Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Adat Budaya · 25 Jan 2026 23:29 WITA ·

Rumah Sunting Datangkan Perempuan Adat Dalam Diskusi Kebudayaan


Rumah Sunting Datangkan Perempuan Adat Dalam Diskusi Kebudayaan Perbesar

Pekanbaru,Sulutnews.com – Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting mengawali kegiatan tahun 2026 dengan menggelar Diskusi Kebudayaan, Minggu (25/1) di Bocokopi, Marpoyan Damai, Pekanbaru. Dalam Diskusi yang mengusung tema Turun Mandi: Ibu, Anak dan Sungai ini, Rumah Sunting menghadirkan perempuan-perempuan adat dari desa di sekitaran Sungai Subayang, Kampar Kiri, termasuk salah satu pemantiknya.

Pimpinan Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, menyebutkan, Diskusi Kebudayaan memang merupakan program tahunan Rumah Sunting. Kali ini menyajikan Turun Mandi yakni proses memandikan anak untuk pertama kalinya ke sungai sejak ia dilahirkan, sebagai upaya pelestarian kearifan lokal yang menjaga alam agar tidak hilang. Turun Mandi juga disebut Kunni sebagai praktek kebudayaan yang menghadirkan peran penting perempuan dalam pelestarian budaya dan alam.

‘’Kami terus belajar dan berupaya melakukan pelestarian kearifan lokal yang berarti juga menjaga alam, semampu kami bisa. Ada nilai-nilai luhur yang harus dipertahankan. Budaya pasti berubah, tapi nilai luhur tentang kejujuran, gotong royong, saling menjaga dan menghargai antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam, harus selalu bersebati dengan diri kita. Turun mandi merupakan alah satu kearifan lokal yang menjaga alam, dan salah satu bentuk komunikasi ibu kepada anak dan lingkungannya,’’ kata Kunni.

Kunni mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya Diskusi Kebudayaan ini, terutama kepada para narasumber, pemilik Bocokopi yang memberi ruang dan kesempatan berkolaborasi serta sahabat-sahabat Sunting yang hadir pada kesempatan tersebut.

‘’Mengapa Diskusi Kebudayaan kami hadirkan di tempat tongkrongan anak muda seperti di kafe ini, bahkan mendatangkan langsung masyarakat adatnya, agar generasi muda juga turut mendengarkan, memahami dan bersama-sama menjadi bagian dalam upaya pelestarian makna dan nilai luhur dari kearifan lokal yang menjadi kekayaan bangsa kita, khususnya tentang Turun Mandi,’’ kata Kunni lagi.

Video Dokumenter sebagai Proses Pewarisan
Kegiatan Diskusi Kebudayaan ini dimulai dengan pemutaran video Turun Mandi yang berdurasi sekitar 4 menit. Video menggambarkan secara detil proses Turun Mandi, dengan tokohnya langsung hadir sebagai narasumber, Ramidar.

Dikatakan Kunni, pengambilan video dokumenter di Desa Tanjung Beringin bukan hanya karena di desa tersebut Turun Mandi sebagai tradisi wajib, tapi sebagai jalan pembelajaran dan pembekalan bagi Ramidar sebagai pelestari karena di Padang Sawah sendiri Turun Mandi sudah tidak lagi dilaksanakan di sungai, tapi di rumah dengan menggunakan baskom.

‘’Mengapa video ini tidak dibuat di Desa Padang Sawah tempatnya Ibu Ramidar, karena di Padang Sawah Turun Mandi tidak lagi dilaksanakan di sungai. Awalnya dulu memang di sungai. Tapi kemudian di rumah dengan menggunakan baskom sebagai pengganti sungai karena nilai-nilai yang sudah bergeser. Ibu Ramidar, sangat mau jika Turun Mandi dilaksanakan di sungai kembali, makanya kami bawa ke Desa Tanjung Beringin untuk belajar sekaligus untuk kepentingan dokumentasi agar Turun Mandi bisa diwariskan dan difahami secara lebih luas oleh masyarakat melalui platform digital khususnya,’’ kata Kunni.

Selama pembuatan video dokumenter, Kunni dan tim produksi menemui tokoh-tokoh yang berhubungan dengan turun mandi. Mulai dari dukun bayi sebagai pelaku utama Turun Mandi, Datuk Pucuk hingga masyarakat umum. Bahkan tim ini mencari perlengkapan-perlengkapan Turun Mandi lalu dibawa ke Pekanbaru dan turut dihadirkan dalam diskusi kebudayaan tersebut.

