Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Jakarta · 20 Feb 2023 07:04 WITA ·

Memisahkan Hewan Ternak Dari Lahan Pertanian Di Pedesaan Kabupaten Rote Ndao, Masalah Klasik Yang Butuh Solusi


Memisahkan Hewan Ternak Dari Lahan Pertanian Di Pedesaan Kabupaten Rote Ndao, Masalah Klasik Yang Butuh Solusi Perbesar

Artikel, dipersembahkan sebagai bentuk Tanggungjawab atas Kesejahteraan masyarakat di Kampung Halaman Kabupaten Rote Ndao Tercinta.

Oleh : Sodi Lian.

Terinspirasi oleh langkah Mulia KAPOLSEK ROTE BARAT LAUT IPDA ESBON TULLE menginisiasi Pertemuan dengan tokoh tokoh masyarakat setempat untuk membangun komitmen penegakan Perda mengenai pengandangan ternak, sebagaimana yang di-posting oleh Wartawan kondang, Adinda Nadus Sadukh, di Wag Info Seputar Desa, Jumat 17 Pebruari, saya merasa terpanggil untuk menulis Artikel ini  sebagai bentuk tanggungjawab atas masa depan kesejahteraan masyarakat kita di kampung Halaman kabupaten Rote Ndao ufuk terselatan Nusantara itu.

Kerinduan untuk memisahkan ternak dari tanaman sudah menjadi pergumulan masyarakat di Seluruh Wilayah Tanah Air sejak lama.

Namun upaya untuk menemukan solusi atas masalah KLASIK ini berbeda dari satu wilayah ke wilayah yang lain tergantung pada kultur agraris, kepadatan jumlah Ternak serta  populasi binatang liarnya.

Di sebagian wilayah Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sudah bertumbuh kultur agraris dengan pola ternak intensif, ternak tetap dipelihara di kandang  sampai terpakai atau terjual. Bagi sebagian masyarakat dengan pola semi intensif, ternak memang dikandang tetapi sewaktu-waktu dapat  dilepas di lahan pertanian usai panen untuk makan jerami atau sisa rerumputan. Oleh karena itu kasus masuknya ternak merusak lahan pertanian sangatlah jarang dijumpai apalagi jumlah Ternak sedikit dan keberadaan bintang liar nihil.

Di beberapa wilayah kepulauan yang masih  berkultur Ekstensif seperti berturut turut dari barat ke timur Indonesia yang pernah Saya datangi seperti : Simeulue (Fatuhek, Tupai, Tufaheik dan Tufabete ).  Bintan, Bangka, Belitung, Karimunjawa,  Lombok, Sumbawa, Pangkajene Kepulauan, Kabaena, Konawe Kepulauan,  Muna, Buton, sebagian Halmahera, Taliabu, Morotai dan sebagian sebagian Seram dengan pola beternak  ekstensif, maka sering lahan pertanian yang tidak dipagar dengan baik akan menjadi sasaran bukan saja ternak peliharaan seperti sapi tetapi lebih parah lagi dengan serangan binatang hutan terutama CELENG.

Wilayah yang saya sebut di atas mayoritas penduduknya adalah orang muslim yang tidak tertarik berburu celeng sehingga populasinya berkembang pesat menjadi hama tanaman yang paling mencemaskan.

Al kisah  ketika saya sudah dilantik menjadi jadi Pendeta dan menggembalakan sebuah gereja Kecil di Bekasi, dan juga menjadi Ketua Persekutuan Oikumene Umat Kristiani di Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sayapun menginjil sambil berdinas di Indonesia Timur dan sampailah saya di Pulau Sulabes, dan mampir di Sanana ibukota Kabupaten Kepulauan Sula Propinsi Maluku Utara.

Bertemu sahabat karib saya Haji H, sebangku kuliah di IIP Jakarta tahun 90-an yang sudah jadi pejabat Teras di Kabupaten ini, sayapun diundang makan malam dan terlibat percakapan seru  mengenai Hama Babi di Kepulauan Sula.

