Bolmong Utara, Sulutnews.com – Nagabonar adalah film komedi situasi tahun 1987 dari Indonesia yang mengambil latar peristiwa perang kemerdekaan Indonesia ketika sedang melawan kedatangan pasukan Kerajaan Belanda pasca kemerdekaan Indonesia di daerah Sumatera Utara. Selasa (10/06/2025).
Naga Bonar (Deddy Mizwar) adalah seorang pencopet di Medanyang sering keluar-masuk penjara Jepang, ia bersahabat dengan seorang pemuda bernama Bujang (Afrizal Anoda). Sepulang dari penjara, Bang Pohan (Piet Pagau) mengatakan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan di Jakarta, dan di Medan yang belum sempat dimerdekakan harus memperangi Belanda yang sudah memasuki wilayah Indonesia dengan maksud untuk berkuasa lagi.
Salah satu dialog dalam film ini “Apa Kata Dunia?” juga menjadi judul lagu soundtrack dari versi 2008 dari film ini yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw secara duet bersama Deddy Mizwar.
Film Nagabonar Jadi 2 memiliki banyak pesan moral, khususnya tentang rasa nasionalisme. Film ini menunjukkan perbandingan nasionalisme pada zaman Indonesia dulu (ketika zaman perang kemerdekaan) dengan situasi kehidupan saat ini.
Adegan selanjutnya adalah pecakapan antara Nagabonar dengan seorang supir bajaj yang bernama Umar. Nagabonar menyampaikan kritikan kecilnya tentang mengapa patung pahlawan saat ini kebanyakan berasal dari pulau Jawa.
Adegan ini sangat menarik dan memiliki fungsi besar untuk menyadarkan masyarakat tentang salah satu alasan besar terjadinya degradasi rasa nasionalisme, terutama bagi masyarakat di luar pulau Jawa.
Tak dapat kita pungkiri bahwa gerakan-gerakan separatis yang selama ini terjadi di Aceh, Maluku, Irian Jaya, serta di berbagai tempat lain dipicu oleh ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah Indonesia yang masih bersikap tidak adil.
Ketidakadilan ini tercermin oleh tidak meratanya pembangunan dan pendidikan. Film ini ingin menunjukkan bahwa pemerintah saat ini masih belum mampu berlaku adil dalam banyak hal, yang salah satunya adalah dalam pengungkapan sejarah, bila ketidakadilan ini tidak segera diatasi, maka nasionalisme masyarakat akan semakin terancam dan dapat berujung pada runtuhnya Indonesia secara keseluruhan.
Pesan yang paling menonjol terdapat pada adegan Nagabonar bergelantungan di patung Jendral Soedirman dan hormat di kompleks Tugu Proklamasi. Dalam petikannya, terdapat pesan yang secara eksplisit dari percakapan Nagabonar:
“Jendraaal (Jendral Soedirman), turunkan tanganmu. Siapa yang kau hormati siang dan malam itu? Apa karena mereka yang lalu lalang di depanmu memakai roda empat, Jendral? Bah, tidak semua dari mereka pantas kau hormati, Jendral. Turunkan Tanganmu!”
Pada saat itu Nagabonar dengan segala keluguan dan kecintaannya pada bangsanya memanjat patung itu dan berusaha menurunkan tangan patung Jenderal Sudirman. Adegan ini merupakan kritik besar bagi generasi saat ini.
Kalimat-kalimat nagabonar di atas seolah menyadarkan kita bahwa dulu para pahlawan kita telah memberikan cinta, pengorbanan, serta penghormatan tertinggi pada tanah air kita demi kelanjutan bangsa ini di tangan generasi penerusnya.
Namun yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Kebutuhan materi untuk kepentingan individu dan golongan, yang dalam hal ini dianalogikan lewat mobil-mobil beroda empat, telah mengalahkan paham nasionalisme yang mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan lain.
Inilah yang menjadi alasan banyaknya koruptor di negeri kita. Mereka menomorsekiankan kepentingan bangsa atas nama materi.