Perlengkapan itu antara lain, sumpik sebagai tempat perlengkapan Turun Mandi yang dibuat dari pandan, daun sirih, gambir, kunyik bolai, jerangau, tubu koghe, sibengkek, pinang, kulin, benang cano, kemenyan, jalo dan kain buruk sebagai sumbu yang dibakar sehingga menimbulkan asap selama dalam perjalanan pulang dan pergi menuju sungai.

Semua perlengkapan ini dihadirkan di tengah panggung. Diletakkan di atas sebuah nampan yang dialasi kain putih, dan diterangi lilin kecil yang diletakkan di bagian tengah, antara perlengkapan tersebut. Di samping nampan yang diletakkan di atas meja kayu kecil itu, ada sebuah ayunan kecil dari kain panjang. Di ayunan inilah anak dibatimangkan sekembalinya dari sungai, sekaligus dilaksanakan prosesi pusung atau pengasapan.

‘’Bukan sekedar praktek Turun Mandi itu yang ingin hadirkan sebagai proses pewarisan itu di sini, tapi nilai-nilai luhur dibalik tradisi ini, yakni nilai luhur bagaimana seorang ibu mengenalkan dunia di luar rumahnya kepada anak, cara mengenal Tuhannya, menjaga kearifan lokalnya, menghargai nenek moyangnya hingga menjaga alam lingkungannya. Turun Mandi ini cara lain masyarakat adat khususnya perempuan menjaga alam,’’ tegas Kunni.

Rumah Sunting menghadirkan dua narasumber dalam Diskusi Kebudayaan ini. Pertama, Ramidar, pelestari Turun Mandi yang tinggal di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri atau masyarakat yang tinggal di sekitaran Sungai Subayang. Dalam diskusi tersebut, Ramidar menceritakan bagaimana pelaksanaan Turun Mandi waktu dulu dan kondisinya saat ini.

‘’Dulu di kampung kami Turun Mandi memang dilaksanakan di sungai, tapi sekarang tidak lagi. Anak yang sudah tanggal tali pusatnya diturunmandikan di rumah saja dengan menggunakan baskom. Ada yang berubah. Sekarang sungai dianggap jauh dari rumah, air sungai juga tidak lagi jernih karena adanya kegiatan-kegiatan oleh orang-orang tertentu sehingga merusak,’’ kata Ramidar.

Ramidar yang datang dengan rombongan, mengaku ingin Turun Mandi Kembali dilaksanakan di sungai. Maka, bersama Rumah Sunting ia ikut melakukan perjalanan Jelajah Budaya di Desa Tanjung Beringin, belajar dari orang tua di sana, dan mempraktekkan langsung, lalu Rumah Sunting mengabadikannya dalam video dokumenter.

‘’Saya sangat senang jika Turun Mandi di desa kami ini kembali dilaksanakan di sungai. Makanya Saya mau diajak Rumah Sunting ke Tanjung Beringin dan belajar di sana bagaimana sebetulnya Turun Mandi di sungai itu, karena di desa kami sudah lama tidak dilaksanakan,’’ sambung Ramidar.

Narasumber kedua adalah Muhammad Ade Putra, mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) yang juga pengurus KSB Rumah Sunting. Ade mengambil Turun Mandi sebagai objek penelitian Tugas Akhirnya. Selain mengkaji Turun Mandi sejak beberapa waktu sebelumnya, perjalanan Jelajah Budaya dan pembelajaran ulang oleh Ramidar sebelum diskusi ini, salah satunya juga berkat diskusi antara dirinya dengan pimpinan Rumah Sunting, Kunni Masrohanti.

Ade Putra pada diskusi tersebut menjelaskan tentang Turun Mandi secara lebih luas. Ia mengatakan, Turun Mandi sebagai ritus daur hidup bagi masyarakat di setiap desa di sepanjang Sungai Subayang yang selalu ada perbedaan, bahkan pergeseran bentuk sesuai kondisi alam di masing-masing desa.

‘’Turun Mandi di setiap desa di sepanjang Subayang secara tujuan memang sama, tapi secara bentuk berbeda. Turun Mandi seperti ritus daur hidup. Perlu disadari bahwa masyarakat di sebagian desa di sepanjang Subayang saat lahir dimandikan di sungai, bahkan meninggal juga dimandikan di sungai. Turun Mandi juga sebagai upaya mengingatkan kepada masyarakat luas, bahwa telah bertambah satu orang lagi dalam keluarga, maka maka dibawa keluar dan dimandikan di sungai. Turun Mandi juga sebagai upaya perlindungan kepada penghuni alam yang lain, bentuk penghargaan kepada sesama makhluk hidup dan sebagai warisan pengetahuan,’’ beber Ade.