Di Artikel ini sang sahabat saya beri inisial Haji H dan saya berinisial Pdt SL.

Haji H :

” Bu, kitong di Kepulauan Sula ini Tana bagus, Tanaman subur lai. Tapi kitong seng tenang, sedih sekali deng serangan Babi Utan, gerombolan kakek nenek anak cucu dong datang serang Kabon la ancor samua semalam jua.

Pdt SL :

Oh bagitu ko Bu. Na tolong titip salam  gerombolan Babi Utan  di Sula ini,  berkenan  rame rame ditunggu kedatangannya di Rote. Ndao, beta jamin samuanya disambut deng  Sukacita Bu .

Haji H

Astagfirullah malah girang Bu

Pdt SL.

Iya Bu, begitu sampai di Rote NDAO  Samua gerombolan yang bikin susah Bu di Sula sini pasti direinkarnasi seketika dari Babi Utan jadi “TOLAKAN” Bu.

Haji H:

TOLAKAN ?

Pdt SL

ya TOLAKAN itu ada Bakar, Rebus, Goreng, Se’i, use dan mudik Teman sopi Kapala Bu.

Haji H :

Ya ALLAH ya Rabbi barang itu jadi kuliner di sana Bu?

Pdt SL

Puji Tuhan itu berkat mewah.

Haji H:

Tapi Gerombolan kaki pendek  mau pi Rote musti pake Pasport, Soalnya Beta liat ada  yang Blasteran kayak bule jua

Pdt. SL

Sonde usa repot-repot Rote Ndao masih bagian integral Indonesia . Yang penting badan bagus sa kitong su haleluya Bu

Kalo ada yang  loloskan diri pi pulau pasir ju musti bebas Visa  karena biar sampe sekarang masi diduduki Australi pads hal itu kitong pung pulau Nenek moyang kubur di sana.

Haji H.

Oh ada masalah lai Bu kumpul ini rombongan kaki Pendek dari tiga Pulau besar susa akang.

Pdt SL

Trus ?

Haji H.

Minta maaf bagaimana kalo basodara dari Rote pindah Sula saja kan TOLAKAN seng usah beli .

Pdt SL

Oh Boleh sekali Bu tapi pake syarat. Bu harus Tanam Kas Ponu Lontar di tiga pulau besar di sini Mangoli,  Sulabes, deng Lifumatola, mungkin Orang Rote mau datang menetap

Haji H

pakariang besar?.

Pdt SL.

Soalnya biar TOLAKAN di sini gratis tapi dia pung pasangan Sageru Enau, orang Rote lebih suka Gula lontar atau sopi, apalagi Gubernur NTT su kemas dia jadi Sophia lebih mentereng diekspor, Jenifer, Jhoni Wolker Wisky lewat samua .

Haji H :

La itu biking Mabok to?

Pandita, Ustad, Ulama di Rote Ndao tu diam- diam akang? Seng tegor?

Pdt SL :

Oh tegor tarus Bu. Memang waktu Pendeta  atau Pak Haji  Khotbah Jemaat jawab AMIN deng Haleluya. Pas  keluar ketemu Tolakan Deng Sopi Kapala,  langsung Amin – HALELUPA

Haji Hardiman.

La seng tobat ?.

Pdt Sodi Lian

Sebagian Bu karena sopi itu dibilang AIR KATA KATA

Abis minum sopi yang pendiam tiba-tiba baribut, yang miskin puku dada mangaku paling kaya, yang bodo mangaku paling pintar, yang pana’u fafoti mangaku pemberani yang sonde tau bakalai ju mangaku Tukang pukul, yang penyakitan mengaku sehat walafiat

Haji H.

Minuman ajaib Bu?.

Pdt SL

Iya maka ULAMA di sana kewalahan Bu.

Kalau berkenan kitorang Turun pi Rote Bu Bantu Pak Ustaz khutbah di Mesjid, Beta bantu Pak Pendeta Khotbah di Gereja biar yang suka mabok bertobat.

