Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Bolmut · 13 Mei 2024 00:34 WITA ·

Mengenang Kembali Sinopsis Naga Bonar


Mengenang Kembali Sinopsis Naga Bonar Perbesar

Bolmut, Sulutnews.com – Hingga kini, pahlawan di Indonesia sering kali digambarkan tanpa cela dan jauh dari kesan konyol. Namun, M.T. Risyaf dan Asrul Sani, sebagai sutradara dan penulis skenario film Naga Bonar, keluar dari zona lebay heroisme itu dengan cara mereka. Kedua insan film itu sukses menggambarkan pahlawan perang secara lebih manusiawi, dekat dengan kenyataan. Revolusi Indonesia diwarnai kekacauan, bukan kisah ala Mahabharata. Minggu (12/05/2024).

Banyak para pahlawan kemerdekaan yang yang tak tercatat dalam sejarah. Nama mereka tertutup kebesaran para tokoh kemerdekaan yang tampil di muka sejarah secara langsung. Dan, salah satu sosok yang dimaksud ada di tengah-tengah masyarakat Sumatera Utara bernama Timur Pane.

Kisah Naga Bonar yang dikisahkan Asrul Sani boleh saja fiktif, tetapi di masa mudanya Asrul Sani semestinya tahu seseorang bernama Timur Pane. Nama ini bisa dibilang Naga Bonar dalam kenyataan. Seperti halnya Naga Bonar, ia mengangkat diri sebagai jenderal mayor.

Nama Timur Pane disebut-sebut dalam buku sejarah soal revolusi di Sumatera Utara. Muhammad Radjab, dalam bukunya Tjatatan di Sumatera (1949), mengaku pernah bertemu langsung dengan Timur Pane.

“Badannya pendek kecil, mukanya separuh bagian bawah kebiru-biruan, matanya jaga dan liar,” tulis Radjab dalam buku, seperti dikutip dalam buku Sumatera Tempo Doeloe (2015:388-389).

Timur Pane termasuk tokoh yang ditakuti di Sumatera Utara bagian timur. Ia mengaku sudah banyak “menyembelih” orang di front pertempuran.

Masa lalu Timur Pane pun mirip Naga Bonar. Sebelum revolusi, mereka berdua mencopet. “Ia sendiri mengaku, bahwa dulu ia seorang pedagang jengkol, lada, dan sayur-sayuran di Pasar Medan, dan juga jadi bajingan dan pencopet,” demikian ditulis Radjab.

Selain itu, Timur Pane juga mendaku sebagai anggota partai Pendidikan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai PNI-Hatta. Dia terkait juga dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tak heran jika di masa revolusi dia menjadi bagian dari Nasional Pelopor Indonesia (Napindo). Sejak zaman Pertempuran Medan Area, menurut Jenderal Maraden Panggabean dalam Berjuang dan Mengabdi (1993:92), Timur Pane memimpin pasukan Napindo Naga Terbang. “Walaupun membawakan nama Napindo, tidak selalu patuh kepada pimpinan Napindo,” kata Maraden Panggabean.

Radjab menyebut Timur Pane kemudian memimpin laskar Barisan Marsose, yang anggota-anggotanya menghuni vila-vila dan bungalow-bungalow di Prapat. Nama Marsose dipilih tentu agar pasukannya terkesan sangar. Di masa perang Aceh, Marsose adalah pasukan andalan KNIL yang kejam terhadap lawan-lawannya.

Timur Pane mengaku punya pasukan yang kuat. Persenjataan mereka memungkinkan mereka bisa bertempur selama 18 tahun. Timur Pane juga mengaku pasukannya bisa menduduki kota Medan—yang kala itu dikuasai Belanda—hanya dalam waktu dua puluh empat jam saja.

“Sampai dimana kebenaran ujarannya ini belum dapat saya membuktikannya, tetapi pastilah berlebihan,” tulis Radjab.

Laku tak terpuji di kalangan orang-orang Republik pun banyak. Soal ini, Timur Pane mengaku bahwa banyak pemimpin di Sumatera Timur adalah kaki-tangan NICA Belanda, kelakuannya borjuis, suka mencabuli perempuan, gila harta dan lainnya.

