Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Sangihe · 22 Okt 2025 11:25 WITA ·

Transformasi dari Balik Jeruji: KaDji Shop dan Citra Baru Pemasyarakatan di Tahuna


Transformasi dari Balik Jeruji: KaDji Shop dan Citra Baru Pemasyarakatan di Tahuna Perbesar

Tahuna, Sulutnews.com – Pagi itu, Senin 20 Oktober 2025, suasana Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tahuna terasa berbeda. Deretan kursi tersusun rapi, petugas berpakaian dinas lengkap, dan di depan ruangan terbentang spanduk bertuliskan:
“Penandatanganan Komitmen Bersama Aksi Perubahan: KaDji Shop — Strategi Pemasaran Produk Pertukangan Warga Binaan di Pasar Lokal Tahuna.”

Pukul 09.00 WITA, acara dimulai dengan penuh khidmat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, diikuti pembacaan doa dan laporan kegiatan. Namun di balik kesederhanaan seremoni itu, tersimpan makna besar: sebuah langkah kecil menuju perubahan besar dalam sistem pemasyarakatan.

Bagi Kepala Lapas Tahuna, Iskandar Djamil, hari itu bukan sekadar peluncuran program. Ia menyebutnya sebagai momentum transformasi pemasyarakatan—dari lembaga yang hanya berfokus pada pembinaan menuju lembaga yang berdaya guna dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Dari Balik Tembok ke Tengah Pasar

“KaDji Shop” adalah singkatan yang diambil dari nama sang penggagas, Ka (Kepala) Dji (Djamil). Namun di balik nama unik itu, tersimpan filosofi mendalam: membuka jalan bagi karya warga binaan untuk “keluar” menembus dinding pembatas Lapas dan hadir di tengah masyarakat.

“KaDji Shop bukan sekadar program pemasaran hasil karya pertukangan warga binaan, tetapi wujud nyata transformasi layanan pemasyarakatan menuju lembaga yang produktif, inovatif, dan berdaya saing,” ujar Iskandar dalam sambutannya.

Melalui program ini, hasil karya warga binaan berupa meja, kursi, lemari, hingga souvenir kayu akan dipasarkan secara profesional di pasar lokal Tahuna. Tak hanya memperkenalkan keterampilan mereka, KaDji Shop juga menjadi wadah ekonomi kreatif yang mendukung pemberdayaan sosial dan finansial para penghuni Lapas.

Bagi sebagian orang, produk warga binaan mungkin masih dianggap “hasil dari orang-orang yang salah langkah”. Namun bagi Iskandar dan timnya, karya itu justru menjadi simbol perubahan — tanda bahwa di balik masa hukuman, masih ada potensi yang dapat dihidupkan.

Menandatangani Komitmen, Meneguhkan Tekad

Penandatanganan komitmen bersama yang dilakukan hari itu melibatkan seluruh pejabat struktural, staf administrasi, dan petugas regu jaga. Secara berjenjang, dari eselon IV hingga seluruh pegawai menorehkan tanda tangan di atas lembar komitmen besar bertuliskan: “Kami Siap Berubah.”

Di hadapan rekan-rekannya, Kalapas Iskandar Djamil menegaskan pentingnya nilai kebersamaan dalam mewujudkan perubahan.

“Perubahan bukan hanya soal program, tapi tentang sikap. Kita ingin menjadikan Lapas Tahuna sebagai rumah kedua bagi warga binaan, tempat mereka belajar, berkarya, dan menata masa depan.”

Acara ditutup dengan lagu patriotik Bagimu Negeri dan doa bersama. Tak lama kemudian, suasana formal berganti hangat dengan sesi foto seluruh peserta. Di wajah para pegawai tampak jelas rasa bangga, bukan karena proyek besar, tapi karena mereka ikut dalam gerakan perubahan yang bermakna.

Membangun Paradigma Baru Pemasyarakatan

Program KaDji Shop lahir dari keinginan untuk menghapus stigma lama tentang lembaga pemasyarakatan. Dulu, Lapas identik dengan tempat pembatasan, pengawasan, dan hukuman. Kini, paradigma itu mulai berubah menjadi ruang pembinaan dan pemberdayaan.

Lapas Tahuna, yang berada di wilayah kepulauan paling utara Indonesia, menghadapi tantangan unik: keterbatasan akses ekonomi, minimnya sumber daya, dan stigma sosial terhadap warga binaan. Dalam konteks inilah KaDji Shop menjadi jawaban.