Haji H

Iya iya insyaallah beta  mau berdagwa di sana Bu.

Pdt SL

Jang kuatir di Rote Ndao Bu pasti dijamu ikan segar daging halal dengan tua matak dan tua hombo tanpa Sopi deng Sageru.

Haji H.

Dangke banya lai tapi mengenai  Babi Utan paricuk di Sini bagaimana solusinya Bu?

Pdt SL

Gampang, begini sa Bu nanti dari Kementerian Desa kitong ator kerjasama deng Kementrian Perindustrian  bikin  Celeng Kaleng di Sula dan ALKOHOL MURNI di Rote tinggal barter atau jual dalam negeri jadi rupiah lalu eksport ke luar negeri jadi dollar sehingga masyarakat dua Kabupaten sejahtera dan PAD kedua kabupaten meningkat .

Dua sahabatpun Tertawa terbahak-bahak dan percakapan koma dulu karena ikan kakap yang dipanggang dari tadi sudah ngebul di meja makan.

Cukupkan dulu intermesonya, mari kita lanjutkan pembahasan kita sambil berbagi pengalaman.

Di wilayah pulau pulau yang mayoritas Hindu atau Kristen  seperti Bali termasuk Nusa Penida, Nias, Kepulauan Mentawai (Siberut, Sipora, Sikakap, dan Simakakang) Siau, Sangir, Talaud, Miangas, Flores Sumba, Timor, Rote, Sabtu, Alor, Lembata, Leti, Moa, Dhamar, Kisar, Tanimbar, Tual, Aru, Banda, Raja Ampat (Waisai, Missol) biak, Numfor dan Yapen,  semuanya pernah saya kunjungi  baik untuk urusan dinas maupun pelayanan pekerjaan Tuhan, dan saya liat popolasi Hama babi Utan atau celeng sangatlah sedikit bahkan di beberapa pulau di Maluku kecil-kecil hampir tidak ada, punah karena sering diburu untuk dijadikan lauk pauk.

Tetapi justru yang menjadi masalah besar di pulau pulau ini adalah ternak peliharaan penduduk setempat, Babi, Kambing, Domba, sapi dan Kerbau.

Kondisi ini diperburuk dengan masih kentalnya kultur ekstensif, hewan ternak peliharaan Besar, sedang, kecil, berkeliaran di Padang dan sewaktu waktu terutama kalau kurang rumput di musim kemarau sementara  gembalanya lengah maka ternak peliharaan ini akan menerobos pagar Pertanian penduduk,  merusak dan tidak jarang menjadi pemicu pertikaian.

Saya amati di antara pulau pulau tersebut, di Bali dan di NTT khusus  Flores dan pulau pulaunya seperti Adonara,  Solor Palue, dan Pamana  lumayan bagus kebetulan  populasi ternaknya  tidak terlalu banyak, gampang dikandang atau diikat sehingga cukup aman bagi lahan pertanian setempat.

Berbeda halnya dengan Pulau Sumba Timor dan Rote dan Tanimbar, yang populasi ternaknya besar dengan kultur ekstensif sehingga selalu timbul masalah perusakan Lahan  yang tak pernah selesai hingga sekarang.

Mungkin hal ini antara lain yang mendorong KAPOLSEK ROTE BARAT LAUT berinisiatif membangun  komitmen bersama  untuk mengatasi masalah ini berhubung di wilayah ini  bahkan di sebagian besar lahan pertanian di Kabupaten Rote ndao pengamanan  lahan pertaniannya masih bersifat tradisional dengan susunan batu atau pagar kayu atau pelepah yang rentan terhadap serangan ternak terutama seperti sapi  kerbau Babi dan Kambing.

Pagar Tradisional inipun tidak bertahan lama cepat roboh lapuk dan hancur..

Sebenarnya hal ini sudah dirasakan sejak dulu.

