Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

NTT · 24 Jun 2025 22:43 WITA ·

Misteri Grup WhatsApp “KOORDINASI KEPALA DESA” Rote Ndao: Transparansi atau Celah Kekuasaan?


Foto : Apremoy Dudelusy Dethan, Wakil Bupati Rote Ndao Perbesar

Foto : Apremoy Dudelusy Dethan, Wakil Bupati Rote Ndao

Rote Ndao,Sulutnews.com – Pembentukan grup WhatsApp “KOORDINASI KEPALA DESA” oleh ajudan Wakil Bupati Rote Ndao, Hildegardis Damian, telah menimbulkan kontroversi dan pertanyaan serius mengenai transparansi pemerintahan di Rote Ndao. Grup yang beranggotakan seluruh Kepala Desa dan Camat di Rote Ndao ini dinilai janggal dan memicu spekulasi di kalangan pejabat daerah dan publik.

Meskipun penjelasan resmi menyebutkan grup ini dibentuk atas permintaan Wakil Bupati untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi, penjelasan tersebut belum cukup untuk meredakan kekhawatiran. Seorang Camat yang enggan disebutkan namanya, dalam wawancara pada Selasa, 24 Juni 2025, mengungkapkan kebingungannya: “Ada apa dengan Wakil Bupati Rote Ndao diam-diam membuat grup sendiri dengan semua Kepala Desa dan Camat se-Rote Ndao?” Pernyataan ini menyoroti kekhawatiran akan potensi adanya komunikasi dan pengambilan keputusan yang tidak melibatkan Bupati Rote Ndao secara langsung, menimbulkan pertanyaan tentang mekanisme pemerintahan yang seharusnya transparan dan akuntabel.

Keberadaan grup ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya agenda atau kebijakan yang dijalankan secara terpisah dari jalur resmi pemerintahan. Ketidakjelasan mengenai tujuan dan mekanisme kerja grup “KOORDINASI KEPALA DESA” semakin memperkuat kekhawatiran publik akan kurangnya transparansi. Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari Wakil Bupati Rote Ndao, meskipun telah dikonfirmasi pada Selasa, 24 Juni 2025.

Ketiadaan penjelasan resmi ini semakin memperkuat misteri di balik pembentukan grup tersebut. Apakah ini upaya untuk meningkatkan efisiensi komunikasi, atau justru indikasi adanya jalur komunikasi alternatif yang kurang transparan dan berpotensi menimbulkan celah kekuasaan? Pertanyaan ini tetap menjadi tanda tanya besar yang membutuhkan jawaban. Transparansi dan akuntabilitas pemerintahan merupakan kunci untuk menjaga kepercayaan publik, dan kejelasan mengenai grup WhatsApp ini sangat penting untuk memastikan hal tersebut.

Reporter: Dance Henukh

Artikel ini telah dibaca 1,397 kali

Baca Lainnya

Bupati Paulus Henuk Tutup Mata Dengan PPPK DPRD Rote Ndao Desak Pemerintah Lantik PPPK Paruh Waktu per 2 Maret 2026

25 Februari 2026 - 16:49 WITA

KSOP Kupang Membantah Tuduhan Korupsi, Sebut Penetapan Tender TA 2026 Dilakukan di Luar Kewenangan

18 Februari 2026 - 10:17 WITA

Penetapan Pemenang Tender Subsidi Angkutan Laut TA 2026 Dinilai Ilegal, KSOP Kupang Klaim PPK 2025 Melampaui Kewenangan

18 Februari 2026 - 10:09 WITA

Penetapan Pemenang Tender Subsidi Angkutan Laut TA 2026 Dinilai Ilegal, KSOP Kupang Klaim PPK 2025 Melampaui Kewenangan

18 Februari 2026 - 09:41 WITA

Penetapan Pemenang Tender Subsidi Angkutan Laut TA 2026 Dinilai Ilegal, KSOP Kupang Klaim PPK 2025 Melampaui Kewenangan

18 Februari 2026 - 09:36 WITA

Prof. YLH Diberi Kuasa Tangani Dua Kasus Tanah Ulayat – Awal Baik Buat Profesi Baru dan Kembali Mengabdi di UNSTAR Rote!

17 Februari 2026 - 00:08 WITA

Trending di Hukrim