Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Adat Budaya · 16 Des 2023 07:52 WITA ·

Pantai Wisata Pananualeng Dan Cerita Sejarahnya


Pantai Wisata Pananualeng Dan Cerita Sejarahnya Perbesar

Tahuna, Sulutnews.com – Perjalanan menuju Pantai Wisata Pananualeng di Kampung Tariang Baru Kecamatan Tabukan Tengah, memakan waktu hampir satu jam dari Kota Tahuna. Pantai indah yang memiliki banyak cerita hingga menjadi destinasi wisata lokal.

Perjalanan menggunakan motor, agak santai namun harus tetap hati-hati dikarenakan topografi wilayah Pulau Sangihe berbukit dan disisi jalan bertebing dan berkelok. Hari Minggu siang usai ibadah di Gereja, biasanya banyak masyarakat berbondong-bondong ke pantai ini.

Tiba di sana, pengunjung dimintai retribusi oleh petugas yang mengelola Pantai Pananualeng. Suguhan pertama nampak pepohonan yang rindang menjadi kanopi alami membuat wisatawan beta di bawah pohon rindang.

Hamparan pasir putih, memberi aksen pantai ini layak menjadi primadona Wisata di Wilayah Utara Sulawesi Utara. Begitu juga air lautnya sebening kristal, menambah kepuasan tersendiri bagi para penikmat suasana pantai. Begitu juga dengan terumbu karang dan biota laut yang masih terjaga, jika berkenan di sana kita seolah berada di dalam akuarium raksasa.

Suguhan angin sepoi-sepoi menambah kesejukan, apalagi sambil rebahan di atas pasir putih. Banyak pengunjung pantai ini membawa tikar agar bisa di gelar di atas pasir dibawah rindangnya pohon, ada yang berkelompok ada juga yang bersantai sambil memadu kasih dengan orang tercinta.

Hal itu lantas menjadikan pantai ini sulit di lupakan, seolah terus memanggil untuk di kunjungi. Apalagi jajanan khas disana berupa pisang goreng, batata goreng, di sajikan bersama dabu-dabu ala Sangihe, dan secangkir kopi atau teh membuat kunjungan ke pantai ini semakin berarti.

Dedaunan nyiur yang turut menghiasi barisan pohon peneduh di pantai ini, memanjakan mata untuk menatap ke langit sambil melihat tarian dedaunan nyiur, seolah melambai-lambai memanggil pulang para perantau.

Butiran pasir putih halus, menjadi mainan anak-anak, mereka senang membangun istana pasir, lalu mereka robohkan kembali. Keceriaan anak-anak ini seakan ungkapan jiwa dari Pananualeng.

Kita kembali ke cerita Pananualeng, dalam bahasa Sangihe *Pendalrualeng” artinya di tikam, dimana dari cerita turun temurun di masyarakat Tariang Baru, mengisahkan tentang pertemuan antara “Kalendesang” atau Ksatria Sangihe dengan bangsa Mindanao “Mangindano” dari Filipina yang mendapat di pantai ini.

Pertempuran sengit itupun terjadi, masyarakat Sangihe mengusir orang Mangindano yang konon diceritakan mereka adalah para bajak laut. Pertempuran itu di menangkan oleh para ksatria Sangihe, lalu tombak yang terbuat dari bambu di tancapkan di tanjung Pananualeng.

Tombak ini kemudian menjadi sesuatu yang mistis dan misterius, sebab tombak dari bambu itu bertumbuh terbalik, dan bambu ini memiliki duri, herannya duri bambu ini bukannya menghadap ke atas layaknya duri pada tumbuhan, melainkan menghadap kebawah, sehingga masyarakat menyimpulkan bambu tersebut bertumbuh terbalik.

Tak hanya itu, tombak bambu yang bertumbuh ini, pada dahulu kala saat di potong akan mengeluarkan cairan merah yang oleh masyarakat dikatakan bahwa itu adalah darah, sebab korban dari tombak bambu ini sangatlah banyak, sehingga tombak bambu ini dianggap benda mistis.

Ke pantai Pananualeng memang tak lengkap jika tidak mengunjungi lokasi bambu berdarah itu. Untuk ke lokasi tersebut kita akan berjalan ke arah selatan pantai, setelah itu kita akan mendaki sekitar tiga pulan meter, diatas bukit itu ada kuburan massal yang hanya di tandai dengan bebatuan. Dari lokasi kuburan kuno itu kita berjalan ke arah utara dan hampir di tebing tanjung kita akan melihat kumpulan bambu berwarna kuning pucat berdiri sebagai saksi pertarungan bajak laut Mangindano dengan Kalendesang Sangihe.