Ayah Saya Alm Pdt E. Lian,  semasa hidupnya dulu sekitar Tahun 70an pernah jadi Kepala desa Lidamanu di dukung penuh oleh camat Rote Tengah NGEFAK dan Pembantu Bupati  (Waktu itu disebut Koordinator Pemerintahan Roteo Ndao) D.C. SAUDALE, sudah berulang-ulang duduk di Tikar Adat bicarakan tentang pemisahan wilayah Penggembalaan dengan area pertanian itu dengan tokoh tokoh adat tetapi tak seorangpun merasa mampu memberi makan kerbau, sapi, kuda kambing domba  dan Babi yang demikian banyak jumlahnya.

Akhirnya Rapat Tua Tua Adat mengambil jalan Tengah berupa Kebun Kolektif percontohan, satu di Dusun Oendule tempat Kelahiran saya dan satu lagi di Dusun Busalate area berbatasan antara Termanu Keka dan Talae yang masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat sampai sekarang.

Lain dari itu salah satu contoh Kebun Kolektif yang sangatlah terjaga kelestariannya adalah antara Talae Seda dan Talae Mok Kecamatan Rote Selatan. Di Area kebun Kolektif di Nusak Talae ini Tersedia bukan saja pangan  bagi masyarakat tetapi juga potensi Pakan Ternak yang berlimpah limpah.

Terbukti Area ini berdasarkan hasil survey staf Saya Tahun 2015, merupakan area terbaik di Kabupaten Rote Ndao dan dianggap paling kayak menerima Bantuan Sapi dari KEMENDES.

Sehingga pada Tahun Anggaran 2016 telah dikirim 300 ekor Sapi Ongole dari Sumba Timur, semuanya bisa terserap dan diterima oleh Kelompok masyarakat di Desa dua Desa yang mengitari area subur ini yaitu Lenguselu dan Tebole.

Sesungguhnya berkeliarannya ternak dengan bebas inilah yang menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan area’ Pertanian dan perkebunan di Kabupaten Rote Ndao hingga kini.

Sekarang sepertinya sudah ada PERDA yang mengatur hal itu tetapi tentu tidak serta merta bisa ditegakkan  karena banyak masyarakat yang memiliki ternak besar, sedang, dan kecil berkisar antara puluhan bahkan mencapai ratusan  ekor padahal mereka tidak memiliki persediaan pakan yang cukup dan tidak juga memiliki tenaga mencari pakan sehingga terpaksa melepaskan ternak peliharaannya berkeliaran untuk mencari makan sendiri dengan resiko masuk ke kebun orang atau bahkan ke kebun sendiri.

Dinjau dari sudut Budaya, apapun resikonya, Masyarakat Rote Ndao tetap ingin punya ternak yang banyak karena itu merupakan DEPOSITO mereka untuk berjaga-jaga atas pengeluaran sosial : Prosesi Perkawinan, Prosesi Kematian, Aneka Pesta adat, HUS, Foti Tii Langga, pesta Rohani, Natal, Tahun Baru, Paskah, Idul Adha, Idhul Fitri,  terakhir PENDIDIKAN, SEKOLAH ATAU KULIAH ANAK.

Saya senang sekali Jaman Bu Lens Haning jadi Bupati ada  Gerakkan tutu’u buat Pendidikan anak. semoga gerakkan ini bisa terus digalakkan karena sangat bermanfaat untuk mempersiapkan SDM generasi Penerus yang handal di masa depan secara gotong- royong.

Menurut hemat saya untuk meniadakan atau setidaknya meminimalkan gangguan Ternak peliharaan terhadap lahan pertanian di Rote Ndao  sekaligus menegakkan Perda yang baik tersebut diperlukan beberapa Prasyarat :

  1. Menyusun dan melaksanakan Program Pengadaan Pakan untuk memastikan Penyediaan Pakan Ternak dan Hijauan menjadi berlimpah, limpah, limpah dan melimpah ruah dengan memanfaatkan lahan terlantar ataupun membangunkan Lahan Lahan tidur yang begitu potensial di Kampung Halaman kita.

