Manado, Sulutnews.com – Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Manado Sulut Joy Tulung, SE.,M.Sc.., P.hD menilai hadirnya Koperasi Merah Putih ( KMP) di Desa dan Kelurahan di Indonesia termasuk di Provinsi Sulut sebagai langkah strategis dalam penguatan ekonomi kerakyatan, terutama di tingkat desa.
Koperasi termasuk KMP dalah badan usaha yang paling mencerminkan semangat gotong royong, demokrasi ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat secara langsung.
“Kehadiran Koperasi Merah Putih di tengah masyarakat, khususnya di desa-desa, merupakan sebuah inisiatif yang patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan” kata Ketua ISEI Cabang Manado Dr Joy Tulung .P.hd kepada wartawan Sulutnews.com Senin (21/7) di Manado lewat Whatsapp.
Joy Tulung dimintai tangapan terkait telah di Lounching 80.000 KMP oleh Presiden Prabowo secara Nasional Senin 21 Juli 2025 KMP secara sum. Untuk Sulut ada sekitar 1.826 KMP yang sudah berbadan Hukum dari Kementrian Hukum tersebar 1.839 Desa dan Kelurahan.
Joy Tulung yang meraih Doktor disalah satu Universitas di Prancis bidang Moneter atau keuangan mengatakan, lembaga, usaha yang berasaskan kekeluargaan dan gotong royong, koperasi memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.
Dikatakan dalam konteks pembangunan daerah, koperasi tidak hanya berperan sebagai penyedia barang dan jasa, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal secara langsung dan berkelanjutan.
Dari sudut pandang ekonomi, koperasi memungkinkan anggotanya untuk menjadi pelaku sekaligus pemilik usaha. Artinya, keuntungan yang diperoleh koperasi tidak dinikmati oleh pemodal besar dari luar, tetapi kembali kepada masyarakat dalam bentuk sisa hasil usaha (SHU).
Hal ini tentu menurut Joy Tulung sangat berbeda dengan model usaha ritel modern seperti Alfamidi dan Indomaret, di mana keuntungan biasanya dikonsolidasikan ke pusat dan tidak sepenuhnya mengalir kembali ke komunitas lokal.
Kelolah Profesional
Dengan demikian, jika koperasi dikelola secara profesional dan efisien, kehadirannya bisa berdampak nyata dalam meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar-pasar besar yang cenderung bersifat sentralistik.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa koperasi juga menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi modal, manajemen, dan daya saing, apalagi jika harus berhadapan langsung dengan jaringan ritel modern yang sudah memiliki sistem logistik terintegrasi, brand yang kuat, serta kemampuan promosi yang masif.
” Hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri” kata Joy Tulung yang juga sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat Manado.
Koperasi tetap memiliki potensi unggul, terutama dalam hal kedekatan sosial dengan masyarakat, fleksibilitas operasional, dan kemampuan untuk mengangkat produk-produk lokal yang tidak bisa dijangkau oleh ritel besar. Agar koperasi tidak kalah bersaing, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, koperasi harus dikelola secara profesional, bukan sekadar sebagai simbol gerakan rakyat, tetapi sebagai entitas bisnis yang modern dan transparan. Pengurus koperasi harus dibekali dengan pengetahuan tentang manajemen usaha, keuangan, teknologi digital, dan pemasaran. Keterbukaan laporan keuangan dan efisiensi operasional menjadi kunci kepercayaan anggota.
Kedua kata Joy Tulung koperasi perlu memanfaatkan transformasi digital. Di era sekarang, koperasi tidak boleh tertinggal dari sisi teknologi. Penggunaan aplikasi point of sales, manajemen stok berbasis digital, dan sistem pencatatan keuangan terintegrasi sangat dibutuhkan agar koperasi mampu bersaing dengan pemain besar. Ketiga, koperasi harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa yang bersinergi dengan pemerintah desa, BUMDes, dan UMKM lokal. Misalnya, koperasi bisa bertindak sebagai agregator hasil pertanian atau produk kerajinan lokal, sekaligus menjadi outlet distribusi barang kebutuhan pokok dengan harga bersaing.