Radjab pun belakangan membenarkan separuh dari yang dikatakan Timur Pane. Kekacauan era revolusi juga diwarnai saling sikut satu sama lain alias “cakar-cakaran” di pihak Indonesia sendiri.

Bertempur antar-pasukan Republik adalah hal biasa. Timur Pane bukan satu-satunya war lord di Sumatera Timur. Selain Timur Pane, ada Mayor Bedjo yang juga ditakuti. Ada kala mereka baik-baik saja, ada kala berseteru.

Timur Pane sendiri pernah berseberangan dengan sesama orang Republik. Suatu kali, ketika Wakil Presiden Muhammad Hatta datang ke Sumatera Timur, Timur Pane sedang berseteru dengan pimpinan laskar Gagak Hitam yang berafiliasi dengan Pesindo Jawa, Sarwono.

Sarwono pun ditangkap oleh pasukan Timur Pane. Bahkan Hatta mendengar bahwa Sarwono juga hendak dibunuhnya.

“Kupanggil Timur Pane ke tempat aku menginap dan kuperintahkan supaya Sarwono jangan dibunuh,” demikian Hatta dalam Mohammad Hatta: Memoir (1979:517).

Timur Pane, yang menurut Hatta loyal kepada PNI, manut titah itu. Hatta juga memberi perintah kepada Timur Pane untuk pergi ke Tapanuli ketika Timur Pane hendak menyerang kota Medan.

Kepada Hatta, Timur Pane juga pernah mengadukan Kolonel Hotman Sitompul yang tidak mau memberikan senjata kepada laskar. Hatta lalu menanyakan hal itu kepada Sitompul. Menurut Sitompul, ia melakukannya karena laskar suka bertindak sendiri-sendiri.

Menurut Sitompul, Timur Pane pernah melakukan tindakan sporadis itu. Timur suatu kali mengajak Letnan Kolonel Richard Siahaan untuk menyerang Medan. Sukses? Tentu tidak. Mereka tidak bisa mengalahkan tentara Belanda yang jelas terlatih dan kuat.

Meski ditakuti, kejayaan Timur Pane hanya sementara. Timur Pane yang tukang lucut, entah itu laskar atau polisi, akhirnya dilucuti juga oleh tentara.

Timur Pane dicopot dari kemiliteran, lalu namanya tenggelam sebelum revolusi berakhir di Sumatera Utara. Pada awal 1949, ia memimpin Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR). Belakangan, pada dekade 1950an, tak ada lagi jenderal bernama Timur Pane di Sumatera Utara. Yang ada ialah Tahi Bonar Simatupang atau Abdul Haris Nasution.

Nama Timur Pane tidak pernah disebut lagi dalam semesta ketentaraan, meski ada Yayasan Pendidikan Jenderal Timur Pane. Sumber : “The Real” Naga Bonar: Jenderal Mayor Timur Pane.” Sama-sama bekas copet. Sama-sama mengangkat diri menjadi jenderal mayor. Penulis: Petrik Matanasi, Terbit 2 Mar 2019. Tirto.id

Apalagi, film Naga Bonar dengan sutradara Asrul Sani, tahun 1987, membuat sosok ini semakin dikenal masyarakat Sumut, bahkan Indonesia.

Naga Bonar adalah film komedi situasi Indonesia tahun 1987 yang mengisahkan tentang seorang pencopet bernama Nagabonar (Deddy Mizwar) yang berpura-pura menjadi jenderal dalam pasukan kemerdekaan Indonesia di Sumatera Utara. Film ini berlatar di masa perang kemerdekaan Indonesia, ketika pasukan Belanda berusaha merebut kembali kendali di Sumatera Utara pasca-kemerdekaan.

Naga Bonar adalah seorang tokoh fiktif, tetapi dia menggambarkan tindakan patriotisme dan nasionalisme yang tinggi untuk membela negaranya. Film ini diakhiri dengan orasi Naga Bonar dan Kirana kepada pemuda Indonesia. 

Menurut Asrul Sani, sosok Naga Bonar diadaptasi dari kisah hidup Timur Pane, yang dicatat dalam sejarah sebagai seorang bandit sekaligus seorang pejuang kemerdekaan. 