Tanggal 14 Januari 2023  saya bicara dengan Bu Lens Haning mantan Bupati kita dan diinformasikan bahwa rumput odot sudah berkembang banyak sekali di kabupaten Rote Ndao.

Ini berita baik yang apabila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh akan sangat membantu ke arah intensifikasi ternak yang ikut menjadi cikal bakal solusi untuk urusan pemisahan hewan ternak dan tanaman pangan di kabupaten Rote NDAO ke depan.

  1. Priorutas Program emanfaatan lahan sekitar titik titik mata Air atau Danau Besar maupun Kecil seperti Dano Tua ( ROTE Barat Laut dan Rote Barat Daya) Oebatu (Rote Barat Laut) Danau

Mbore (Rote Barat) Tanggaloi, Kambasiok, Helebeik, Kuli, Kambasiok, Lasuama, Kolobolon (Lobalain) Oele, Seda, Lopolain Talae Mok ( ROTE Selatan) Balafia, Peto, Lela, dudikoen, KADEN, Oendule,  Nitanggoen ( Rote Tengah)  Mamen, Lelebe, Oebau ( Pantai Baru) Talomamen Oeulu, Oeboka  (Rote Timur)

Semua potensi air ini harus digarap dengan pendekatan integrated farming dimana Tanaman, ternak besar kecil, unggas dan mungkin ikan air tawar berikut jika mungkin produk paska panen di kelola satu area sehingga lebih efektif dan efisien.

 

  1. Pemanfaatan Lahan sekitar Embung Embung yang sudah banyak di bangun Kabupaten Rote Ndao agar tidak mubasir tentang hai ini sekitar Tahun 2016 saya pernah sarankan kepada Bu Lens Haning di Rumah Jabatan agar bisa diarahkan langsung pada Ekonomi Produktif berupa holtikultura dalam hal juga bisa dengan pola Integrated Farming sehingga bisa mendatangkan keuntungan ganda.
  2. Penerapan Program Khusus Buat Wilayah Kabupaten Rote Ndao Yang kekurangan Air Permukaan seperti Bagian Barat Pulau Rote, (Thie, Dengka, Oenale, Delha dan Pulau Ndao, Pulau Ndana, Pulau Landu, Nusa Manuk pulau Nuse dan pulau Do’o) Bagian Timur Laut Pulau Rote Landu Leko, Renggo, Pulau Usu dan bagian paling Timur yaitu Oepao.

Perlu dibangun Embung Embung  ditambah Sumur Bor  di lahan lahan strategis tentu saja dengan memperhitungkan batas batas lestari pengambilan air tanah sehingga tidak menimbulkan abrasi, pengeroposan ataupun penurunan   permukaan tanah  yang merugikan untuk jangka panjang.

  1. Perlu pula digalakkan Produk Olahan Pakan Ternak sehingga meningkatkan kualitas Ternak karena mendapatkan makanan bergizi secara teratur di kandang, dan menggantungkan berat badannya pada musim, gemuk di musim hujan kurus kering di musim kemarau.

Saya Percaya lima Prasyarat di atas  akan menjadi Solusi sehingga permasalahan Klasik gangguan Ternak terhadap tanaman pertanian atau perkebunan yang sering menjadi sumber  pertikaian di kampung halaman kita berabad- abad lamanya akan teratasi dengan sendirinya.

Ini, sekaligus merupakan strategi memerataan Pelayanan Kesejahteraan bagi keluarga besar masyarakat Kabupaten Rote Ndao.

Untuk kondisi saat ini kita  harus berani berinvestasi mengamankan lahan lahan strategis kita dengan pagar Parmanen setidaknya mengganakan kawat duri Baja berkarbon tinggi sehingga Lebih ekonomis karena tahan Lama ketimbang kawat biasa yang mudah berkarat dan cepat putus.