Meskipun demikian, film Nagabonar tidak hanya berhenti pada penciptaan adegan yang sarat moral. Penciptaan karakter-karakter dalam film ini juga banyak yang mendukung kentalnya film ini dengan nuansa kebangsaan. Salah satunya dengan ikon Nagabonar sendiri yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan mencintai budaya.
Dalam kondisi seperti ini, film Nagabonar jadi 2 menjadi sebuah kasus anomali. Film ini dengan kejeniusan pengemasannya telah sukses membawa pesan moral yang berat berupa nasionalisme.
Film yang mampu mengawinkan unsur estetika, hiburan, serta pesan moral berupa nasionalisme seperti pada film Nagabonar Jadi 2 inilah yang diharapkan untuk lebih intens dalam pembuatan dan pemutarannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, pemerintah dan para sineas perfilman Indonesia diharapkan mampu memaksimalkan kerjasama untuk pembangunan Negara dengan menciptakan karya film yang berkualitas.
Berkualitas tidak hanya dari sisi hiburan, melainkan juga mempunyai nilai-nilai moral yang mampu diambil oleh masyarakat Indonesia.
Opini publik sering membandingkan filosofi kemanusiaan yang adil beradab, bedanya Israel dengan Indonesia; Israel rebut lahan negara luar untuk rakyatnya. Indonesia rebut lahan rakyatnya untuk negara luar.
Kerusakan lingkungan hidup tambang nikel mengeruk isi bumi nusantara di berbagai penjuru sumber itu berada, termasuk di kepulauan yang terkenal dengan keindahan alam dan bawah lautnya, Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Pepohonan hutan nan rimbun di Pulau Kawei, misal, mulai terbabat. Alat berat merobohkan pepohonan, menyisakan tanah merah mengandung nikel yang jadi target.
Tambang nikel Raja Ampat, kerusakannya tak bakal pulih, aktifis Torianus Kalami, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sorong Malamoi, mengungkap permasalahan pertambangan nikel di Raja Ampat ibarat fenomena gunung es — akumulasi dari investasi di Indonesia yang mengabaikan lingkungan dan hak-hak masyarakat adat, serta mengabaikan proses transparansi di awal yang seharusnya melibatkan masyarakat secara substansial.
Ironinya para menteri ini masih dirangkul ke dalam kabinet merah putih.
Dengan demikian sinergi yang begitu baik antara unsur seni yang menghibur dan pesan moral yang disampaikan film Naga Bonar 2 memiliki peran besar untuk menyelamatkan bangsa.
Dengan beredarnya film-film seperti ini, masyarakat akan terbuka pemikirannya, bahwa rasa nasionalisme sangat penting bagi bangsa kita dan nasionalisme dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan. *** GG
DAFTAR PUSTAKA
~ Agusta, J. 2007. Separatisme, Nasionalisme NKRI Diragukan. http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3812[20 Mei 2008]
~ Amir, S. Penyegaran Kembali Nasionalisme. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/03/Bentara/1363295.htm [20 Mei 2008]
~ Anderson, B. 2001. Imagined Communities. Yogyakarta: Insist.
~ Aprilianto, E. Membangun Moral Nasionalisme dalam Era Modern Masyarakat Indonesia. http://echagain.multiply.com/journal/item/3/Membangun_Moral_Nasionalisme_Dalam_Era_Modern_Masyarakat_Indonesia[15 Mei 2008]
~ Darma, B. 2003. Pemuda Dulu dan Sekarang. http://www.d-infokom-jatim.go.id/news_pot.php?id=9&t=[20 Mei 2008]
~ Dault, A. Nasionalisme, Transisi Demokrasi Indonesia dan Krisis Multidimensi. http://tumoutou.net/702_07134/adhyaksa_dault.htm [ 15 Mei 2008]
~ Departemen Pertahanan RI. 2007. Penyegaran Kembali Nasioanlisme. http://www.dephan.go.id/modules.php?name=Feedback&op=viewarticle&opid=1390 [20 Mei 2008].








