
Bolmut, Sulutnews.com – Penjabat Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Sirajudin Lasena, SE.,M.Ec.Dev, bersama sekian banyak jamaah dari Boroko dan sekitarnya melakukan shalat Idul Fitri 1445 H/2024 M di Masjid Agung Baiturahman Boroko. Rabu (10/04/2024) pagi.
Nampak pula Wakil Bupati Bolmut Periode 2018/2023 Drs. Hi. Amin Lasena, MAP, serta beberapa pejabat Pemkab Bolmut, antara lain Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Dr. Nazarudin Moloho, S.Pd, MSi, Asisten III Bidang Administrasi dan Keuangan Uteng Datunsolang, S.Pd, M.Si, Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Khristanto Nani, S.STP, MH, Kabag Kesra Syarif Monti S.Pd.I,
Penjabat Bupati Bolmut Sirajudim Lasena yang mengenakan jas hitam dan kain sarung berwarna merah duduk di barisan terdepan, tepat di belakang imam shalat Ied Yunus Rahman, serta sejajar dengan bilal Amir Lauma.

Khotib Hi. M. Yusuf Danny bin Medan Pontoh, S.Ag, MH, menyampaikan materi khutbah bertajuk “Idul Fitri & Pesan Perdamaian Pasca Ramadhan,”mampu dimaknai sebagai bagian dari petunjuk Allah SWT, yang sanantiasa disemayamkan di hati sanubari setiap insan beriman yang telah tercerahkan dengan rangkaian amaliyah Ramadhan dilakukan sekedar menggugurkan syarat ibadah saja, hanya menjadi sekadar ritual tahunan, mudik pulang kampung, memperteguh budaya konsumtif melalui kesibukan yang cenderung bersifat materialistik, dan tidak jarang justru mengabaikan nilai-nilai kebaikan yang konstruktif bagi kehidupan kita, dam lupa akan nilai-nilai perdamaian dan humanisme yang terkandung dalam muatan nilai-nilai esensial Idul Fitri itu sendiri, kata khatib yang juga Panitera Pengadilan Agama Boroko.
Khotib mengingatkan, dengan agenda Pemilu yang baru saja selesai, mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak sekedar melakukan sirkulasi dan ritual kekuasaan tanpa makna, tetapi kita semua harus memaknai bahwa demokrasi adalah sebagai sarana untuk menciptakan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera (baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur). Jangan sampai kita hanya sekedar menjadikan pemilu sebagai instrumen untuk melegitimasi kepentingan para elite, partai -partai politik dan kelompok tertentu.

Perayaan Idul Fitri yang sementara kita jalani saat ini adalah puncak dari rangkaian amaliyah yang kita lakukan selama sebulan penuh di bulan ramadhan, kita telah pahami bersama bahwa tujuan ibadah puasa yang kita lakukan, tidak hanya menahan diri dari lapar, haus, dan berhubungan seksual bagi pasangan suami istri di siang hari. Tapi lebih jauh dari itu, puasa adalah upaya bersungguh-sungguh dari seorang hamba Allah, untuk mengendalikan segala bentuk pikiran, perasaan, dan perbuatan dan tuntutan pemenuhan hawa nafsu yang berasal dari dorongan di dalam diri-diri pribadi kita sendiri, dan inilah yang dinamakan jihad akbar atau jihat paling utama. Rasulullah SAW bersabda :
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ
نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
“Jihat yang paling utama adalah seseorang berjihat atau berjuang melawan diri sendiri dan hawa nafsunya.”
Selanjutnya, ajaran Islam memandang puasa bukan semata-mata ibadah yang bersifat individual, akan tetapi ibadah puasa juga diposisikan sebagai ajaran universal, karena jika kita telusuri lebih saksama, pelaksanaan puasa hampir sama tuanya dengan peradaban manusia, dan secara nyata juga pernah dipraktekkan oleh pengikut agama-agama terdahulu sebelum Islam, sebagaimana ditegaskan Allah dalam S. Al Baqarah ayat 183 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Target utama disyariatkan ibadah puasa adalah untuk menjadi insan yang bertakwa, dengan syarat kita harus melaksanakan ibadah puasa dengan ikhlas dan mematuhi segala ketentuan syari’at puasa dengan benar, maka dengan demikian, melalui jalan suci ibadah puasa inilah; kedamaian, keamanan dan ketentraman hidup dapat tercipta, karena nafas ketakwaan telah berada pada frekwensi yang sama, dengan denyut nadi kepatuhan yang sesungguhnya, dari hamba-hamba Allah yang berpuasa.