Turun Mandi merupakan warisan seorang ibu kepada anaknya untuk menjaga alam. Kata Ade, orang sekarang menyebutnya dengan konservasi. Padahal, konservasi alam dan kearifan lokal ini sudah ada sejak dulu dengan nama yang berbeda. Dalam Turun Mandi juga ada relasi manusia dengan alam, ada tanggungjawab untuk semua. Ade menyebutnya sebagai ritus yang menghubungkan manusia dan alam, dan terus menumbuh.

‘’Kalau ada perbedaan cara Turun Mandi antara desa satu dengan yang lain, sangat lumrah. Tradisi tidak pernah seragam, karena ada yang mempengaruhi di dalamnya. Seperti sejarah lokal, kondisi alam, aktor kunci dan lain sebagainya. Perbedaan bahasa saja bisa terjadi padahal hanya dibatasi sungai. Pergeseran nilai juga sangat mungkin karena ada perubahan kondisi desa, kemajuan teknologi dan lain-lain. Bagaimana membuat Turun Mandi agar tidak bergeser nilainya, tergantung aktornya, siapa pelakunya, ada kepentingan atau tidak. Ini terlihat jelas antara Padang Sawah dan Tanjung Beringin. Di Tanjung Beringin anak harus diturunmandikan. Di Padang Sawah sekarang sudah mulai berkurang. Ditinjau dari kondisi alam atau sungai yang juga mulai rusak karena aktivitas perekonomian,’’ kata Ade lagi.

Praktek Pusung Bayi
Sebelum diskusi dimulai, Ramidar mempraktekkan prosesi pusung. Pusung merupakan sebuah prosesi yang menjadi bagian penting Turun Mandi, tepatnya setelah anak dimandikan di sungai dan dibawa pulang ke rumah.

Saat mempraktekkan, Ramidar memulai dengan melantunkan Batimang yaitu nandung untuk menidurkan anak sambil mengayun ayunan yang terbuat dari kain panjang. Usai Batimang, ia mengambil perlengkapan pusung yang ada di samping ayunan, yakni kulit pinang yang sudah diletakkan di dalam wadah khusus atau mangkuk dan membakarnya. Begitu kulit pinang berasap, ia menyiramkan remahan kemenyan di atasnya.

Kemudian mangkuk itu diletakkan di bawah ayunan. Perlahan asap diusapkan ke arah wajah bayi yang telah ditutup kain sampai bersin. Jika bersin, masyarakat meyakini anak tersebut akan jadi anak yang berbakti dan berbudi luhur. Usai Pusung, Batimang dilantunkan kembali sampai anak tertidur pulas.

Selain dihadiri perwakilan komunitas, hadir juga dalam diskusi ini, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr. Umi Kulsum, S.S, M.Hum. Ia merespon kegiatan tersebut di akhir diskusi panjang.

‘’Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini terus bisa dilaksanakan. Kita perlu saling berkolaborasi, bahu membahu untuk melestarikan budaya, sastra dan Bahasa. Terimakasih Rumah Sunting yang sudah mengundang Saya hadir sehingga mengetahui banyak hal tentang kearifan Turun Mandi dan juga Batimang sebagai tembang tradisi. Semoga nanti bisa dikolaborasikan dengan Balai Bahasa Riau,’’ katanya. (*)

Artikel ini telah dibaca 1,028 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pentas Mahzani 1000 Pelajaran di Kota Tomohon Lestariikan Warisan Budaya Masyarakat Adat Tombulu

11 Maret 2026 - 23:44 WITA

Pentas Mahzani Massal Pergelaran Sastra Woloan Bakal Hentak Kota Tomohon Diikuti 1000 Pelajar

9 Maret 2026 - 14:06 WITA

Eksplorasi Kawasan Kampung Cina Manado Jelang Imlek 2026

16 Februari 2026 - 18:41 WITA

Mikael Manu Anggota DPRD Rote Ndao Minta Bupati dan Dinas Pendidikan Berikan Perhatian: Siswa SMPN 2 Lobalain Alami Bengkak Lutut Setelah Dihukum Berlutut

10 Februari 2026 - 19:52 WITA

Dakwah Tanpa Mimbar: Cerita Musafir Pakistan yang Menginspirasi

6 Februari 2026 - 11:16 WITA

Haji Malik Mahboob Ahmad: Musafir Pakistan yang Bawa Berkah ke Kupang dan Melanjutkan Perjalanan ke Australia

6 Februari 2026 - 11:09 WITA

Trending di Adat Budaya