Menurut Kapitalaung (Kepala Desa) Kampung Tariang Baru, Yeri Pulmbura, pantai Pananualeng, sejak pertengahan tahun 80 an, kala itu Camat Tabukan Tengah adalah mantan Bupati Sangihe, H R Makagansa, ia menggagas pantai ini di jadikan destinasi wisata.

Di pantai ini sebenarnya hanyalah tempat para nelayan menaruh perahunya dan mendirikan pondokan agar mereka bisa beristirahat atau berteduh saat hujan. “Pantai ini dulunya hanya tempat para nelayan menaruh perahunya, lalu ada beberapa pondok. Sejak Pak Makagansa menjadi Camat Tabukan Tengah, ia menggerakkan masyarakat dan pemerintah kecamatan untuk membuka akses jalan ke pantai Pananualeng untuk menjadikan pantai ini sebagai tempat wisata” cerita Kapitalaung.

Bahkan Kapitalaung mengatakan sejak saat ini upaya mengembangkan pantai Pananualeng terus di lakukan, apalagi memasuki tahun dua ribuan awal Pananualeng makin terkenal sebagai pantai wisata. “Ada beberapa stasiun TV mengadakan peliputan di pantai ini, sehingga pantai ini semakin berkembang dan terkena” ungkap Pulumbara.

Kemudian, setelah itu pengelolaan pantai diserahkan ke pemerintah kampung, berbagai fasilitas dibangun diantaranya, sarana sanitasi, sarana rekreasi berupa kasebo dan bangunan serbaguna. Namun bangunan itu pun dimakan usia dan banyak yang rusak.

Lambat laun perhatian pemerintah Daerah di tujukan ke pantai ini, bangunan moderen pun di bangun termasuk ruko mini sengaja di bangun untuk memfasilitasi para penjual di pantai ini, yang dahulu hanya berupa pondok-pondok namun kini sentuhan bangunan moderen terlihat berjejer di pantai Pananualeng.

Di sampaikan oleh Kapitalaung, sejak beberapa tahun lalu pengelolaan pantai Pananualeng di ambil alih kembali oleh pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata, sehingga berbagai bangunan telah di bangun di situ termasuk sara penerangan listrik juga sudah tersedia, dimana pengunjung bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk melaksanakan kegiatan yang memerlukan listrik dan bangunan berbentuk Pendopo.

Salah satu penjual terlama di pantai ini, biasa masyarakat memanggilnya Oma pisa, yang nama aslinya Hapisa Hamise (73) berturut bahwa sejal lama ia menggantungkan hidupnya di pantai Pananualeng dengan berjualan, pisang goreng, batata goreng, kopi dan teh panas, juga Snack-snack, minuman mineral dan minum bersoda. “Oma penjual paling lama disini” imbuh Oma Pisa.

Keberadaan pantai Pananualeng memang belum sepenuhnya menjadi primadona Wisata, namun pantai ini sulit di kalakan dengan hadirnya berbagai destinasi wisata baru di Sangihe, sampai akhirnya tak lengkap ke Sangihe tanpa mengunjungi pantai Pananualeng. (Andy Gansalangi)

Artikel ini telah dibaca 1,444 kali

Baca Lainnya

Dukcapil Sangihe Permudah Urusan Administrasi Calon TNI/Polri

17 Maret 2026 - 18:19 WITA

Internet Sangihe Berpotensi Down Sementara April 2026, Pemkab Siapkan Antisipasi

17 Maret 2026 - 09:36 WITA

Dukcapil Sangihe Jemput Bola di Manganitu, Perekaman KIA Warnai Peringatan HKG PKK 2026

13 Maret 2026 - 23:29 WITA

Peringati HKG PKK ke-54, PKK Sangihe Dorong Literasi, Adminduk hingga Penguatan Kapasitas Perempuan

13 Maret 2026 - 18:03 WITA

Tuari Tinjau Mesin Baru PLN Sangihe, Harapan Surplus Listrik Mulai Terwujud

13 Maret 2026 - 17:57 WITA

Bupati Thungari Lantik 46 Pejabat, Dorong Birokrasi Sangihe Lebih Dinamis

12 Maret 2026 - 23:39 WITA

Trending di Sangihe