Naga Bonar dan kawan-kawan adalah tokoh-tokoh yang umum di zaman revolusi. Di zaman kacau itu, ia mendaulat diri menjadi jenderal. Film dibuka dengan adegan Naga Bonar baru keluar dari penjara dan tak melewatkan kesempatan ketika melihat serdadu-serdadu Jepang. Dengan lihai, jam serdadu Jepang pun dicopetnya.

Ada pula Mariam, yang dengan ngawur dalam membersihkan mata-mata. Benar bahwa di masa itu intel Republik juga suka hantam kromo dalam menilai orang.

Wajar jika film yang dirilis pada 1986 ini disebut J.B. Kristanto, dalam Katalog Film Indonesia 1926-2007 (2007:285), sebagai “kisah kocak yang bernada mengejek kepahlawanan dengan latar belakang zaman perang kemerdekaan.” Kristanto juga menulis bahwa Naga Bonar digambarkan naif, putus sekolah, dan nekat.

SINOPSIS :

Naga Bonar (Deddy Mizwar) adalah seorang pencopet di Medan yang sering keluar-masuk penjara Jepang, ia bersahabat dengan seorang pemuda bernama Bujang (Afrizal Anoda).

Sepulang dari penjara, Bang Pohan (Piet Pagau) mengatakan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan di Jakarta, dan di Medan yang belum sempat dimerdekakan harus memperangi Belanda yang sudah memasuki wilayah Indonesia dengan maksud untuk berkuasa lagi.

Lewat narator radio, diceritakan penolong Naga Bonar ketika sakit, Dokter Zulbi yang merupakan teman Bang Pohan diperkirakan sebagai mata-mata Belanda yang ternyata itu hanya isu.

Naga Bonarpun menjadi tentara garis depan dalam perlawanan terhadap Belanda. Setelah beberapa perlawanan yang sengit, Naga Bonar dititahkan dari markas untuk mundur karena perundingan dengan Belanda mau dilaksanakan.

Perpindahan pasukan dari desa ke markas menjadi saat Naga Bonar mulai tertarik dengan anak Dokter Zulbi, Kirana (Nurul Arifin).

Pada perundingan Belanda dengan Indonesia, Naga Bonar yang menjadi wakil Indonesia justru menunjuk Parit Buntar sebagai tempat wilayah tentaranya (karena Naga Bonar tidak bisa membaca peta).

Juru tulis pasukan, Lukman, mengatakan bahwa Parit Buntar adalah tempat yang sudah diduduki oleh Belanda.

Setelah itu, Naga Bonar mulai mendekati Kirana dengan hasil yang memuaskan. Sehari setelah itu, Bujang mengambil baju jenderal Naga Bonar dan pergi ke Parit Buntar untuk melawan Belanda, naas, ia tewas. Naga pun sangat terpukul dengan kepergian sahabatnya dan akhirnya bersama dengan Kirana, dan pasukannya Naga pergi ke Parit Buntar untuk memusnahkan markas Belanda dan berhasil. Film diakhiri dengan orasi Naga Bonar dan Kirana kepada pemuda Indonesia.

SERBA-SERBI :

Salah satu dialog dalam film ini “Apa Kata Dunia?” juga menjadi judul lagu soundtrack dari versi 2008 dari film ini yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw secara duet bersama Deddy Mizwar.

Editor : GG

Sumber : https://historia.id/militer/articles/timur-pane-si-jenderal-bohongan-DnMng/page/2

Artikel ini telah dibaca 1,788 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puasa 1 Ramadhan 1447 H Dimulai 19 Februari 2026

18 Februari 2026 - 00:24 WITA

Prosesi Adat Mopohabaru / Mopotau Menjelang Awal Puasa Ramdhan 1447 H Bolmong Utara

14 Februari 2026 - 17:47 WITA

Lokasi Pembangunan Tambak Udang Vaname Di Biontong Ditinjau Lansung Direktur KKP Bappenas

13 Februari 2026 - 21:53 WITA

Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/Janji 68 Pejabat Manajerial Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolmong Utara

13 Februari 2026 - 16:15 WITA

Konsolidasi PW AMAN Sulut Guna Menelusuri Kearifan Lokal Komunitas Masyarakat Adat AMAN Kaidipang

7 Februari 2026 - 22:51 WITA

Dakwah Tanpa Mimbar: Cerita Musafir Pakistan yang Menginspirasi

6 Februari 2026 - 11:16 WITA

Trending di Adat Budaya