
Bolmut, Sulutnews.com – Bell’s palsy adalah kelainan neurologis yang menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan pada satu sisi wajah. Kondisi ini terjadi ketika salah satu saraf yang mengendalikan otot-otot di wajah cedera atau berhenti bekerja dengan baik. Bell’s palsy adalah penyebab paling umum dari kelumpuhan wajah. Selasa (03/09/2024).
Gejala Bell’s Palsy meliputi:
* Kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada satu sisi wajah
* Alis dan mulut terkulai
* Mengiler dari satu sisi mulut
* Kesulitan menutup satu kelopak mata, yang menyebabkan mata kering.
Seringkali gejala-gejala ini menyebabkan distorsi wajah yang signifikan.
Orang yang hidup dengan Bell’s Palsy juga dapat mengalami:
* Nyeri wajah atau sensasi abnormal
* Air mata berlebihan di satu mata
* Masalah dengan rasa
* Toleransi rendah terhadap suara keras
* Nyeri di sekitar rahang dan belakang telinga
* Masalah makan atau minum
Dalam kasus yang jarang terjadi, Bell’s palsy dapat memengaruhi kedua sisi wajah. Gejala muncul tiba-tiba dalam jangka waktu 48 hingga 72 jam dan umumnya mulai membaik setelah beberapa minggu. Gejalanya bervariasi pada setiap orang dan bisa ringan hingga berat. Orang dengan Bell’s palsy biasanya dapat memulihkan sebagian atau seluruh fungsi wajah dalam beberapa minggu hingga enam bulan. Terkadang, kelemahan wajah dapat berlangsung lebih lama atau permanen.
Bell’s palsy disebabkan oleh masalah pada saraf kranial VII, yang juga disebut saraf wajah, yang menghubungkan otak dengan otot-otot yang mengendalikan ekspresi wajah. Saraf kranial VII juga terlibat dengan indra perasa dan pendengaran.
Siapa yang lebih mungkin terkena Bell’s Palsy?
Bell’s palsy dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin atau usia, tetapi paling sering menyerang orang berusia 15 hingga 45 tahun.
Faktor risiko adalah kondisi atau perilaku yang lebih sering terjadi pada mereka yang memiliki penyakit atau kondisi, atau yang berisiko lebih besar terkena penyakit, dibandingkan pada mereka yang tidak memiliki faktor risiko.
Faktor risiko Bell’s palsy meliputi kehamilan, preeklamsia, obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit pernapasan atas.
Penyebab pasti Bell’s Palsy tidak diketahui. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa peradangan dan pembengkakan saraf kranial VII terlibat, tetapi penyebab pembengkakan ini tidak jelas.
Pemicu yang mungkin dari Bell’s Palsy mungkin termasuk:
* Infeksi virus yang sudah ada (tidak aktif), seperti herpes simpleks atau varicella (cacar air)
* Gangguan kekebalan tubuh akibat stres, kurang tidur, trauma fisik, penyakit ringan, atau sindrom autoimun.
* Infeksi saraf wajah dan peradangan yang diakibatkannya menyebabkan gangguan seperti penyakit Lyme
* Kerusakan pada selubung mielin (lapisan lemak yang melindungi serabut saraf)
Bagaimana Bell’s palsy didiagnosis dan diobati?
Mendiagnosis Bell’s Palsy
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Mereka akan memeriksa kelemahan otot wajah bagian atas dan bawah di satu sisi wajah (termasuk dahi, kelopak mata, dan mulut) yang dimulai dalam 72 jam terakhir.
Selama pemeriksaan, dokter akan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari kelumpuhan wajah. Tidak ada tes laboratorium khusus untuk memastikan diagnosis Bell’s palsy.
Dalam kebanyakan kasus, pemeriksaan laboratorium atau pencitraan rutin tidak diperlukan. Namun, pemeriksaan ini terkadang dapat membantu memastikan diagnosis atau menyingkirkan penyakit atau kondisi lain yang dapat menyebabkan kelemahan wajah. Jika tidak ada penyebab spesifik yang dapat diidentifikasi, kondisi tersebut dapat didiagnosis sebagai Bell’s palsy.
