Kabag SDM Polres Sitaro, AKP Sirjon Tarigan
Sitaro.sulutnews.com — Di gugusan pulau di utara Sulawesi, tempat laut sering menjadi batas sekaligus penghubung, kerja kepolisian berlangsung dalam ritme yang tidak selalu ramah. Cuaca berubah cepat, jarak antarpulau memanjang, dan keterbatasan personel menjadi bagian dari keseharian.
Dalam ruang seperti inilah AKP Sirjon Tarigan menjalani perannya sebagai Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (Kabag SDM) Polres Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).
Bagi Sirjon, pengelolaan sumber daya manusia di wilayah kepulauan bukan sekadar urusan administrasi. Ia bersentuhan langsung dengan kondisi fisik dan psikologis anggota yang bertugas jauh dari keluarga, berpindah dari satu pulau ke pulau lain, dan bekerja dalam keterbatasan sarana. Dalam konteks itu, setiap keputusan SDM tak bisa dilepaskan dari realitas geografis dan kemanusiaan.
“Seragam membuat kita tampak sama, tapi beban yang dipikul setiap anggota tidak pernah benar-benar sama, tugas saya adalah menjamin perbedaan itu tidak diabaikan.” kata Sirjon.
Pendekatan tersebut berangkat dari perjalanan panjangnya di tubuh Polri. Sirjon memulai karier dari bintara, berpindah satuan dan jabatan di berbagai wilayah Polda. Ia mengalami langsung dinamika lapangan, dari tekanan kerja hingga keterbatasan fasilitas. Ingatan tentang fase itu membentuk cara pandangnya terhadap organisasi.
“Saya pernah berada di posisi menerima perintah tanpa banyak ruang menjelaskan kondisi. Dari situ saya belajar, kepemimpinan yang baik harus memberi ruang untuk didengar,” ujarnya.
Sebelum bertugas di Sitaro, lintasan kariernya melintasi berbagai bidang. Ia pernah menjabat sebagai Kasi TIK Polres Minahasa Utara (2016–2019), mengelola sistem dan data yang menuntut ketelitian tinggi. Pada 2019–2021, ia bertugas sebagai KBO Resnarkoba Polres Minut, berhadapan dengan persoalan narkotika yang kompleks dan penuh tekanan. Tahun 2024, Sirjon berada di Bag Ops Polres Minut sebagai Kasubbag Dalops, mengoordinasikan operasi dan kesiapan personel.
Semua pengalaman itu kini bertemu di Sitaro. Sebagai Kabag SDM, Sirjon memilih bekerja dengan pendekatan yang tenang. Ia tidak tergesa menjatuhkan sanksi, melainkan membaca situasi dan mengedepankan pembinaan. Baginya, organisasi akan rapuh jika kelelahan dianggap biasa dan manusia diperlakukan semata sebagai angka.
“Ketika anggota hanya dilihat sebagai data, maka kita sedang kehilangan inti dari pelayanan itu katanya,” katanya.
Di internal Polres, Sirjon dikenal jarang tampil ke depan. Ia bekerja dalam diam, melakukan evaluasi seperlunya, dan menjalankan pembinaan secara bertahap. Disiplin tetap ditegakkan, namun tanpa suara tinggi. Pendekatan ini membuatnya dekat dengan persoalan riil anggota, mulai dari kelelahan akibat penugasan berlapis hingga persoalan keluarga yang kerap terbawa ke ruang kerja.
“Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan hukuman. Ada kalanya anggota hanya butuh dipahami agar bisa kembali berdiri tegak,” ucapnya.
Di luar kedinasan, kehidupan Sirjon juga bersentuhan dengan dunia yang sama. Ia menikah dengan Murita Tampubolan dan dikaruniai dua anak yang memilih jalan sebagai anggota Polri. Brigadir Anastasya B. Tarigan bertugas di Bag Ops Polres Minahasa Utara, sementara Bripda Daud Tarigan berdinas di Sat Intelkam Polres Bolaang Mongondow.
“Sebagai orang tua dan anggota Polri, saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi pelajaran bagi anak-anak kita esok hari,” katanya.
Di ujung kepulauan yang jauh dari pusat perhatian, AKP Sirjon Tarigan menjaga keseimbangan antara aturan dan empati. Kerja sunyi itu jarang terdengar, tetapi menentukan. Ia memastikan bahwa di tengah sistem yang terus bergerak, manusia yang menjalankan tugas kepolisian tetap memiliki ruang untuk dipahami dan dibina.
“Sukses bagi saya bukan soal jabatan, tapi ketika anggota bisa menjalankan tugas dengan martabat dan pulang ke keluarganya dengan utuh,” tuturnya.
Prinsip itu ia pegang dalam mottonya:
“Disiplin, semangat, dan loyalitas adalah gerbang menuju kesuksesan.”





