Tahuna, Sulutnews.com – Bergulat dengan waktu dan janji-janji pembangunan, kisah menghadirkan listrik di Pulau Kahakitang, Kecamatan Kepulauan Tatoareng, menjadi potret nyata betapa sulitnya mewujudkan cita-cita “Indonesia Terang” di pelosok negeri.
Sejak program Indonesia Terang dicanangkan pada era Presiden Joko Widodo tahun 2019, hingga kini di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, impian masyarakat Kahakitang untuk menikmati terang benderang di malam hari masih sebatas harapan. Ironisnya, ketika di berbagai daerah slogan “habis gelap terbitlah terang” menjadi kenyataan, di Kahakitang justru sebaliknya: dari Indonesia Terang menuju Kahakitang Gelap.
Pulau Ibu Kota Kecamatan yang Terlupakan
Kahakitang bukan sekadar pulau kecil di lautan Sangihe. Pulau ini menjadi ibu kota Kecamatan Kepulauan Tatoareng, terdiri dari tiga desa: Kahakitang, Taleko Batusaiki, dan Dalako Bembanehe. Namun status sebagai ibu kota kecamatan tidak serta merta membuatnya diprioritaskan dalam pembangunan infrastruktur dasar. Hingga penghujung tahun 2025, pulau ini masih hidup dalam kegelapan—seolah menjadi anak tiri yang keberadaannya diabaikan.
Forum-forum perencanaan seperti Musrenbang kecamatan, yang semestinya menjadi ruang aspirasi dan perumusan program pembangunan, justru seringkali berubah menjadi ritual seremonial tanpa hasil nyata. Kehadiran unsur pemerintahan daerah dan anggota DPRD di forum tersebut dinilai sebagian warga hanya sebatas formalitas, lebih banyak diwarnai akal-akalan perjalanan dinas ketimbang menindaklanjuti kebutuhan rakyat.
“Tuan Besar” Listrik yang Tak Kunjung Datang
Sejak tahun 2022, masyarakat Kahakitang tak henti-hentinya mengusulkan agar listrik dapat segera dihadirkan. Berbagai rapat, pertemuan, hingga janji yang dihembuskan pejabat tak jua membuahkan hasil. Listrik ibarat “tuan besar” yang sulit dijangkau, seolah tak berjodoh dengan kehidupan masyarakat pulau ini.
Padahal, di tingkat provinsi, Gubernur Sulawesi Utara Julius Silvanus Komaling sudah menunjukkan langkah politik dengan menemui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta pada Selasa, 4 November 2025. Pertemuan itu membahas dua isu penting: pemerataan penerangan listrik di wilayah kepulauan dan penataan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) berbasis kesejahteraan masyarakat.
Dalam keterangan yang dikutip dari Newsline.id, Gubernur Komaling menyebutkan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden tentang misi “Merdeka dari Kegelapan.” Pemerintah pusat dan Pemprov Sulut sepakat mempercepat akses listrik 24 jam bagi masyarakat kepulauan yang selama ini hanya menikmati listrik 6–12 jam per hari, serta memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal dalam akses energi.
Sayangnya, semangat itu belum menyentuh Kahakitang. Hingga kini belum ada gerakan konkret dari PT PLN (Persero) untuk mengakomodir pulau tersebut sebagai bagian dari program “Merdeka dari Kegelapan.” Masyarakat pun hanya bisa menatap langit malam, berharap pada janji yang belum tentu datang.
Tiang Listrik Berkarat, Simbol Janji yang Layu
Di beberapa titik pulau, memang sudah berdiri tiang-tiang listrik berwarna silver yang dipasang sejak era Presiden Jokowi. Sayangnya, sebagian dari tiang-tiang itu kini miring dan berkarat, menjadi monumen bisu tentang sebuah janji pembangunan yang tak pernah tuntas.
Meski belum ada kepastian kapan mesin pembangkit listrik akan dihadirkan, pihak perusahaan instalatir listrik kabarnya mulai melakukan sosialisasi pemasangan jaringan ke rumah-rumah warga. Alih-alih membawa harapan, kegiatan ini justru menambah ironi karena tanpa sumber listrik, kabel-kabel itu hanya akan menjadi hiasan baru di rumah warga.
Harapan di Tengah Gelap
Warga Kahakitang sudah terlalu lama menunggu “terang” yang dijanjikan. Mereka bukan menuntut kemewahan, hanya ingin menikmati hak dasar yang seharusnya sudah mereka rasakan sejak lama: akses listrik yang layak.
Sebab bagi mereka, menghadirkan listrik bukan sekadar soal cahaya, tapi juga soal martabat, pendidikan, ekonomi, dan masa depan generasi pulau.
Dan hingga hari ini, perjuangan itu masih berlanjut antara harapan dan kenyataan, antara gelap dan terang. (Andy Gansalangi)