“Dengan membuka akses pasar bagi hasil karya warga binaan, kami ingin menghadirkan manfaat ganda: memberi peluang ekonomi bagi mereka, dan memperkenalkan kepada masyarakat bahwa hasil kerja mereka punya nilai,” kata Iskandar.

Di bengkel kerja Lapas, suasana kini lebih hidup. Warga binaan yang sebelumnya pasif kini mulai sibuk memotong, menghaluskan, dan merakit kayu menjadi furnitur sederhana. Mereka belajar tentang kualitas, kerapian, dan pemasaran, keterampilan yang akan berguna ketika mereka kembali ke masyarakat.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Secara sosial, KaDji Shop berpotensi besar mengubah cara pandang publik terhadap lembaga pemasyarakatan. Dengan memperlihatkan hasil karya nyata warga binaan di pasar, Lapas Tahuna menempatkan dirinya sebagai mitra masyarakat, bukan sekadar institusi penegakan hukum.

Secara ekonomi, program ini juga menjadi stimulus kecil bagi perputaran uang di daerah. Produk pertukangan warga binaan yang dijual di pasar lokal akan bersaing dengan produk komersial, membuka peluang kolaborasi dengan toko bahan bangunan dan UMKM setempat.

Bagi pemerintah daerah, inovasi ini sejalan dengan semangat pengembangan ekonomi kreatif berbasis keterampilan lokal. Bagi Lapas, ini menjadi alat ukur keberhasilan pembinaan: ketika warga binaan tak hanya berperilaku baik, tapi juga produktif.

Menyemai Integritas di Balik Inovasi

Namun Iskandar Djamil tidak menutup mata bahwa setiap inovasi membutuhkan integritas. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan transparansi dalam menjalankan program.

“Kita harus menjaga kepercayaan publik. Setiap rupiah hasil karya warga binaan harus dikelola dengan jujur, karena dari situlah kepercayaan tumbuh.”


Sikap ini menjadi bagian dari nilai dasar perubahan di Lapas Tahuna: integritas, profesionalisme, dan pelayanan. Nilai-nilai tersebut kini menjadi pegangan seluruh pegawai yang ikut menandatangani komitmen.

Bagi mereka, bekerja di Lapas bukan sekadar tugas administratif, melainkan panggilan untuk memanusiakan manusia.

Citra Baru dari Utara Nusantara

Langkah kecil Lapas Tahuna melalui KaDji Shop mungkin tidak langsung mengubah sistem besar pemasyarakatan nasional. Namun di tengah keterbatasan geografis dan sumber daya, inisiatif ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa lahir dari mana saja — bahkan dari balik jeruji besi.

Tahuna, yang selama ini dikenal sebagai daerah kepulauan dengan keterbatasan akses ekonomi, kini menjadi saksi bahwa inovasi tidak mengenal sekat birokrasi. Lapas Kelas IIB Tahuna sedang menulis babak baru: lembaga pemasyarakatan yang tidak hanya menahan, tetapi juga membebaskan — lewat karya, harapan, dan kesempatan kedua.

“KaDji Shop adalah langkah konkret menuju Lapas Tahuna yang produktif, kreatif, dan berorientasi pada pemberdayaan warga binaan,” pungkas Iskandar Djamil dengan senyum penuh keyakinan.

Program KaDji Shop menjadi contoh nyata bagaimana semangat inovasi birokrasi dapat diterapkan di tingkat daerah. Lebih dari sekadar proyek, ia merepresentasikan visi kemanusiaan, bahwa setiap individu, tanpa kecuali, berhak diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan berkontribusi bagi masyarakat. (Andy Gansalangi)

Artikel ini telah dibaca 1,676 kali

Baca Lainnya

Bupati Thungari, Musrenbang RKPD 2027 Dorong Transformasi Digital dan Konektivitas

10 Maret 2026 - 18:05 WITA

Birokrat Senior Sulut H R Makagansa Tutup Usia, Tinggalkan Warisan Pengabdian

9 Maret 2026 - 21:41 WITA

Kisah Bripka Ramadhan Gobel Menjaga Integritas Lewat Rumah Makan Sederhana

5 Maret 2026 - 17:31 WITA

Tarian Ampa Wayer Dalam Dinamika Modern, Namun Sarat Makna Identitas

4 Maret 2026 - 23:44 WITA

Bupati Michael Thungari Tekankan Integritas dan Akuntabilitas Aset dalam Apel Kerja Bersama ASN Sangihe

4 Maret 2026 - 10:14 WITA

Pemkab Sangihe dan Angkasa Pura I Perkuat Sinergi Promosi Wisata

3 Maret 2026 - 23:42 WITA

Trending di Sangihe