Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Opini · 1 Agu 2024 19:18 WITA ·

Menjadi Posesif terhadap ORMAS Keagamaan Pasca Isu Kelola Tambang


Foto : Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera) Perbesar

Foto : Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

Masih seputar isu kelola tambang oleh ORMAS Keagamaan, kegaduhan seiring keluarnya izin presiden tentang izin kelola oleh presiden, kemudian berbagai penolakan terhadapnya, kini isu tersebut terus bergulir seiring sikap NU, Muhammadiyah, dan PERSIS yang menyatakan menerima. Meski mengajukan syarat tertentu, sikap menerima kesempatan dalam kelola tambang ternyata melahirkan respon masyarakat yang sebagian besar adalah menyayangkan.

Respon sayang, sebenarnya bukan semata terhadap potensi atau lahan tambang saja, juga bukan lantaran izin tersebut dikeluarkan oleh presiden langsung, namun lebih kepada sikap ORMAS yang nota bene bergerak di bidang keagamaan, pengembangan, perluasan (dakwah) dan pemberdayaan masyarakat beragama. Urusan tambang sekilas memang perkara dunia kini digarap juga oleh organisasi yang berorientasi keagamaan.

Perkara dunia diurus mereka yang memiliki otoritas agama (istilah spesifiknya “akhirat”), atau setidaknya pemangku berbagai perkara khas (kitab) suci, dipandang sebagai suatu keanehan menggarap proyek-proyek besar dunia, seperti komoditas tambang ini. Meski tidak dalam pengertian pemangku otoritas agama sepenuhnya, organisasi-organisasi khususnya tersebut di atas telah banyak andil dalam penyebaran berbagai doktrin atau ajaran agama ke berbagai penjuru nusantara.

ORMAS Keagamaan terbukti juga telah mampu bermanfaat dalam menyatukan masyarakat, seperti pendatang dan pribumi dalam contoh di lingkungan transmigrasi. Masyarakat yang telah mengenal agama kemudian terus dikembangkan dan didorong maju setidaknya melalui ajaran-ajaran khas organisasi tertentu, dengan tanpa ada paksaan tentunya. Jika sudah sebegitu kontribusi ORMAS Keagamaan, apakah salah jika mereka mengambil bagian dari perkara-perkara dunia seperti kelola tambang ini?

Maka masyarakat khususnya mereka yang kontra dan terus-terusan mengkritik sikap ORMAS Keagamaan yang menerima konsesi tambang, termasuk mereka yang menolak kesempatan tersebut untuk introspeksi diri dan dapat menyesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman serta kemajuan termasuk dalam sektor kelola tambang. Sikap destruktif berdasar pada perasaan berlebihan dan menjadi posesif untuk dapat dihindari. Terkecuali jika menjadi posesif terhadap ORMAS-ORMAS tersebut lantaran agamanya, maka butuh dimusyawarahkan.(*)

*Penulis : Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

Artikel ini telah dibaca 1,087 kali

Baca Lainnya

Nasib Perjanjian Dagang (ART) Indonesia dan Amerika Serikat

8 Maret 2026 - 06:20 WITA

Demokrasi di Amerika dari Sudut Pandang Politisi dan Aktivis

6 Maret 2026 - 06:16 WITA

Dakwah Tanpa Mimbar: Cerita Musafir Pakistan yang Menginspirasi

6 Februari 2026 - 11:16 WITA

Haji Malik Mahboob Ahmad: Musafir Pakistan yang Bawa Berkah ke Kupang dan Melanjutkan Perjalanan ke Australia

6 Februari 2026 - 11:09 WITA

Yusuf L Henuk Klaim Kalahkan Prof. Muryanto Amin dalam Perjuangan 3 Tahun Lebih

6 Februari 2026 - 08:08 WITA

Waooh Proses Tender Pinjam Bendera di Rote Ndao: Perhatian Serius

3 Februari 2026 - 20:52 WITA

Trending di Bali