Minahasa, Sulutnews.com – Tim Dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Samratulangi (Unsrat) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendampingi masyarakat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kecamatan Langowan Selatan.
Program ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kecamatan Langowan Selatan, yang langsung diterima Kepala Kantor Kecamatan Bapak Donald Lumingkewas.

Tim Pelaksana dipimpin Dr. Greis M. Sendow,SE,MAB, bersama Prof.Stanss.L.V.J.Lapian,SE.MM, Dr. Een Novritha Walewangko. Kegiatan Ini Dilaksanakan Pada Bulan Agustus 2025.
Kegiatan ini sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengebdian kepada masyarakat. memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat daerah Kecamatan Langowan Selatan.

Usai kegiatan Dr. Greis Sendow menjelaskan kepada Sulutnews.com, bahwa hasil pengamatan dan diskusi awal dengan petani Bapak Lexi Kolamban mengungkapkan bahwa hasil usaha dilakukan masih dalam benuk tradisional dari bahan mentah langsung dijual kepasar. Terjadi ketidakseimbangan, ketidakcocokkan keinginan, terjadi seimbangan produksi yang mempengaruhi harga. Diperlukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidik, pelatihan, untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan.

“Untuk membantu masyarakat, kami melakukan edukasi dengan metode penerapan dilakukan dengan cara penyuluhan dalam bentuk diskusi dengan kelompok terhadap mitra 1 (kelompok usaha tani cabe) dan mitra 2 (kelompok usaha tani tomat)” ucap Greis Sendow.
Tim PKM melakukan diskusi dengan kelompok usaha cabe, meliputi aspek produksi dan penjualan, “kelompok tani usaha cabe ini menjual cabe dengan cabe mentah dengan harga yang berbeda. “Usaha tanaman cabe harganya akan meningkat disaat musim hujan dengan intensitas tinggi, karena hasil produksi dimusim penghujan kurang diakibatkan bunga dari cabe berjatuhan sehingga hanya sedikit yang dihasilkan atau diproduksi, disamping itu juga sering mengalami kekurangan pupuk. Kami membuuhkan pengembangan SDM dalam bentuk pelatihan-pelatihan usaha” ungkap Bapak Jhoni.

Tim PKM melakukan hal yang sama terhadap kelompok usaha tani tomat berdasarkan hasil wawancara singkat dengan Bapak Steven Manorek, disampaikan bahwa tanaman tomat dipanen secara bertahap dengan interval waktu 1 minggu. “Panen tomat biasanya dilakukan sebanyak 5-6 kali” ujar Steven.
Disampaikan bahwa produksi tertinggi pada saat panen ketiga dan keempat. Usaha tomat yang ditanam kelompok usaha tani sering mengalamai berbagai kendala, dimana rata-rata produksi hasil penjualan tomat sering mengalami penurunan, dan jika harga tomat menurun maka sering tidak lagi diambil buahnya oleh petani dibiarkan tanpa dipetik.

Beberapa kendala lainnya yang sering dihadapi petani seperti busuk batang, busuk daun, layu, sampai virus keriting sudah menjadi langganan penyakit pada tanaman tomat pasca musim hujan. Pastinya, beberapa kendala ini jika menyerang serempak dalam satu lahan berakibat krusial sampai bisa jadi gagal panen.

Sebagai penutup Dr Greis Sendow menyampaikan PKM selanjutnya akan diadakan pelatihan agar kelompok Mitra yang masih sangat tradisional, belum ada penggunaan model atau konsep manajemen usaha modern. Kami dan Tim siap membantu menyelesaiakan beberapa permasalahan dalam pengembangan SDM, produksi, kewirausahaan, pemasaran maupun keuangan” ucapnya.(Merson)