Sekalipun kawat duri baja ini  dijual lebih mahal  di Indonesia Timur termasuk di Rote karena suplainya  memang masih langka atau sedikit ketimbang demand -nya di seluruh Wilayah Tanah Air penggunaanya justru lebih efektif karena terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan diperkirakan bisa bertahan sekitar 35 Tahun.

Saya sudah bertahun tahun berdiskusi dengan Rekan Rekan Dari Kementrian tentang pentingnya Pengamanan Lahan dengan Kawat Duri Baja ini di wilayah wilayah berkultur Ekstensif, Bahkan Dirjen Pertanian dan Beberapa Dirjen dan pejabat Kemendes sudah Saya ajak berkunjung di Kabupaten Rote Ndao sehingga mereka bisa memahami betul jalan pikiran saya tentang pentingnya Pengamanan Lahan ini karena berapa ribu Hektar pun lahan  ditanam melalui Program pemerintah akan hancur jadi proyek gagal akibat serbuan  Ternak piaraan atau binatang liar.

Konsisten dengan pemikiran itu di Rote Tengah saya dengan segala keterbatasan sejak Tahun 2014 sudah berinisiatif sendiri Pagari lahan saya seluas 200 h dimana masyarakat di Desa desa sekitarnya saya persilahkan untuk bercocok tanam sekuat tenaga.

Oleh Kemurahan Tuhan Perusahaan Isteri Saya PT CIPTA MEGA SEJATI telah  mendapatkan hak Distribusi Dagang Kawat duri Baja ini di seluruh Indonesia  tetapi sementara stag gara gara  Pandemi Covid 19.

Sekarang Covid sudah mereda, pabrik sudah beroperasi kembali dan beberapa Mitra sudah merapat untuk urusan distribusi  Kawat duri Baja ini.

Saya sedang memberikan nasihat kepada group mitra usaha Kawat Duri ini  agar sebijaksana  mungkin menyepakati  harga jual yang mendekati titik margin yang paling bijaksana  supaya di satu sisi terjangkau oleh daya beli masyarakat tetapi di sisi lain tersedia peluang usaha bagi mitra pusat maupun Daerah yang berminat untuk bekerja sama terutama ke Wilayah Timur Indonesia termasuk Rote Ndao.

Sebagaimana biasanya saya tak henti hentinya mengajak Putra Putri Rote Ndao baik dari Garis darah Ayah maupun Garis darah Ibu yang berada di kampung halaman maupun perantauan di tiap wilayah Diaspora, marilah kita saling mendoakan dan bergandengan tangan, sharing talenta satu sama lain untuk membangun Nusa Fua Funi ma Ndalu Sitak yang kita cintai bersama.

Air cucuran atap, jatuhnya ke Pelimbahan juga.

Hujan Emas di Negeri Orang

Hujan Batu Di Negeri Sendiri.

Baik pula Negeri Sendiri.

Mai Ita Fali

 

So’da Molek neu Ita basan.

TUHAN YESUS MEBERKATI.

Jakarta 20 Pebruari 2023.

Dengan Sepenuh Kasih.

 

Sodi Lian.

Artikel ini telah dibaca 1,251 kali

Baca Lainnya

DIDUGA WM STAF PUSKESMAS OELE HINA TETANGGA, DILAPORKAN KE POLSEK ROTE SELATAN

30 Maret 2026 - 19:48 WITA

ATKI & PARTNERS Kirim Surat Resmi, Dorong Penanganan Kasus Penguasaan Tanah di NTT

28 Maret 2026 - 17:57 WITA

Menjaga Nyala yang Ditinggalkan Michael Bambang Hartono

24 Maret 2026 - 22:52 WITA

Ketum AMKI, Tundra Meliala: Kemenangan untuk Memulihkan Keberanian

20 Maret 2026 - 16:20 WITA

Podcast Institut Marhaenisme27, Soroti Ancaman Kekerasan Terhadap Aktivis

19 Maret 2026 - 23:52 WITA

Selamat Hari Raya Nyepi dari Julie Sutrisno Laiskodat, B.B.A

19 Maret 2026 - 20:10 WITA

Trending di Internasional