Pemeriksaan pencitraan mungkin berguna jika terjadi perkembangan bertahap pada kelemahan wajah atau jika lebih dari sekadar ekspresi wajah, rasa, dan kepekaan pendengaran yang terpengaruh.
Elektromiografi dan studi konduksi saraf dapat membantu menentukan tingkat keparahan gangguan dan memberikan gambaran tentang kemungkinan seseorang untuk pulih. Tes laboratorium untuk penyakit Lyme dan virus lainnya dapat dipertimbangkan dalam memilih rencana perawatan.
Mengobati Bell’s Palsy
Perawatan umum untuk gejala Bell’s palsy meliputi obat-obatan, pelindung mata, operasi, dan terapi lainnya.
Steroid dapat diresepkan untuk Bell’s palsy yang baru muncul. Dalam kebanyakan kasus, steroid oral harus dimulai dalam waktu tiga hari sejak timbulnya gejala untuk mengurangi peradangan dan pembengkakan serta meningkatkan kemungkinan pemulihan fungsi saraf wajah. Beberapa orang dengan Bell’s palsy mungkin tidak merespons dengan baik atau tidak dapat mengonsumsi steroid.
Dalam beberapa kasus, obat antivirus dapat diresepkan sebagai tambahan steroid untuk membantu meningkatkan kemungkinan pemulihan fungsi wajah.
Orang yang mengalami nyeri akibat Bell’s palsy dapat menemukan kelegaan dengan mengonsumsi analgesik seperti aspirin, asetaminofen, atau ibuprofen. Untuk menghindari interaksi obat yang berbahaya, jika Anda sudah mengonsumsi obat resep, bicarakan dengan dokter atau apoteker Anda sebelum mengonsumsi obat yang dijual bebas.
Jika orang tersebut mengalami kesulitan menutup satu atau kedua kelopak mata, tetes mata atau penutup mata yang dilumasi dapat membantu menjaga mata tetap lembap dan melindunginya dari kotoran atau cedera, terutama saat mereka tidur.
Terapi fisik, pijat wajah, atau akupunktur dapat memberikan sedikit perbaikan pada fungsi saraf wajah dan rasa sakit. Dalam beberapa kasus, operasi kosmetik atau rekonstruksi mungkin diperlukan untuk memperbaiki senyum yang bengkok secara permanen atau kelopak mata yang tidak dapat menutup.
Apa saja perkembangan terkini mengenai Bell’s palsy?
NINDS, bagian dari National Institutes of Health (NIH), adalah penyandang dana federal terkemuka di negara ini untuk penelitian tentang gangguan neurologis. NINDS menjalankan dan mendukung program penelitian yang ekstensif untuk meningkatkan pemahaman kita tentang cara kerja sistem saraf dan apa yang terkadang menyebabkan sistem tersebut tidak berfungsi dengan baik.
Sebagian dari penelitian ini berfokus pada pembelajaran lebih lanjut tentang mekanisme saraf yang terlibat dalam gerakan dan kontrol wajah serta keadaan yang menyebabkan kerusakan saraf dan kelumpuhan wajah.
Penelitian ini dapat membantu para ilmuwan menemukan penyebab pasti Bell’s palsy, yang mengarah pada penemuan pengobatan baru yang efektif.
Para ilmuwan tengah mempelajari dampak operasi kelumpuhan wajah untuk memahami dampaknya terhadap fungsi dan kualitas hidup individu. Peneliti lain tengah mengevaluasi terapi potensial untuk masalah mata yang dapat terjadi pada orang dengan kelumpuhan saraf wajah. Dalam studi lain, para peneliti tengah meneliti stimulasi listrik untuk mengobati kelumpuhan wajah dan kelemahan saraf. ***
Sumber : https://www.ninds.nih.gov/health-information/disorders/bells-palsy





