MINAHASA|SULUTNEWS.COM- RUMAH Sakit Umum (RSU) Noongan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), membantah jika pihaknya telah melakukan penolakan terhadap pasien seperti yang tengah Viral di media sosial (medsos) saat ini.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Rumah Sakit Umum RSU Noongan, Kabupaten Minahasa, Ingrit Giroth, melalui Kepala Bidang Pelayanan RSU Noongan Dr. Berounly Rey, Kamis (30/3/2023), menerangkan bahwa yang benar adalah pihak keluarga pasien yang memilih pergi meninggalkan RSU Noongan karena tidak mau menerima penjelasan yang diberikan oleh Dokter jaga saat itu.
Kepada Media ini dijelaskan Dr. Berounly Rey, pasien ini adalah pasien rujukan dari Puskesmas Kecamatan Kakas dan memiliki riwayat hipertensi emergency.
“Tiba di RSU Noongan, pasien tersebut di antar oleh seorang pria dari pihak keluarga pasien,” kata Dr. Berounly Rey.
Saat petugas jaga menjelaskan harus ada informasi lewat WhatsApp rujukan dari Puskemas Kecamatan Kakas.’’ Pria itu tidak mau menerima penjelasan dari Dr. sara selaku Dokter jaga pada saat itu.

Padahal sistem rujukan kami saat ini menerapkan sistem rujukan terintegrasi elektronik. Dari sistem elektronik ini maka kami dapat mengetahui data dan riwayat penyakit pasien,’’ jelas Dr. Berounly Rey.
“Namun dikarenakan sistem rujukan terintegrasi elektronik sedang mengalami gangguan, maka sementara ini kami menggunakan informasi lewat WhatsApp.
Lanjut Dr. Berounly Rey, saat akan dijelaskan kenapa pasien rujukan harus diinformasikan lewat WhatsApp oleh pihak Puskesmas.’’ Pria tersebut malah mengambil Video di dalam rumah sakit. “Itu pun tanpa seizin kami.
“Padahal tidak boleh mengambil gambar ataupun video saat sedang berada di dalam rumah sakit tanpa seizin Rumah Sakit,’’ tuturnya.
Usai mengambil video, ditambahkan Dr. Berounly Rey, pria tersebut langsung kembali ke dalam mobil Ambulance.
“Dokter jaga dan para petugas media lainnya sudah berupaya memanggil kembali keluarga pasien untuk di lakukan pemeriksaan terhadap pasien, namun ditolak oleh keluarga.
“Ada video dimana pria itu menolak untuk di lakukan pemeriksaan terhadap pasien oleh Dokter jaga dan tim medis yang bertugas pada saat itu, sambungnya.’’ Jadi bukan kita tolak, namun saat petugas kami akan memberi penjelasan, keluarga dan pasien memilih pergi,” tukas Dr. Berounly Rey.
(**/arp)