Selain itu, pemerintah daerah dan pusat juga memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan koperasi. Ini bisa dilakukan melalui dukungan modal bergulir, pelatihan SDM, serta fasilitasi pemasaran. Banyak koperasi yang gagal bukan karena tidak punya pasar, tetapi karena lemahnya kapasitas pengelolaan dan minimnya pendampingan yang berkelanjutan.
Dalam konteks persaingan dengan ritel modern seperti Alfamidi dan Indomaret, koperasi sebenarnya tidak harus mengambil posisi sebagai pesaing langsung. Sebaliknya, koperasi bisa mengisi ruang-ruang pasar yang belum tersentuh ritel besar, serta membangun nilai tambah sosial yang tidak dimiliki oleh jaringan ritel modern. Nilai-nilai seperti kebersamaan, keterlibatan anggota, dan pemberdayaan lokal adalah keunggulan khas koperasi yang tidak bisa dibeli dengan modal besar.

Foto – Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Sulut Drs Yahya Gultom MAP.
Gerakan Ekonomi
Secara keseluruhan, kehadiran Koperasi Merah Putih harus dipandang sebagai bagian dari gerakan ekonomi rakyat yang berbasis kemandirian dan solidaritas sosial.
Dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kekuatan ekonomi lokal yang berbasis koperasi bisa menjadi benteng pertahanan sosial sekaligus jalan menuju kesejahteraan masyarakat desa. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen kolektif untuk membangun koperasi yang sehat, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Sudah 1.826 KMP
Sementata itu menurut Sekretaris Dinas Koperasi Dan UKM Sulut Yahya Gultom hinga saat ini sudah ada 1.826 Koperasi Merah Putih di Sulut yang Terbentuk dan sudah Dapat SK Dari Kementrian Hukum, Tingal 113 Sementara Berproses di Notaris. 1.826 Koperasi Merah Putih ( KMP) di Sulut sudah terbentuk di 1.839 Desa dan Kelurahan di 15 Kabupaten dan Kota.
Hal tersebut dikatakan Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Sulut Yahya Gultom kepada Wartawan Sulutnews.com lewat Whatsaap Senin (21/7)l
di Manado.Terkait launching KMP secara nasional oleh Presiden Prabowo hari ini Senin 21 Juli 2025 lewat sum sukses berjalan baik.
Menurutnya, proses pembentukan KMP di 1.839 Desa dan Kelurahan di 15 Kabupaten dan Kota lewat proses musyawarah semua tokoh tokoh masyarakat dan yang ada di Desa dan Kelurahan” jadi pengurus KMP ini benar benar orang pilihan” kata Goltom.
Dari 15 Kabupaten dan Kota terbanyak di Kabupaten Minahasa sekitar 270 KMP. Kemudian Kabupaten Bolmong 202 KMP dan menyusul Kabupaten Minsel 177 KMP. Sementara yang yang lain dibawah 170 KMP dan paling sedikit di Kotamobagu hanya 34 KMP yang terbentuk.
Dengan ada SK dari Kementrian Hukum maka 1.826 siap eksis dengan usahanya. Dalam pembentukan semua ikut prosedur yang ada.
Menurut Yahya Gultom usaha yang bisa enam usaha seperti Gerai sembako, Gerai obat murah atau apotik Desa, Gerai Klinik Desa dan Gerai Koperasi, gerai Simpan pinjam, Gerai Pergudangan seperti Cold storage/cold chain dan logistik (distribusi) serta usaha Kendaraan logistik dan atau sesuai potensi desa.serta basis usaha sebelumnya baik dari kelompok.tani dan gabungan kelompok tani. “Itu usaha usaha yang bisa dilakukan KMP” katanya. (Fanny)






