersatukan dan menghilangkan strata sosial diantara lapisan masyarakat mulai dari masyarakt biasa sampai pejabat negeri bisa dengan semangat yang sama menikmati tarian ampat wayer ujar Prof. Ijong.

Ia menambahkan bahwa kekuatan utama Ampa Wayer terletak pada fleksibilitasnya. Meski diiringi musik modern atau dipentaskan di panggung internasional, esensi tarian ini tetap sama yakni ruang kolektif untuk merayakan persaudaraan.

Kini, Ampa Wayer bukan sekadar tari bernuansa budaya. Ia telah menjelma menjadi identitas, sebuah simbol eksistensi masyarakat Sangir yang hidup, bergerak, dan beradaptasi. Dari orkes keroncong sederhana di kampung-kampung hingga panggung hajatan besar di dalam dan luar negeri, lingkaran gerak Empat Wayer terus berputar, menjaga denyut sejarah dan kebanggaan di setiap langkahnya. (Andy Gansalangi)

Artikel ini telah dibaca 963 kali

Baca Lainnya

Bupati Michael Thungari Tekankan Integritas dan Akuntabilitas Aset dalam Apel Kerja Bersama ASN Sangihe

4 Maret 2026 - 10:14 WITA

Pemkab Sangihe dan Angkasa Pura I Perkuat Sinergi Promosi Wisata

3 Maret 2026 - 23:42 WITA

Ekonomi Sangihe Alami Kontraksi 7, 39 Persen di Triwulan I 2025

26 Februari 2026 - 12:17 WITA

Kursi Panas Sekda Sangihe: Siapa yang Layak?

26 Februari 2026 - 00:20 WITA

Thungari Perjuangkan Krisis Listrik Dapat 25 Miliar Dari PT PLN

26 Februari 2026 - 00:14 WITA

Camat Makaminan Gercep Perbaiki Jalan Rusak di Kampung Barangka

25 Februari 2026 - 13:33 WITA

Trending di Sangihe