Sulutnews.com Bengkulu Selatan – kades tanjung tebat kecamatan bungamas kabupaten Bengkulu Selatan salah satu dari 22 kepala desa se indonesia yang mengikuti program benchmarking, Program ini di inisiasi oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia bekerja sama dengan Ministry of Agriculture and Rural Affairs of the People’s Republic of China (MARA), serta dikoordinasikan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Republik Indonesia.
Selama program berlangsung, peserta melakukan kunjungan dan studi lapangan di beberapa kota besar di Tiongkok, yaitu Beijing, Weifang, Longkou, dan Penglai. Daerah-daerah tersebut dikenal memiliki praktik unggulan dalam revitalisasi desa, pertanian modern, dan pengelolaan sumber daya lokal berbasis teknologi.
Fokus utama kegiatan benchmarking ini adalah memperkuat kerja sama pembangunan desa dan pertanian berkelanjutan antara Indonesia dan Tiongkok melalui pertukaran pengalaman dan inovasi lapangan. Peserta belajar tentang teknologi pertanian ramah lingkungan, irigasi hemat air, peternakan terintegrasi, pemanfaatan limbah ternak sebagai sumber energi, hingga strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Dalam wawancaranya, Kepala Desa Tanjung Tebat, menyampaikan rasa syukur dan optimisme atas kesempatan berharga tersebut.
“Kegiatan ini membuka wawasan kami bahwa kemajuan desa dapat dicapai melalui inovasi dan kolaborasi. Di Tiongkok, kami melihat bagaimana masyarakat desa mampu meningkatkan pendapatan melalui teknologi pertanian, pengolahan hasil ternak, dan pemanfaatan energi terbarukan. Kami berkomitmen membawa ilmu ini untuk diterapkan di Desa Tanjung Tebat,” ujar Kepala Desa Tanjung Tebat saat ditemui usai sesi pembelajaran di Kota Weifang.
Beliau juga menambahkan bahwa hasil pembelajaran di Tiongkok akan menjadi inspirasi bagi pengembangan potensi lokal di desanya.
“Kami akan mulai dengan langkah-langkah sederhana, seperti pelatihan bagi kelompok tani, pengelolaan limbah ternak untuk pupuk organik, dan pengembangan usaha kecil berbasis hasil pertanian. Tujuannya agar masyarakat bisa mandiri secara ekonomi, tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong yang menjadi kekuatan desa,” lanjutnya.
Selain manfaat teknis, kegiatan ini juga mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam bidang pembangunan pedesaan, pertanian, dan ekonomi masyarakat. Melalui transfer pengetahuan tersebut, diharapkan lahir desa-desa yang modern, produktif, dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Perwakilan dari Kemendes PDTT yang mendampingi kegiatan menyampaikan apresiasi terhadap semangat peserta, termasuk Kepala Desa Tanjung Tebat. “Para kepala desa menunjukkan komitmen yang tinggi untuk membawa perubahan nyata di desanya. Apa yang mereka pelajari di sini akan menjadi bekal penting untuk memperkuat ekonomi lokal di Indonesia,” ujarnya.
Menariknya, seluruh biaya pelaksanaan dan operasional kegiatan ini sepenuhnya ditanggung oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, sebagai wujud dukungan pemerintah Tiongkok terhadap pengembangan kapasitas aparatur desa Indonesia.
Dengan berakhirnya kegiatan benchmarking ini, Kepala Desa Tanjung Tebat berharap agar program serupa dapat terus dilanjutkan di masa mendatang.
“Kami sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Ke depan, kami berharap kerja sama seperti ini terus ditingkatkan agar desa-desa di Indonesia, termasuk Tanjung Tebat, dapat menjadi desa yang mandiri, berdaya saing, dan sejahtera,” tutupnya dengan penuh harapan. (JN)





