Veskin Jovanco Parasan, 20 tahun dan Hos Sundana, 50 tahun (kanan)
Sitaro.sulutnews.com – Laut yang ganas tak menyurutkan keberanian seorang pemuda 20 tahun bernama Veskin Jovanco Parasan. Dalam kondisi mesin perahu mati, gelombang mencapai 5 meter, dan malam yang gelap, ia harus mengambil keputusan cepat, bertahan atau menyerah pada alam. Ia memilih bertahan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk empat anak yang bersamanya.
Peristiwa itu bermula saat Veskin bersama rekannya, Rido Mesi Lumakeki (18), awak KM Putra Mahakam 01, berangkat dari kapal pajeko menggunakan perahu ayuda menuju Kampung Lehupu untuk mengambil gas. Dalam perjalanan, mereka turut membawa tiga anak yang sebelumnya memancing di Pelabuhan Ngalipaeng.
Namun nahas, saat hampir tiba di tujuan, mesin perahu 40 PK yang mereka gunakan tiba-tiba rusak total. Perahu kehilangan kendali, terombang-ambing di tengah laut dengan arus kuat dan gelombang tinggi.
Dalam upaya penyelamatan, Veskin dan Rido sempat nekat melompat ke laut. Berbekal galon kosong sebagai alat bantu, mereka mencoba berenang ke arah pantai sambil menarik perahu.
“Saya bersama Rido melompat dari perahu dengan galon kosong untuk coba berenang ke pantai sambil menarik perahu, tapi arus dan gelombang sangat kuat. Kami tidak sanggup, akhirnya kembali ke perahu dan bertahan bersama yang lain,” ungkap Veskin.
Gagal mencapai daratan, mereka kembali naik ke perahu yang terus hanyut tanpa arah. Dalam situasi genting itu, Veskin mengambil alih kendali dengan satu prinsip penting yakni menjaga posisi perahu agar tidak melintang terhadap gelombang.
Dengan pengalaman sebagai operator perahu, ia mengikuti arah angin, arus, dan gelombang agar perahu tetap stabil dan tidak terbalik. Malam itu, harapan mereka tertuju pada Pulau Kahakitang, namun derasnya arus justru menyeret mereka menjauh ke arah utara hingga mendekati Pulau Nenung saat pagi tiba.
Tak menyerah, Veskin kembali memeriksa mesin. Usahanya membuahkan hasil, mesin sempat hidup kembali. Ia segera mengarahkan perahu menuju Pulau Mahangetang untuk mencari bantuan. Namun harapan itu kembali pupus saat bahan bakar habis di tengah perjalanan.
“Mesin sempat hidup kembali, kami arahkan ke Mahangetang supaya bisa minta bantuan. Tapi bensin sudah habis, jadi perahu kembali hanyut,” katanya.
Perahu terus terbawa arus hingga mendekati pesisir utara Pulau Siau. Namun melihat ombak besar yang menghantam garis pantai, Veskin memutuskan tidak mengambil risiko.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Di dalam perahu, ada empat anak belasan tahun yang harus ia lindungi, tiga di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar. Veskin memilih menjauh dari pantai dan kembali mengikuti arus ke arah perairan antara Pulau Buhias dan Pulau Siau.
Dalam kondisi kelelahan, lapar, dan terpaan panas siang serta dinginnya malam, Veskin tetap berusaha menjadi penopang mental bagi anak-anak tersebut. Ia membiarkan mereka berteduh di bawah terpal, sementara dirinya dan Rido terus berjaga.
“Saya tidak terlalu takut karena sudah biasa di laut, tapi saya khawatir dengan mereka. Saya terus yakinkan bahwa kita pasti selamat,” ujarnya.
Harapan itu akhirnya datang saat mereka melihat perahu nelayan di kejauhan. Dengan sisa tenaga, mereka mengibaskan pakaian sebagai tanda minta tolong.
Pertolongan datang dari seorang nelayan asal Kampung Karalung, Kecamatan Siau Timur, Hos Sundana. Ia mengaku awalnya sempat pulang setelah melaut sejak sore hingga malam. Namun dorongan hati membuatnya kembali ke laut, meski sempat dilarang oleh istrinya karena cuaca buruk.
Keputusan itu menjadi titik penyelamatan.
“Kami lihat ada orang di perahu sekitar 80 meter dari kami yang mengibaskan kain. Kami langsung dekati dan gandeng perahu mereka dengan tali ke arah pantai,” ungkap Hos.
Kelima korban yang akhirnya ditemukan selamat masing-masing adalah Veskin Jovanco Parasan (20), warga Tariang Lama, Kecamatan Kendahe; Rido Mesi Lumakeki (18), warga Lingkungan I Tandurusa, Kecamatan Aertembaga; serta tiga anak yakni Rafael Lahensel (11), Yohanis Moningka (10), dan Aliando Gonia (11), yang semuanya merupakan warga Kampung Ngalipaeng I, Kecamatan Manganitu Selatan.
Lima nyawa akhirnya selamat dari ancaman maut di laut lepas. Kisah ini bukan sekadar tentang kecelakaan laut, tetapi tentang keberanian, ketenangan dalam krisis, dan kepedulian yang menyelamatkan sesama.
Di tengah amukan alam, Veskin Parasan menunjukkan bahwa pengalaman, keberanian, dan keteguhan hati bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.