Selanjutnya, ibadah puasa yang kita lakukan, tidak hanya untuk mengasah kesholehan ritual kita secara vertikal, tapi ibadah puasa juga mengirim pesan-pesan kemanusiaan secara horizontal kepada sesama manusia, dengan berbagi ifthor atau memberi makan orang berpuasa, mengeluarkan zakat mall dan zakat fitra, bersedekah kepada orang yang membutuhkan, sebagai sebentuk pola berbagi suka cita kebahagiaan bersama kaum fakir miskin, dan juga sebagai bentuk kepedulian kita, kepada mereka yang terpuruk pada penderitaan hidup yang tak berkesudahan, mereka hanya berharap sisa-sisa makanan, sisa-sisa belanja, bahkan ada sekilo beras dan beberapa bungkus super mie.
Demikian pula pesan kemanusiaan dan pesan damai Idul Fitri, harus sampai pula kepada saudara-saudara kita nun jauh disana di Ghaza Palestina, mereka telah menjalani ibadah puasa dalam balutan penuh rasa ketakutan dan kekhawatiran, nurani dan bathin mereka tersiksa, nilai-nilai dasar hidup mereka, dilenyapkan oleh genocida pembantaian manusia oleh tentara zeonish laknatullah’alaih.
Pesan kemanusiaan Idul Fitri tahun ini, menjadi penting bagi mereka. Bukankah Nabi Muhammad, SAW pernah bersabda :
وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ
“Allah sanantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya. (Hadits Riwayat Imam Muslim).
Selama lebih dari lima bulan terakhir ini, warga Ghaza Palestina, mengalami tekanan hidup diluar batas kemanusiaan, wabah penyakit, kelaparan dan kehausan, kehilangan orang-orang terkasih di tangan bengis tentara biadab zeonish Israel.
Kekerasan dan kebrutalan tentara zeonis Israel, tak terhenti atau berkurang seiring dimulainya Ramadhan. Keluarga-keluarga pengungsi Ghaza, harus menerima kenyataan untuk menghabiskan puasa bulan suci ramdhan, di tengah-tengah kekurangan pangan, kelaparan dan ketakutan dibawah desingan peluru dan dentuman bom.
Terlihat suara gembira anak-anak yang bermain di jalanan telah berganti dengan jeritan orang-orang yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Lingkungan yang penuh kehidupan damai, telah berubah menjadi kuburan masal para mujahid. Rumah-rumah ibadah telah berganti bentuk menjadi puing-puing berserakan, jalanan tidak lagi ramai. Orang-orang yang berpuasa di sana terpaksa melewati saatnya waktu berbuka puasa, hanya karena mereka tidak punya makanan dan air minum penghilang rasa lapar dan dahaga.
Keluarga-keluarga berkumpul bukan untuk saling menyapa dan menjalani buka puasa dengan berbagai menu takjil, namun untuk berduka bersama, atas kematian suami, istri, anak-anak dan bayi-bayi tak berdosa serta saudara-saudara yang mereka cintai.
Ramadhan di Ghaza berbalut air mata duka, tak terdengar kalimat marhaban ya ramadhan. Saat kita sibuk menyiapkan kue lebaran, saudara-saudara kita di Ghaza meregang haus, lapar dan dahaga, saat di sini kita menghirup bau guruhnya sajian lebaran, di sana yang tercium bau amis darah menebar dimana-mana.
Disaat kita sibuk menyiapkan baju lebaran, mereka sibuk menenun kain kafan untuk para syahid, saat ini tak terdengar ucapan “taqobballahu minna waminkum” di Idul Fitri, akan tetapi yang terucap dari lisan mereka adalah saudara-saudara kita seiman dan se-keyakinan di Ghaza Palestina adalah ungkapan duka merobek hati nurani, jeritan pilu menyayat hati anak-anak yatim piatu, bayi-bayi tak berdosa, yang ditinggal syahid orang tuanya.
“Wahai saudara-saudaraku seiman, maafkan kami atas kelalaian kami, maafkan kami atas ketidakberdayaan kami saat genangan air mata pilu yang mengenangi tanah perjanjian Palestina, maafkan kami atas ketidakadilan yang menimpa kalian dan kami tak mampu berbuat apa-apa, selain menyajungkan doa, Ya Allah selamatkan saudara-saudara kami… Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahi hamd.
Selanjutnya, dalam konteks negeri kita pasca pemilu saat ini, urgencinya adalah mewujudnyatakan “esensi kesholehan sosial”.
Ibadah puasa Ramadhan dalam format yang lebih substansial, yaitu menahan diri dari perasaan, berpikir, berperilaku dan tindakan -tindakan negatif lainnya, seperti rasa benci yang berlebihan kepada orang atau kelompok yang berbeda pilihan dalam madzab politik, menahan diri untuk tidak mem-posting status di media sosial yang bisa menyakiti perasaan orang lain, dan menahan diri untuk tidak menyebar hoax dan segala bentuk ujaran kebencian. Ketika selama sebulan lamanya kebiasaan-kebiasaan negatif itu mampu dihindari. Maka di sebelas bulan lainnya, semestinya kebiasaan ini akan hilang, atau minimal berkurang. Gandhi Goma (GG).





