Bitung, Sulutnnews.com – Pada Festival Ramadhan 2025 yang digelar di kawasan Pedagang Takjil dan Pasar Senggol kaki lima, hadir sebuah momen menghangatkan hati para pengunjung.
Anum, seorang penyair muda, tampil dengan sebuah puisi yang menyentuh.
Festival ini dengan suasana yang penuh kebersamaan dan kegembiraan menjelang berbuka puasa, menjadi lebih spesial dengan hadirnya puisi yang dibawakan Hanum di tengah keramaian tersebut.
Puisi yang dibacakan Anum bukan hanya sekadar kata-kata yang mengalir, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang makna Ramadhan.
Di antara hiruk-pikuk suara pedagang takjil dan riuhnya pasar senggol yang ramai, puisi tersebut menjadi ruang untuk merenung.
Hanum, dengan suara khasnya namun penuh makna, berhasil mengajak para pendengar untuk sejenak berhenti dan merenungkan esensi bulan suci ini.
Dalam puisi yang dibawakannya, ia menggambarkan betapa pentingnya berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
Usai puisi religi, dilanjutkan dengan Tausiah singkat oleh Ustad Supriyanto berlangsung hingga penghujung berbuka puasa.
“Festival Ramadhan ini sangat membantu kami para pedagang, karena selain meningkatkan pendapatan, juga membawa semangat kebersamaan di tengah masyarakat.” Tutur Iwan.
(Tzr)





